Menilik Kandungan Petai, Apa Manfaat dan Efek Samping nya?

Beberapa hari yang lalu di-telepon, ibu saya tiba-tiba menanyakan “Dek, pete itu kandungannya apa aja ya??” Hehehe random ya pertanyaannya. Hihi, iya ibu saya memang sesekali suka menanyakan pertanyaan-pertanyaan random yang ingin dijawab dengan serius, ilmiah. “Tolong ya dek, kirimin di whatsapp, kandungannya pete apa aja, trus sama efek sampingnya juga. Soalnya ibu denger dari mbak I, katanya pete bisa ngobatin benjolan sama hipertensi. Jadi ibu penasaran. Tolong ya dek cepetan.” Jadi, mbak I itu adalah sepupu saya yang notabene seorang pengusaha pete. Okelah tulisan kali ini saya persembahkan untuk ibu yang penasaran, suami yang penikmat pete, sepupu yang pengusaha pete, dan siapapun yang suka dengan biji hijau royo-royo ini ..

Petai, dalam bahasa latin disebut Parkia speciosa Hassk., adalah tanaman yang berasal dari Asia Tenggara. Di Indonesia, Malaysia, dan Singapura disebut petai atau pete, di Thailand sataw/ sator/ sadtor, u’pang di Filipina, dalam bahasa Inggris disebut stink bean.

Selama tinggal di Austria, saya belum pernah menemukan pete di supermarket. Hehe. Tapi di toko Asia, hampir selalu ada di dalam freezer (beku). Saya sendiri bukan penikmat pete, suami saya pecinta berat. Alhamduliillah, harga pete di sini sangat melambung, udah gitu toko Asianya ada di kota sebelah. Sirna sudah hasrat suami untuk belanja pete dari toko Asia. Yeayyy #eh.

Kebanyakan dari kita pasti tau biji petai dan kulitnya seperti apa, apalagi aromanya yang khas. Tapi mungkin tidak semua orang tau kalau pohonnya bisa tumbuh hingga 40 m tingginya. Menjulang.. baik akar, batang, kulit hingga bijinya (bagian yang dimakan) mengandung senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh, tetapi paling banyak memang berada di bijinya. Pernah dengar dari kawan, tetangga, atau majalah yang menyebutkan bahwa petai digunakan untuk terapi hipertensi, diabetes, cacingan, dan masalah ginjal (secara tradisional)? Pernah penasaran petai serius bisa nyembuhin penyakit dan kelainan tersebut? Kalau iya, pas banget karena alinea-alinea berikutnya akan membahas tentang ini. Kalau belum, semoga sekarang jadi penasaran (biar tetap dibaca.. hehehe).

Petai Kaya Nutrisi

Ternyata, petai memang mengandung banyak nutrisi dan senyawa kimia yang bermanfaat. Nutrisi yang terkandung dalam biji petai di antaranya protein, lemak, karbohidrat, mineral (banyak sekali jenisnya), dan vitamin (vitamin C, thiamin/ vitamin B1, dan alfa tocoferol/ vitamin E). Komposisinya bisa di lihat pada gambar tabel berikut :

nutrisi-petai

Nilai yang tertera pada tabel adalah hasil penelitian terhadap sampel petai yang dipanen dari Batang Kali Selangor Malaysia tahun 2013. Nilai yang tertera kurang lebih hanya sebagai gambaran, nilainya tidak akan persis sama untuk setiap petai yang dipanen di belahan bumi manapun karena tentu kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh si pohon petai juga berpengaruh pada hasilnya. Namun jenis nutrisi yang terkandung kurang lebih akan sama.

Petai juga Mengandung Berbagai Senyawa Kimia Potensial

Hampir semua senyawa kimia penting terdapat pada bijinya. Senyawa kimia potensial yang terkandung dalam petai di antaranya tannin (dalam konsentrasi tinggi. Selain pada biji juga terdapat pada kulitnya yang tebal), terpenoid, thiazolidine-4-carboxylic acid, flavonoid, alkaloid, polisulfida siklik, dan satu lagi yang paling menarik penamaannya djenkolic acid.

Terpenoid Membawa Efek Antihiperglikemia, Antikanker, dan Antinociceptive

Senyawa terpenoid yang terdeteksi ada pada petai meliputi β-sitosterol, stigmasterol, lupeol, campesterol, dan squalene. β-sitosterol dan stigmasterol adalah senyawa kimia yang memiliki aktivitas antihiperglikemia (menurunkan kadar gula darah). Lupeol memiliki aktivitas sebagai antikanker, antinociceptive (mengurangi rasa nyeri), dan anti inflamasi.

Tioproline turut serta Melawan Kanker

Tioproline adalah senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antikanker. Lagi-lagi antikanker. Senyawa tiopriline yang terdapat pada biji petai adalah tioprthiazolidine-4-carboxylic acid.

 

Petai juga Mengandung Flavonoid yang Memberikan Efek Antioksidan

Antioksidan dalam tubuh berperan untuk melawan stress oksidatif. Stress oksidatif merupakan kondisi tidak ideal yang terjadi pada sel tubuh, salah satunya proses detoksifikasi yang tidak sempurna. Stress oksidatif juga berperan pada banyak kondisi abnormal tubuh seperti tekanan darah tinggi, kanker, hiperbilirubinemia, ateroskeloris, diabetes, dan sebagainya. Rajin mengonsumsi makanan kaya flavonoid sama artinya dengan mencegah stress oksidatif terjadi pada sel tubuh kita, membantu menghindarkan kita dari berbagai macam penyakit.

 

Polisulfida siklik dalam Petai Menghambat Pertumbuhan Bakteri

Polisukfida siklik yang terkandung di dalam petai ada yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri, yaitu hexathionine dan trithiolaneBerdasarkan hasil penelitian, kandungan tersebut dalam petai memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri gram negatif seperti Helicobacter pylori, Escherichia coli, Aeromonas hydrophilaStaphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus anginosus, dan Vibrio parahaemolyticus. Tetapi tidak efektif menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhimuriumSalmonella typhi, Shigella sonnei, Citrobacter freundiiEdwardsiella tarda Vibrio alginolyticus, dan Vibrio vulnificus.

=======

Hmm, banyak juga ya senyawa obat yang dikandungnya. Apakah betul-betul bisa digunakan langsung untuk terapi? Sejauh ini saya belum menemukan data ilmiah terapi dengan petai untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu pada manusia. Informasi di atas diperoleh dari jurnal ilmiah yang penelitiannya dilakukan dengan menguji ekstrak petai (dalam berbagai jenis pelarut) terhadap binatang dan mikroba. Sementara untuk terapi pada manusia petai baru dilakukan secara tradisional dan belum terstandar.

Kita tentu harus ingat bahwa efikasi dalam mengobati penyakit atau kelainan tertentu salah satunya dipengaruhi oleh dosis. Berapa banyak petai yang diperlukan untuk bisa memberikan efek-efek tersebut? Apakah bila mengonsumsi petai dalam jumlah banyak sekaligus berharap salah satu efek bisa tercapai, apakah akan aman karena petai juga mengandung senyawa lain yang efeknya berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu hanya bisa dijawab dengan baik setelah melalui riset.

Yang pasti, petai memiliki potensi untuk bisa dikembangkan sebagai obat herbal terstandar, misalnya dengan diekstrak dan dipisah-pisahkan komponennya berdasarkan efeknya masing-masing, lalu diproduksi menjadi sediaan obat atau suplemen (misal dalam kapsul) yang memiliki dosis tertentu, teruji efek dan keamanannya. Ini adalah ranah ahli botani, farmasis bahan alam, industri obat, dan dokter.

Nah, hal yang lebih umum dari konsumsi petai adalah untuk kuliner, ya kan. Kebanyakan orang menghindari memakan petai karena “aroma khas”-nya yang sangat kuat. Sebagiannya justru menikmatinya. Yang berikut ini penting diketahui oleh para penikmat petai, efek samping yang bisa muncul

 

Senyawa Polisulfida Siklik dalam Petai Bertanggung Jawab terhadap Aroma dan Rasa Khasnya yang Kuat

Polisulfida siklik selain memiliki efek antibakteri, juga merupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aroma dan rasa khasnya yang kuat. Polisulfida siklik yang terkandung di dalam petai yang dimaksud adalah hexathionine, trithiolane, tetrathiane, pentathiopane, pentathiocane, dan tetrathiepane. Aroma dan rasa yang long last di mulut dan urin ini ya yang biasanya membuat orang tidak suka memakan petai, dan “menjaga hidung” sementara dari orang lain seusai memakannya. Hehe.

Tannin dalam Petai dapat Menghambat Proses Pencernaan Protein dan Asam Amino

Dibandingkan dengan sayur dan buah yang lain, petai mengandung tannin dengan konsentrasi tinggi. Tannin dapat menghambat proses pencernaan protein dan asam amino. Oleh karena itu, anak-anak tidak disarankan mengonsumsi petai karena absorpsi protein penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya.

Petai Menganung Djenkolic Acid, Senyawa yang… Toksik!

Petai juga mengandung senyawa yang namanya nyentrik, yaitu djenkolic acid. Djenkolic acid dapat mengkristal di dalam saluran kemih dan dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan sumbatan pada saluran kemih atau cedera ginjal akut. Djenkolic acid juga banyak terkandung dalam biji jengkol. Apakah memang karena itu dinamakan djenkolic acid? Hmm mungkin saja…

Djenkolic acid ini bisa berkurang kadarnya kalau direbus dulu sebelum dikonsumsi. Jadi, untuk menghindari efek samping dari makan petai pada ginjal, maka sebaiknya jangan dimakan mentah begitu saja, tetapi direbus dulu, dimasak, dan selalu ingat minum air putih yang banyak setelah makan petai. By the way.. setelah direbus, tentu ada beberapa senyawa larut air yang akan ikut hilang ya.. jadi mungkin saja manfaatnya akan berkurang. Paling tidak, kita mengurangi satu resiko berat pada saluran kemih dan ginjal kita. (kita? Saya kan ga makan petai. Hahaha)

====

Saya belum menemukan data ilmiah mengenai berapa rekomendasi maksimum konsumsi petai yang disarankan. Jadi menurut saya ya kembali lagi.. selama ginjal masih sehat, makan petai tidak berlebihan insya Allah aman-aman saja itupun sebaiknya direbus dulu dan disudahi dengan minum air putih yang banyak.. mm juga hargai orang lain yang tidak kuat dengan aroma nya. Hehehe.. Ngomong-ngomong berlebihan, memangnya berapa berlebihannya, itu dia yang masing-masing orang akan berbeda. Yang penting kenali dan perhatikan tanda-tanda efek samping yang muncul ya..

Referensi : Jurnal publikasi Parkia SpeciosaJurnal publikasi Djenkolic Acid.

Featured image : Petai

Baca juga :

Hendak ke Luar Negeri, Perlukah Vaksinasi TBE (Tick-Borne Encephalitis) untuk Mencegah Meningitis, Ensephalitis, dan Meningoensephalitis?

Mengenal Kuman, alias Pathogen, si Biang Penyakit

Mengapa Perlu Mengisi Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak?

Merkuri Oh.. Merkuri

Hendak ke Luar Negeri, Perlukah Vaksinasi TBE (Tick-Borne Encephalitis) untuk Mencegah Meningitis, Ensephalitis, dan Meningoensephalitis?

Sebelumnya ini sudah saya post di FB, ternyata respon teman-teman untuk mengshare lumayan juga, jadi saya pikir ada baiknya untuk di-share juga di blog.

Hari ini (25/01/2017) jadwal kami sekeluarga vaksinasi FSME (Fruehsommer-Meningoencephalitis) atau dalam bahasa Inggris disebut TBE (Tick-Borne Encephalitis). Karena daerah kami tinggal termasuk wilayah endemik. Vaksin ini salah satu ikhtiar untuk mencegah infeksi virus yang disebarkan oleh semacam kutu (di sini kutunya disebut Zecken atau Tick dalam bahasa Inggris).

Infeksi virus yang disebar oleh kutu ini bisa menyebabkan meningitis (radang selaput otak), ensephalitis (radang jaringan otak), atau meningoensephalitis (radang selaput dan jaringan otak). Imbasnya pada gangguan syaraf.

Beberapa bulan yang lalu salah satu teman kami terserang virus ini. Dan efeknya masih ada sampai sekarang. Bahkan menurut tim medisnya, sakitnya bisa bertahan menahun sampai 2 tahun atau lebih, bisa berkurang atau memberat. Ikut sedih lihat kondisinya. Kata dia, ketika sakitnya “kambuh” dia merasakan seluruh tubuhnya kesakitan. Selain itu, dia tidak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian lengan hingga jari-jari tangannya. Sebelumnya dia seorang pianis. Sejak terserang infeksi virus ini, dia tidak bisa lagi bermain piano, Bahkan sekedar mengetik di laptop nya atau menulis SMS juga kesulitan.  Tapi Alhamdulillah ikut senang. Sekarang kondisinya sudah membaik, sudah bisa berkarir lagi dan beraktivitas walaupun belum bisa main piano lagi dan juga belum se-fit dulu, masih kambuh-kambuhan. Capai sedikit, kambuh.

Di Austria vaksinasi FSME atau TBE belum digratiskan, baru ada subsidi sebagian dari pemerintahnya. Jatuhnya per orang di sini sekitar EUR 30-an sekian. Vaksinasinya rutin dengan jadwal : vaksin pertama, vaksin kedua 4 minggu dari yg pertama, vaksin ketiga 9-12 bulan dari yang kedua, vaksin keempat 3 tahun kemudian, selanjutnya setiap 5 tahun sampai berusia 60 tahun, di atas 60 tahun per 3 tahun. Vaksin ini untuk anak umur >1 tahun sampai dewasa. Kalau sudah vaksinasi rutin, insya Allah bisa mengcover 99%. Ga ada vaksin yang bisa 100% lah ya, ada campur tangan Tuhan di sana. Tapi insya Allah kalaupun kena setelah di-vaksin, ya tidak akan separah kalau kenanya belum di-vaksin.

Mahal ya, tetapi jika dibandingkan dengan dapat infeksinya pada saat kita belum di-vaksin, konsekuensinya lebih berat dibanding besar uang yang harus kita keluarkan untuk vaksin.

Saya senang dengan permisalan suami, vaksin itu ibarat kunci mobil. Mobil sudah dikunci rapat masih sering ada yang kecurian. Apalagi kalau mobilnya tidak dikunci, semakin mudah untuk dicuri.

Peta di bawah ini menggambarkan daerah endemik di dunia. Merah = TBE tipe Timur, Kuning = Tipe Barat, Orange = kedua-duanya. Selain merah, orange, kuning = bukan daerah endemik.

fsme-global-endemic-map

Alhamdulillah Indonesia saat ini tidak termasuk daerah endemik TBE. Jadi tidak perlu vaksinasi TBE. Hanya nanti perlu dipertimbangkan jika hendak berkunjung, sekolah, kerja atau pindah ke daerah endemik terutama di bulan-bulan Mei-Juni (musim semi), September (musim gugur). Apalagi jika akan berinteraksi dengan alam, main di taman, rumput, hiking, dll. Sebelum berangkat ke luar negeri, sebaiknya konsultasikan kepada dokter mengenai vaksinasi ini.

.

Referensi : reisemed.at , wikipedia.org

.

Baca juga :

Mengenal Kuman, alias Pathogen, si Biang Penyakit

Merkuri Oh.. Merkuri

Membuat Paspor untuk Bayi

 

Mengenal Kuman, alias Pathogen, si Biang Penyakit

Setiap hari, setiap saat, tanpa disadari kita berhadapan dengan kuman. Dalam bahasa mikrobiologi, kuman biasa disebut sebagai patogen. Patogen adalah sesuatu yang dapat menginfeksi tubuh kita dan membuat kita menderita penyakit tertentu. Patogen disebut juga mikroorganisme parasit. Pada saat kita berkontak langsung dengan patogen, maka bisa dikatakan kita terpapar patogen. Sementara jika patogen berhasil masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit tertentu maka dapat dikatakan kita terinfeksi patogen. Patogen tidak hanya menginfeksi manusia, patogen juga dapat menginfeksi hewan dan tumbuhan.

Di bawah ini adalah salah satu gambar hasil scan mikroskop elektron terhadap patogen yang di-publish di buku Microbiology of The Cells 4th edition karya Bruce Alberts dkk :
scan-mikroskop-kutu
Gambar A : Kutu, parasit yang sudah umum menjadikan mamalia menjadi inang, termasuk manusia, anjing, kucing, dan tikus. Kutu meminum darah inang. Gigitannya menyebarkan penyakit pes dengan memasukkan bakteri Yersinia pestis ke peredaran darah inang. Bakteri ini diperolehnya dari inang yang sebelumnya yang menderita penyakit pes.
Gambar B : Penampakan close up kaki kutu. Ini mengungkapkan bahwa kutu juga dapat dihinggapi parasit lain semacam tangau, di mana tungau ini (tampak di bawah mikroskop) diselubungi oleh bakteri. Sangat mungkin bakteri ini terparasitisasi oleh Bakteriofag yang merupakan virus bakteri.
Tubuh kita adalah ekosistem yang kompleks bagi patogen. Pada kondisi sehat, tubuh kita terdiri dari kurang lebih 1013 sel manusia dan 1014 sel bakteri, jamur, dan protozoa yang merepresentasikan ribuan spesies mikroba. Mikroba-mikroba ini disebut flora normal karena normal tinggal dalam tubuh kita. Flora normal biasanya tinggal terbatas pada area tubuh tertentu, seperti kulit, mulut, usus besar, dan vagina. Flora normal tidak menyebabkan penyakit pada manusia kecuali jika sistem imun tubuh melemah atau mereka masuk ke area steril pada tubuh. Misalnya ketika dinding usus manusia mengalami perforasi (berlubang) maka flora normal dapat memasuki rongga peritoneal (rongga perut) dan menyebabkan peritonitis (radang pada jaringan dinding perut bagian dalam).
Berbeda dari flora normal, patogen tidak harus menunggu sistem imun sel inang lemah atau terluka untuk dapat menginfeksi. Patogen memiliki mekanisme spesial untuk bisa menerobos barier sel dan biokimia manusia. Patogen juga mampu menstimulasi respon tubuh inang yang bisa membantu patogen tersebut bermultiplikasi menjadi lebih banyak.
Manusia hampir selalu terinfeksi oleh virus setiap saat. Akan tetapi, tidak selalu menimbulkan gejala yang tampak. Gejala yang muncul biasanya dihubungkan sebagai tanda suatu “penyakit” tertentu. Gejala seperti ini sesungguhnya merupakan manifestasi respon imun tubuh kita sendiri melawan infeksi. Misalnya seperti demam, bengkak, kemerahan, nanah, dan sebagainya. Gejala-gejala ini adalah tanda bahwa sistem imun kita sedang bereaksi untuk menghancurkan patogen yang menginfeksi tubuh.
Patogen itu sendiri meliputi :
1. Bakteri. Contoh : Neisseria meningitidis (salah satu bakteri penyebab meningitis), streptococcus (salah satu penyebab radang tenggorokan), dll.
2. Virus. Contoh : Hepatitis A Virus, Hepatitis B Virus,Hepatitis C Virus, dll.
3. Jamur. Contoh : penyebab kurap kaki, dll
Apakah paparan patogen akan menyebabkan infeksi atau tidak, ditentukan oleh :
1. Dosis : jumlah patogen yang memapar tubuh
2. Virulensi : kekuatan patogen yang memapar tubuh
3. Resistensi tubuh : kemampuan sistem imun tubuh untuk melawan patogen yang masuk.
Mengapa patogen senang menginfeksi manusia?
Patogen nenginfeksi manusia karena mereka mencari cara untuk bisa hidup dan berkembang biak menjadi lebih banyak. Sebagai inang, manusia kaya nutrisi, dan merupakan lingkungan yang hangat dan lembab, dengan suhu relatif seragam setiap saat, juga sel-sel tubuh yang selalu diperbaiki. Kondisi seperti ini mendukung berbagai patogen untuk bertahan hidup dan bermultiplikasi menjadi lebih banyak.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah infeksi patogen di antaranya adalah dengan melakukan vaksinasi, menjaga higienitas diri & lingkungan, menjaga makanan yang bergizi, olahraga teratur, serta istirahat yang cukup. Sementara bila sudah terlanjur terkena infeksi, jalani treatment yang sesuai dengan anjuran dokter dan tenaga kesehatan.
Referensi :
Sumber featured image : Jackcusumano
Baca juga :

 

 

Resep Muffin Coklat

Pertama bikin muffin coklat adalah dalam rangka belajar bikin kue-kuean manis buat sarapan. Karena suami suka muffin dan coklat, why not coba bikin muffin coklat. Cari-cari resep di internet, nemu yang mudah didapat bahan-bahannya. Setelah dicoba ternyata enak, semua suka, dan praktis, ga perlu mixer.  Langsung deh… catett.. hehehe.

Ini dia foto dan resepnya. Mudah-mudahan kebaca jelas.

kue-muffin

Sumber resep : http://www.gutekueche.at/schokoladenmuffins-rezept-2017

 

Fusili Keju Udang

Shock banget hari ini timbangan anak ga naik. Hikss.. Padahal bulan lalu naiknya membahagiakan. Curiga kalori makanannya kurang sebulan kemarin. Memang bulan ini dirinya lagi bosen keju-kejuan juga. Sedangkan bulan lalu, di makanannya, ya di lauk, ya karbo, ya sayur, hampir semuanya selalu ditambahin booster kalori, kalau ga keju ya santan, atau butter. Jadinya sebulan ke depan bertekad kembalikan keju dan santan ke piring. Lalu kita lihat hasilnya gimana. Yoossshh…

Tiba-tiba kepikiran bikin beginian buat merapihkan catatan resep pribadi, biar lebih menarik juga. Selama ini menu-menu favorit keluarga saya tulis aja manual di buku sakti. Hehe, tapi itu juga kalau lagi rajin aja. Semoga yang sekarang mah bisa lebih konsisten dan bermanfaat. Eh, semoga setelah di-post di blog ini bisa kebaca jelas juga. Aamiiin..

fusili-keju-udang

Menu ini simpel, praktis, bergizi, dan menarik buat anak. Kalau untuk anak saya, masih ditemani sup lagi di mangkok kecil di mejanya, supaya dia dapat juga asupan kaldu dan sari sayuran yang lain. Boleh lho kalau mau dicoba… hehehe.. 😀 😀

 

Toilet Training Jilid II Hari ke-3 “ALARM DAN JAM PASIR”

Yess Alhamdulillah hari ini kami lalui dengan lebih santai dan anak masih bisa dibujuk rayu dengan stiker dan mainan. Hari ini kami juga konsisten memberlakukan metode alarm dan jam pasir.

Diaper yang ‘menjaga’nya selama tidur saya lepas usai sarapan, cuci dan jemur baju anak yang terkena ompol. Setelah itu saya pasang alarm untuk 57 menit ke depan sebagai reminder untuk ke toilet.  Kenapa angkanya tanggung, wk3, kan kami menjadwalkan setap jam anak ke toilet. Kadang kami perlu waktu untuk membujuk, belum lagi kalau sudah di depan pintu toilet si anak gadis ini tiba-tiba kabur. Wkwkwk. Ditambah acara lepas celana dan naik ke potty rata-rata perlu 3 menit. Jadilah alarm nya per 57 menit bukan 60 menit.

Alarm ini beneran bikin kami orang tuanya jadi lebih santai. Stress berkurang. Kami tidak perlu sebentar-sebentar melirik jam dan mengingat-ingat jam berapa ya tadi terakhir pipis dan jam berapa nanti harus ke toilet lagi. Jadi lebih los. Yang penting jangan lupa alarmnya dipasang tiap habis pipis. He3…

Nah, ternyata alarm selain melegakan pikiran kami juga membuat anak kami dengan sendirinya lebih aware dengan jadwalnya ke toilet. Pada awalnya tiap alarm bunyi kami bilang, “aha! Waktunya ke toilet!”. Alarm berikutnya sering dia dulu yang merespon.

Tutututut tutututut tututut.. (Alarm berbunyi)
“Watunya apa tuh??” (Waktunya ngapain tuh?) Tanya anak kami yang sedang asik bermain.

Masih soal manajemen waktu, jam pasir kami pakai selama di toilet. Kebetulan anak kami memang pernah saya belikan benda kecil ini sewaktu untuk belajar gosok gigi. Sekarang ternyata berguna juga untuk TT.

Terkadang pipis tidak langsung keluar setelah anak duduk. Harus menunggu beberapa menit, atau bahkan memang belum waktunya keluar. Nah, perkara ‘menanti’ memang sering bikin galau kan. Itulah fungsinya jam pasir, menghalau kegalauan. Tepat setelah anak duduk di potty, saya balikkan jam pasirnya. Jadi kami hanya perlu menunggu sampai pasirnya habis. Sambil memandangi jam pasir, pasang stiker, nyanyi-nyanyi, ngobrol, supaya tidak bosan. Yap! Bisa juga sih pakai jam, ya kira-kira sampai semua pasirnya turun itu sekitar 3 menit. Tapi saya rasa jam pasir lebih seru.. apalagi untuk anak-anak kan..

Apa yang kami dapat setelah 3 hari TT?

Buat kami orang tuanya, TT itu melatih kesabaran. Hari pertama kami jelaskan ke anak, kalau mau pipis bilang ya, jangan di celana, tapi di toilet. Anak tampak mengerti tapi kok masih bocor-bocor terus?

Ya, dengan kami jelaskan seperti itu dia memang jadi paham pipis itu di toilet. Tapi ternyata pipis sendiri itu apa, kapan itu akan terjadi, kebelet itu bagaimana, justru itu yang belum dia pahami, dan itu sama sekali bukan suatu kesalahan. Wk3… aduh.. ya maaf saya sendiri sudah lupa dulu pas bayi gimana.. hehehe… jadi ya wajar masih bocor.

Nah berdasarkan pengamatan trainer TT newbie ini, di awal-awal kalau sudah duduk di potty dan ‘tidak terjadi apa-apa’ itu juga kadang karena dia masih terbiasa dengan pipis bukan di potty. Jadi sampai sekarang kalau sekitar 3 menit jam pasir di potty belum juga keluar pipisnya, saya persilakan dia jongkok di shower room, maksimal 3 menitan juga, kalau lama-lama kan ya capek dan bosen kali ya. He3.

Saya percaya bahwa anak adalah peniru ulung. Jadi ya pelajaran dengan contoh real biasanya anak lebih cepat paham. Paham kan maksudnya.. hehe iya… diajak pipis bareng..

Alhamdulillah hari ini 7x pipis, 4 nya sudah di toilet. Tapi yang 4 ini masih karena jadwal. Bukan karena dia sudah ngeh ‘aku kebelet pipis’ terus bilang mau ke toilet. Wkwkwk.. perjalanan masih panjang tampaknya.. sabarrr semangattt 💪💪💪

Toilet Training Jilid II Hari Ke-2 “MAINAN KECIL DAN STIKER LUCU”

TT pagi ini dimulai setelah kami selesai rutinitas sarapan pagi ditambah kegiatan baru : cuci dan jemur baju-baju yang kena ompol hasil TT seharian kemarin. Setelah itu diaper anak baru deh dilepas supaya agak ‘selow’ dulu selepas bangun tidur. Sarapan tenang hatipun nyaman… 😁

Rupanya dua hari ini kami bertiga cukup beruntung karena kok kebetulan anak selalu pupup pas diaper masih dipakai. Hehe Alhamdulillah jadinya bisa fokus dulu sama training pipis.

Training hari ini dimulai dengan anak yang pipis pas lagi mandi pagi. Yeyeyey! Gini kan jadi semangat dan gampang ngitung waktunya. Sama seperti kemarin, setiap jam anak dijadwalkan ke toilet. Kali ini bundanya sudah lebih siap mengantongi beberapa trik bujuk rayu supaya dia mau diajak ke toilet.

“Wah! Waktunya ke toilet! Ayuk.. ayuk..”
“Nein, bunda!”
“Eh, ayo kita bawa kugel bahn nya ke toilet” langsung angkut mainan kugel bahn nya, bawa ke toilet dengan harap-harap cemas dia ngikutin di belakang. Tapi ternyata berhasil (ngajak anak ke toilet) dengan cara ini. Meskipun eng ing eng… belum keluar pipisnya di toilet dan akhirnya bocor habis itu di celana. 😁

Sesi ke-2 ternyata cara tadi ga berhasil. Putar otak, muncullah ide lain.

“Ayo kita ke toilet, pipis trus nanti main binatang laut sama air!”
Yes… bunda menang lagi. Dia mau diajak ke toilet. Ya jadinya main air deh. Tapi masih sama belum beruntungnya, yang ditunggu-tunggu malah keluarnya setelah sudah pakai celana lagi 😅

Sesi ke-3 syukur deh ga perlu pakai iming-iming main air seperti sebelumnya. Suamiku pahlawanku datang tepat waktu. Dia pulang membawa stiker-stiker lucu. Langsung deh itu jadi andalan buat ngajak anak ke toilet. Kalau mau ke toilet, boleh tempel satu stiker di kamar mandi. Kalau pipis di toilet, boleh tempel satu lagi.

Hari ini saya lebih santai sih meskipun accidents masih banyak terjadi. Saya lebih santai setelah baca curhatan teman-teman sesama emak-emak tentang pengalaman TT anak mereka. Ada yang cepat lulus, ada yang butuh berbulan-bulan, ada yang tiba-tiba anaknya mundur lagi padahal sudah lulus TT, ada yang GDD jadi TT nya terlambat dan harus super sabar. Kemarin saya dan suami benar-benar meraba-raba sampai-sampai sempat kesal ke anak karena bocor-bocor terus. Huhu maafkan kami ya sayang. Ini TT anak pertama yang belajar bukan cuma anak tapi orang tuanya juga.

Hari ini sampai lepas sholat isya masih saja bocor. Si bocah sedang pura-pura tidur di sofa ketika kami mengakhiri solat dengan salam. Oleh bapaknya dieluslah kepalanya, maksud hati supaya tidur sekalian. Ga taunya malah bangun, turun dari sofa dia berdiri dan bermain-main. Saat dia ga pakai diaper, mata saya selalu sibuk mengamati bagian belakang celananya. Dan hyaa basah. Rupanya dia ngompol saat pura-pura tidur di sofa, ada jejaknya. 😌 Kalau dirangkum pencapaian TT hari ini, 1x berhasil pipis di toilet, 6x berturut-turut bocor.

Ahh.. saya jadi ga semangat deh.. tapi tetap menguatkan diri alasan kemarin mulai TT kan karena dia sudah sering menolak pakai diaper. Dengan ogah-ogahan saya bilang ke suami, “Aqila pipis tuh.”

Karena bagian kakinya tampak kering, saya minta dia pergi ke toilet sendiri untuk lepas sendiri celananya dan tunggu saya datang untuk menceboki. Kamar mandi adalah kamar mandi kering, jadi insya Allah aman. Lucunya anak saya seperti kaget tau celananya basah, dia segera lari ke toilet. Selesai membereskan alat solat kami berdua menyusul ke toilet masih dengan tidak bersemangat. Begitu membuka pintu, alamak kaget saya. Saya pikir dia sedang di dalam ruang shower melepas celananya yang basah kena ompol. Ternyata dia tidak di sana. Dia sedang duduk di atas closet dengan celana legging yang sudah terbuka, CD masih terpakai, dan wajah memantu ke arah closet, mungkin menunggu pipis nya keluar padahal sudah keluar duluan di celana. Hihihiii… saya jadi berbunga-bunga. Semangat saya bangkit lagi. Yesss dia memang sudah siap untuk TT.

Entahlah kenapa tiga sesi toilet berikutnya selalu berhasil dan tak ada bocor lagi malam itu sebelum tidur. Alhamdulillah.. malam ini bisa tidur nyenyak… 😀

image

Smiley kuning yg lagi senyum di atas toilet = pipis pada tempatnya
Smiley biru yg lagi nangis = pipis di celana 😁

2nd day : still so many accidents. Tp Alhamdulillah smiley kuning nya nambah banyak jg.
Mudah2an besok lebih baik lagi 🙂

You did it great my little princess! Met istirahat ya sayang.. bobo nyenyak.. charge energi sampai full buat besok. Heehe.. 😙😙

#potty_training #hari_2 #toilet_training

Toilet Training Jilid II Hari ke-1 “SEMUA MASIH MERABA-RABA..”

Hari ini kami mulai toilet train anak kami yang berusia 26 bulan. Ini training yang kedua sebenarnya. Yang pertama sekitar 2,5 bulan lalu tidak berhasil. 😅

Hari pertama training yg kedua ini sebenarnya sudah jauh lebih baik dari yg sebelumnya. Dia konsisten sekitar satu jam sekali pipisnya. Yang sebelumnya dalam satu jam bisa pipis berkali-kali. Wkwkwk. Hari ini so far sudah 7x pipis, 6 di antaranya accidents 😂  Masalahnya adalah dia tidak mau diajak ke toilet 😫 Padahal sebelumnya sangat tertarik untuk ke toilet, sekedar duduk-duduk di atas potty. Eucht.

Usaha yang sudah dilakukan hari ini :
1. Memujinya setelah berhasil pipis di toilet, yang rupanya itu keberhasilan pertama dan terakhir di hari ini 😅
2. Mengajaknya memasang stiker keberhasilan (aslinya ini print-an gambar smiley duduk di atas toilet, yang dipotong kecil-kecil, difungsikan kayak stiker. Kalau dia berhasil, olesin lem, tempel di tabel potty training.)
3. Tak henti-hentinya mengingatkan, memastikan dia mengerti, dan menawarkan ke toilet setiap menjelang jamnya untuk pipis.

Sementara yang terjadi adalah :

Sehabis pipis…

“Aqila.. nanti kalau mau pipis bilang dulu ya, ditahan, kita pipis di toilet. Jangan pipis di celana, di toilet aja, biar celananya engga basah, jadi tetap nyaman” (serius deh, dia udah paham arti nyaman. He3…)
“Yaa”
“Pinter. Bilangnya gimana?”
“Bundaa mau pipiis”

Bunda dan bapak pun tersenyum bangga.

Menjelang satu jam kemudian..

“Qila udah mau sejam nih, yuk pipis di toilet dulu”
“Ndak! Ndak!”
“Aqila mau pipis?”
“Aqila ndak mau pipis”
“Oke. Nanti bilang ya sebelum pipis, kita ke toilet.. (BELUM SAMPAI MINGKEM, TIBA2 UDAH BASAH)”

Dimulai dengan ketawa ketiwi bersama suami pada accident yang pertama, diakhiri dengan cemberut berjamaah di accident ke-6, terakhir sebelum dia tidur. Saat tidur, kami masih pakaikan dia diaper.

Ahhh pe-er banget ini membuat rayuan maut supaya dia mau dibujuk ke toilet.

Sejauh ini yang sudah terpikirkan (yang tadi ga sempat terpikirkan…)
1. Tawarkan ajak satu dari mainan-mainannya : si Mbak, dedek, Habibi, Teddy Bear, atau mainan lain ke toilet
2. Tawarkan pasang sticker lucu di toilet. Yang ini masalahnya belum ada hehehe… nunggu besok bapaknya beli dulu setelah solat Jumat.
3. Belum kepikiran ide lain….

Jadi ingat moto sahabat saya waktu SMA.. “Jalani hidup dengan senyuman ^_^”. Mudah-mudahan hari esok lebih baik dari hari ini… 💪💪