German Conversation Winter Semester 2016 #1st_day

Deutschkonversation Wintersemester 2016 #erster_Tag

Winter semester sudah dimulai sejak September yang lalu. German Conversation pun dimulai lagi. Ini adalah salah satu kegiatan sosial dari Leoben United Friends Team, komunitas informal yang merangkul semua warga asing yang punya aktivitas di Leoben. Native speaker nya adalah volunteer, tidak dibayar. Setiap peserta yang ikut juga tidak perlu membayar, hanya perlu menggantikan 10 sen untuk setiap lembar kopi modul singkat yang dibagikan. Rata-rata per hari maksimal 3 lembar atau bisa kurang atau kadang tidak ada kopi modul sama sekali.

Sama seperti tahun yang lalu, tahun ini diselenggarakan di Kulturbundraum Leoben (Gedung Federasi Budaya kota Leoben), setiap hari Kamis pukul 17.00 – 18.00 untuk Anfänger (Beginners) dan 18.00-19.00 untuk Fortgeschrittene (Advanced).

Germankonversattion bukanlah kursus Bahasa Jerman. Ini hanya semacam wadah bagi warga asing yang ingin melancarkan kemampuan berbicara Bahasa Jerman dengan baik. Native speaker akan selalu memancing setiap peserta untuk berbicara panjang dalam Bahasa Jerman, lalu mengoreksi jika terdapat kesalahan, menjawab jika ada yang ingin tahu, dan memberikan cerita tentang budaya-budaya di sekitar Austria, Jerman, dan negara-negara lain di Eropa. Setiap pertanyaan harus dalam Bahasa Jerman, penjelasan juga dalam Bahasa Jerman. Kalau sudah benar-benar kesulitan, Bahasa Inggris boleh digunakan.

german-conversation
Sumber : FB Group LUFT (https://www.facebook.com/groups/207051819309184/?fref=ts)

Setiap pertemuan akan memperbincangkan topik tertentu. Misalnya, hari pertama kemarin adalah sesi perkenalan dan menceritakan pengalaman liburan musim panas.

Native speaker-nya adalah Mag. Christa Marthin. Beliau adalah seorang ibu pengajar yang berasal dari Dresden, Jerman dan sudah berpengalaman selama 40 tahun mengajar Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris. Saat ini beliau sudah pensiun dari pekerjaannya, tetapi masih aktif mengajar untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti Deutschkonversation ini, mengajar bahasa untuk anak-anak yang memiliki “keterbatasan” mental, mengajar bahasa Jerman untuk pengungsi Timur Tengah, dan lain-lain.

Erster Tag – Anfänger

Hari pertama setiap peserta memperkenalkan diri dalam Bahasa Jerman, diawali oleh Frau Christa Martha yang memberikan contoh. Setiap orang setidaknya dalam perkenalannya dapat menjawab semua pertanyaan berikut :
1. Wie heißen Sie? (What is your name?)
2. Woher kommen Sie? (Where do you come from?)
3. Wie lange sind Sie in Österreich? (How long have you been in Austria?)
4. Wo wohnen Sie? (Where do you live?)
5. Seit wann lernen Sie Deutsch? (Since when have you learned German?)
6. Sind Sie verheiratet? (Are you married?)
7. Haben Sie Kinder? (Do you have children?)
8. Was machen Sie gerne in Ihrer Freizeit? (What do you do in your holiday?)
9. Was ist Ihr Lieblingsessen? (What is your favorite food?)
10. Was essen Sie gar nicht gerne? (What food you don’t like at all?)

Hallo. Ich heiße Vidyasari. Ich komme aus Indonesien. Mein Name besteht aus nur einem Wort. Das ist Vorname. Ich habe keinen mittleren Namen und keinen Familiennamen. Das ist normal in Indonesien, nicht wie hier, dass jedermann Familienname haben sollte. Ich komme hier, um meinen Mann zu begleiten. Er erhält Stipendium des ÖAD zum Doktorat in Uni. Seine Abteilung ist Wirtschaftsgeologie. Wir haben eine Tochter. Sie ist jetzt zwei Jahre alt. Ich und meine Tochter sind hier seit einem Jahr, sechs Monate nachdem mein Mann hier angekommen. Ich bin eine Apothekerin. Hier muss gut Deutsch sprechen können, zu arbeiten oder Magister zu studieren. Deshalb lerne ich Deutsch und versuche so viel wie möglich zu üben. Ich möchte auch soziale Kontakte mit dem Bürger auf Deutsch machen. Ich habe Deutsch seit 15 Monaten gelernt. Aber ich habe auf Deutschkurs nur für zwei Monate besucht. Ich lese, wandere, reise, koche, und schreibe gerne. Rührei ist mein Lieblingsessen. Ich mag kein Essen, das zu scharf ist.

(*)

Erster Tag – Fortgeschrittene

Setelah perkenalan singkat, pada sesi ini tiap orang diminta untuk menceritakan liburan musim panasnya secara bergiliran, dengan bantuan beberapa kata kunci yang sudah tertulis pada potongan kertas kecil. Satu potong kertas, satu kata kunci. Kata kunci yang sudah digunakan oleh orang sebelumnya tidak boleh digunakan lagi oleh orang sesudahnya, kecuali jika tidak ada lagi yang sesuai.

Cerita dimulai dengan “Dieser Sommerurlaub war….” (this summer holiday was…)

dscn8758lalalalalalalalala
Dieser Sommerurlaub war…

Kata kunci :
abenteuerlich (adventurous)
anregend (stimulating)
erstaunlich (amazing)
belastend (burdensome)
ermüdend (tiring)
bedrohlich (threatening)
traurig (sad)
schön (beautiful)
langweilig (boring)
zu lange (too long)
zu kurz (too short)
interessant (interesting)
heiß (hot)

Dieser Sommerurlaub war…

interessant. Dieser Sommerurlaub wurde durch Eid Mubarak Feier begonnen. Ich habe es mit anderen Indonesischen-Moslems, die in Österreich leben, gefeiert. Wir haben in Indonesien Botschaft für Wien gefeiert. Die Botschaft hat Indonesischen-spezielle-Kulinarisch für Eid zur Verfügung gestellt.

Aber drei Tage danach, muss meine Tochter im Krankenhaus behandelt werden. Sie hat akuter Halsschmerzen gehabt. Es war sehr hart, damit sie nicht trinken und essen wollte. Da war sie dehydriert. Sie ist fünf Tage im Krankenhaus geblieben. Das war traurig. Gott sei Dank, war sie endlich gesund nach dem vier Tage.

Danach sind ich und meine Tochter auf dem Drei Zinnen gewandert. Die Landschaft entlang des Wanderweges war sehr schön. Wir haben es wirklich genossen. Das Wetter war warm, nicht zu heiß, nicht zu kalt. Sehr schön. Das war wirklich abenteuerlich, erstaunlich, schön und interessant.

Dieser Sommerurlaub war auch ermüdend, weil wir umgezogen sind. Wir haben unsere neue Wohnung und den Geburtstag unserer Tochter zusammen gefeiert.

Zum glücklich, gibt es eine größte Airshow in der Provinz. Es war wirklich erstaunlich, entweder die Show und das Publikum.

Leider ist meine Tochter noch einmal im Krankenhaus geblieben. Diesmal wegen starkem Erbrechen und Durchfall, verursacht durch Rotavirus. Fünf Tage im Krankenhaus. Zwei Tage später hat mein Vater in Indonesien einen Unfall bekommen. Er hat mittlere Kopfverletzung bis zum Koma. Die waren wirklich traurig. Gott sei Dank, jetzt meine Tochter ist gut und mein Vater wird immer besser nach Gehirnchirurgie.

Dieser sommerurlaub ist durch Ausflug nach Innsbruck beendet worden. Wir sind nach Innsbruck gefahren, weil mein Mann als Sprecher in einer Konferenz eingeladen wurde. Sein Departement hat alle Kosten der Unterkunft für Sprecher und Familie bezahlt. Während mein Mann an der Veranstaltung teilgenommen hat, sind ich und meine Tochter auf dem Nordkette-Berg gewandert, Alpen Zoo besucht, und auch um die Stadt herum gegangen. Es sollte 100 % interessant sein, aber es war nicht. Ich konnte nicht die Reise genießen, während mein Vater kämpfte gegen seine Chirurgie Rehabilitation.

So viele Dinge sind passiert. Dieser Sommerurlaub war interessant, abenteuerlich, erstaunlich, schön, aber auch ermüdend und traurig.

(*)

*Struktur kalimat berbahasa Jerman dan penulisannya tidak dijamin kebenarannya 100%, karena ditulis semata-mata hanya sebagai latihan. Harap maklum dan menerima koreksi dengan tangan terbuka bila ada yang kurang tepat. Terimakasih ;);)

Mengapa Perlu Mengisi Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak?

dscn8701Pastikan Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak kita terisi dengan lengkap ya setiap kali kunjungan ke dokter. Ingatkan dokter jika beliau lupa. Seringkali sulit bagi kita mengingat informasi medis dan tumbuh kembang anak yang penting di kemudian hari, apalagi jika anak kita kemudian memiliki adik, dan adiknya punya adik lagi, dan seterusnya. Hehe. Juga, seringkali di ruang tunggu praktek, sedang menunggu anak kecil lain yang kesakitan. Informasi cepat dan akurat di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak akan mengurangi waktu yang terbuang karena kita harus mengingat-ingat informasi detail di masa lalu. Pemeriksaan jadi efisien, efektif, tapi menyeluruh terhadap anak kita.

Yuk, kita bantu ciptakan pelayanan kesehatan berkelanjutan dan menyeluruh untuk anak-anak kita. 💪:)💪

Sekitar 3 bulanan yang lalu, datang surat dari Eltern Kind Information Service (Layanan Informasi Orang Tua dan Anak dari pemerintah Austria) ke alamat kami. Isi surat tersebut adalah reminder jadwal untuk pemeriksaan tumbuh kembang oleh dokter spesialis anak untuk anak-anak usia 22-26 bulan. Pemeriksaan tersebut gratis untuk setiap anak yang memiliki ijin tinggal di Austria.

Setelah sempat tertunda karena anak saya terserang Rotavirus, akhirnya pekan lalu saya dan anak bertandang ke tempat praktek dokter spesialis anak. Baik resepsionis, asisten dokter, maupun dokter anaknya, semuanya menanyakan apakah saya memiliki “Mutter-Kind-Pass”, Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Austria. Saya katakan tidak, karena anak saya lahir di Indonesia, sembari menyerahkan buku serupa yang saya dapatkan setelah persalinan di Indonesia.

Dokter dengan telaten membolak-balik satu-persatu halaman dari awal hingga akhir. Sepertinya agak sedikit kecewa karena tidak semua informasi yang beliau cari tertulis di buku atau mungkin juga justru terkesima pada gambar-gambar karikatur di setiap halamannya, who knows 😀 Tapi beliau sempat bermonolog mengapa tabel-tabelnya dibiarkan kosong tidak terisi (tabel bagian pemeriksaan selama hamil dan pasca melahirkan).

Rupanya informasi-informasi berikut ini yang beliau inginkan (yang selalu didokumentasikan oleh dokter kandungan dan dokter anak di dalam Mutter-Kind-Pass) :

1. Hasil pemeriksaan selama kehamilan, termasuk hasil tes lab dan USG
2. Medikasi apa saja yang ibu jalani selama hamil
3. Catatan persalinan
4. Hasil pemeriksaan bayi seketika setelah lahir
5. Hasil pemeriksaan ibu selama masa nifas, termasuk medikasi dan imunisasi terhadap ibu
6. Hasil pemeriksaan tumbuh kembang bayi berkala yang pernah dijalani sebelumnya (termasuk di antaranya berat & tinggi badan, serta lingkar kepala)
7. Rekam vaksinasi

Di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak milik saya (diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia) sebenarnya ke-tujuh poin tersebut sudah ada form, tabel, maupun chart nya. Namun, hanya bagian Catatan Persalinan, Rekam Vaksinasi, dan Grafik Berat Badan bulanan saja yang terisi. Lainnya kosong, baik hasil pemeriksaan selama hamil maupun pemeriksaan tumbuh kembang.

Bagian pemeriksaan hamil memang dibiarkan kosong karena diisi di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak dari RSIA Hermina Pasteur (selama 8 bulan pertama kehamilan saya tinggal di Bandung). Setelahnya hingga persalinan berada di Wonosobo. Nah, di bagian pemeriksaan tumbuh kembang, memang pada saat itu, hasil pemeriksaan tumbuh kembang anak saya di Indonesia selalu dilakukan berbarengan dengan vaksinasi. Rekam tumbuh kembang dicatatnya hanya di rekam medis dokter dan kepala saya, tidak dicatat di buku. Yang dicatat hanya rekam vaksinasi dan berat badan anak.

Selama di Indonesia, vaksinasi sekaligus konsultasi tumbuh kembang anak saya sempat dilakukan di 3 kota yang berbeda. Jadi, 3 dokter anak yang berbeda. Pada saat pemeriksaan sudah terbiasa dengar pertanyaan-pertanyaan tentang “masa lalu”, seperti kapan tumbuh gigi pertama kali, merangkak, jalan, makan, tinggi badan saat umur sekian, sakit atau sehat ketika chart berat badan turun, riwayat sakit, dsb. Kadang terjawab dengan lancar, kadang hanya perkiraan karena tidak mungkin bisa ingat semuanya dengan detail. Informasi kira-kira ini sepertinya sudah jadi hal yang biasa dan dimaklumi. Mungkin juga karena anak saya Alhamdulillah tidak memiliki tanda kelainan apapun. Tapi ketika sesuatu tidak diharapkan terjadi, misal seperti kok beberapa bulan yang lalu berat badan di grafik KMS turun drastis. Apa yang terjadi waktu itu secara medis, konsultasi dengan dokter hanya bisa menghasilkan kesimpulan mentah karena data aktual hanya “di awang-awang” pada saat konsultasi.

Berbeda ketika hal serupa dilakukan di sini. Mungkin juga karena informasi demikian seharusnya tidak perlu dikira-kira karena tinggal dibuka di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak seandainya saja setiap konsultasi selalu terdokumentasi. Tenaga kesehatan di sini sudah terbiasa mendapatkan semua informasi tumbuh kembang yang diperlukan dari Mutter-Kind-Psss, sehingga jika terdapat ketidaksesuaian tumbuh kembang bisa terdeteksi dan diantisipasi resiko beratnya sejak dini. Pernyataan yang saya bold tertulis di Mutter-Kind-Pass.

Akhirnya, dokter memberikan saya Mutter-Kind-Pass terbitan kementerian kesehatan Austria itu, dan meminta saya mengisikan sendiri hasil-hasil pemeriksaan yang umum selama di Indonesia ke kolom-kolom yang ada, misalnya seperti perkembangannya, riwayat sakitnya, dll yang umum.

Sekilas tentang Mutter-Kind-Pass Rep. Austria berdasarkan pemahaman saya setelah membaca seluruh isi buku ini.

Mutter-Kind-Pass adalah sebuah ide bagus untuk menjaga sistem pelayanan kesehatan berkelanjutan pada seorang anak dimulai sejak dirinya berada di dalam kandungan. Ibu hamil di Austria akan mendapatkan Mutter-Kind-Pass sejak pertama kunjungannya ke dokter Obgyn. Semua rumah sakit dan dokter menggunakan Mutter-Kind-Pass yang sama.

Sesuai namanya “Pass” (=passport (EN)), memang ukurannya similar dengan paspor. Isinya sangat to the point. Hanya pengantar, lalu jadwal kontrol ibu dan anak, serta form yang mencakup ke-7 poin di atas tadi.

Pada Mutter-Kind-Pass juga disertakan brosur terpisah knowledge management untuk ibu hamil dan menyusui serta tumbuh kembang anak.

Setiap kontrol, dokter akan mencatat hasil pemeriksaan pada rekam medis di tempat prakteknya juga pada Mutter-Kind-Pass. Ini sudah menjadi SOP nya. Sehingga ke dokter mana pun bumil, busui, dan anaknya kontrol, dokter yang baru akan mendapatkan gambaran kondisi kesehatan sebelumnya dari Mutter-Kind-Pass. Informasi diperoleh dengan akurat dan cepat. Selain kontrol rutin, jika suatu saat terserang penyakit atau kelainan tertentu, dokter akan menelusuri faktor resiko penyebabnya secara menyeluruh, jika diperlukan, termasuk informasi mengenai medikasi terhadap ibu selama kehamilan.

Bagaimana kalau Mutter-Kind-Pass lupa dibawa ya saat ke dokter? Hmm kayaknya mah ga akan lupa sih, karena rupanya Mutter-Kind-Pass ini adalah “tiket” untuk mendapatkan tunjangan untuk ibu dan anak dari pemerintah. Ya, setiap anak yang ayahnya sudah membayar pajak penghasilan kepada pemerintah Austria, berhak mendapatkan tunjangan. Nah ibunya juga, kalau mau tidak bekerja, berhak mendapatkan tunjangan selama 2 tahun, dan disebut sebagai Karenz. Totally normal, pajaknya saja besar.. kurang lebih 45% dari penghasilan brutto 😮😮.

Kembali ke Mutter-Kind-Pass. Di dalam nya tertera jadwal 5x pemeriksaan wajib selama hamil, dan 5x tidak wajib, beberapa kali pemeriksaan selama nifas, dan 9x pemeriksaan tumbuh kembang anak setelah lahir.

Pemeriksaan Wajib untuk Ibu Hamil :
1. 1× pada usia kehamilan 16W (cek darah)
2. 1x pada usia kehamilan 17-20W (cek dalam)
3. 1x pada usia kehamilan 25-28W (cek darah)
4. 1x pada usia kehamilan 30-34W
5. 1x pada usia kehamilan 38W

Pemeriksaan tidak wajib ibu hamil :
1. 1x USG pada usia kehamilan 8-12W
2. 1x USG pada usia kehamilan 18-22W
3. 1x USG pada usia kehamilan 30-34W
4. 1× USG setelah anak lahir minggu pertama
5. 1× USG setelah anak lahir 6-8 minggu

Pemeriksaan wajib untuk anak (di luar jadwal imunisasi) :
1. 1x pada minggu pertama kelahirannya
2. 1x pada minggu ke-4 sampai ke-7 (termasuk pemeriksaan ortopedi)
3. 1x pada bulan ke-3 sampai 5
4. 1x pada bulan ke-7 sampai 9 (termasuk pemeriksaan THT)
5. 1x pada bulan ke-10 sampai 14 (termasuk pemeriksaan mata)

Pemeriksaan tidak wajib untuk anak :
1. 1× pada bulan ke-22 sampai 26 (termasuk pemeriksaan mata)
2. 1x pada bulan ke-34 sampai 38, sekitar ulang tahun anak ke-3
3. 1x pada bulan ke-46 sampai 50, sekitar ulang tahun anak ke-4
4. 1x pada bulan ke-58 sampai 62, sekitar ulang tahun anak ke-5

Status pemeriksaan “wajib” dan “tidak wajib” dalam Mutter-Kind-Pass berpengaruh pada pencairan tunjangan. Seluruh pemeriksaan wajib harus terlaksana dan terdokumentasi, stempel dan cap dokter di Mutter-Kind-Pass seusai pemeriksaan harus ditunjukkan kepada pihak asuransi. Di sini kantor asuransi berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam urusan pencairan tunjangan. Tidak terlaksananya pemeriksaan wajib akan menyebabkan tunjangan dihentikan atau dikurangi. Sementara pemeriksaan tidak wajib, jika tidak dilaksanakan maka tidak akan mempengaruhi tunjangan.

Jadi, dalam situasi saya, walaupun pemeriksaan tumbuh kembang dilakukan berkali-kali selama di Indonesia dan bisa disinkronkan waktunya apakah sesuai dengan jadwal yang diwajibkan untuk kontrol, tetap tidak bisa digunakan untuk mencairkan tunjangan karena tidak ada dokumentasi, cap, dan stempel asli dari dokter yang memeriksa.

———————————————————————————————————

Pelajaran kali ini : Pastikan Buku Kesehatan Ibu dan Anak kita terisi dengan lengkap ya setiap kali kunjungan ke dokter. Ingatkan dokter jika beliau lupa. Seringkali sulit bagi kita mengingat informasi medis dan tumbuh kembang anak yang penting di kemudian hari, apalagi jika anak kita kemudian memiliki adik, dan adiknya punya adik lagi, dan seterusnya. Hehe. Yuk, kita bantu ciptakan pelayanan kesehatan berkelanjutan dan menyeluruh untuk anak-anak kita. 💪:)💪

Salam dari Leoben, Austria.

Ayam Panggang

dscn8746

Akhir-akhir ini suka masak yang simpel-simpel aja. Tapi agak bosan juga karena untuk ayam masak yang simpel paling hanya sop, kaldu, ayam goreng. Pengen bikin ayam panggang tapi yang simpel, ternyata ada lho. Resepnya ngintip di video ini saya, saya tuliskan di bawah juga, beserta tips-tips nya berdasarkan percobaan saya. Arahan rasanya beda ya sama ayam panggang yang sering ditemui di Indonesia. Dua-duanya sama-sama unik dan enak. Suami sama anak ternyata suka lho, saya apalagi. Hehe. Repeat order deh.

Bahan :

1,5 kg Ayam
1 siung bawang bombay besar, iris tipis
2 buah tomat merah (tomat buah/ tomat chery) besar, iris bulat
+/- 5 sdm paprika bubuk
+/- 5 sdm minyak nabati/ mentega
+/- 2 sdm garam dapur
Setengah buah jeruk baby

Cara membuat :

1. Potong ayam sesuai selera, lalu cuci bersih. Bisa juga menggunakan ayam utuh, tidak dipotong. (Semakin kecil ukuran potongan ayam, waktu memanggang semakin singkat. Saya pernah mencoba ayam utuh, ayam potongan besar, dan kecil. Saya pribadi prefer yang potongan kecil kalau hanya untuk sehari-hari sih, lebih cepat matang, dagingnya juga lebih renyah dan gurih. Kalau untuk acara-acara khusus, ayam utuh lebih terlihat mewah di atas meja).

2. Blansir ayam dengan air mendidih kurang lebih 3 menit (ini untuk potongan ayam kecil. Semakin besar potongannya, setelah diblansir sebaiknya di rebus lagi beberapa lama supaya waktu memanggang tidak terlalu lama.)

3. Tiriskan ayam.

4. Panaskan oven 200°C.

5. Buat bumbu oles : Campurkan minyak nabati/ mentega, paprika bubuk, dan garam di mangkok. Aduk sampai rata.

6. Balurkan bumbu pada ayam dengan menggunakan kuas masak. Oleskan hingga seluruh permukaan ayam tertutup bumbu. (Jangan terlalu tipis supaya bumbu meresap ke dalam daging. Pada saat dipanggang, air dari dalam ayam akan keluar sehingga ada sebagian bumbu yang akan terbawa menjadi kuah kental).

7. Simpan ayam ke dalam loyang panggang. Taburkan bawang bombay dan tomat, perasan jeruk baby.

dscn8744
Siap dipanggang..

 

8. Panggang ayam di dalam oven, kurang lebih 45-50 menit untuk potongan ayam kecil. Pastikan bawang bombay dan tomat sudah layu. Pastikan juga ayam sudah matang hingga ke tulang menggunakan tusuk gigi atau garpu.

9. Lebih nikmati dimakan bersama nasi hangat dan sambal. Nymmm.. Selamat mencoba! :mrgreen:

image

 

Intip resep lainnya di sini :

Resep Sup Telur Sayur

Resep Apfelstrudel

Resep Muffin Coklat

Fusili Keju Udang

Muffin Cake for Baby

“Abah, Anakmu Ingin Bertemu… Babah, Dicari Cucumu..”

Minggu pagi 18 September 2016, saya terbangun dengan ceria. Anak saya akhirnya sembuh dari Rotavirus yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama 5 hari. Sudah seminggu terakhir sejak anak saya muntah dan diare intens, kami sekeluarga tidak punya banyak waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Maka hari itu, setelah akhirnya anak saya sembuh, saya berencana menghabiskan hari dengan menghubungi orang tua dan mertua, juga kakak dan adik kami sekeluarga, serta jalan-jalan santai di luar rumah, sudah satu minggu hanya berada di dalam ruangan.

Baru saya buka HP sebentar, kakak ipar saya menelepon. Betapa senangnya saya. Ternyata sehati, pikir saya. Kakak ipar menanyakan kabar saya, lalu minta nomor hp keluarga sepupu kami juga tetangga orang tua kami. Saya tidak curiga. Telepon dimatikan, saya langsung cari contactnya di HP. Belum ketemu, tiba-tiba ada whatsapp call masuk. Ternyata anak dari sepupu saya. Dia juga menanyakan kabar saya dan meminta nomor hp kakak/ kakak ipar saya. Dua telepon yang singkat. Saya mulai curiga. Khawatir ada sesuatu yang urgent, saya buru-buru mengirimkan nomor yang diminta ke masing-masing. Saya tunggu beberapa saat supaya mereka bisa saling menghubungi. Baru kemudian, mencoba untuk tenang, saya tanyakan ada apa kepada kakak ipar saya. Lalu berita mengagetkan itupun saya dengar. Sambil menangis kakak ipar saya berkata, abah terjatuh dari lantai dua ke halaman rumah. Beliau tidak sadarkan diri, sudah dibawa ke rumah sakit umum di dekat rumah, lalu dirujuk ke rumah sakit di kota lain yang lebih besar. Sontak sayapun ikut menangis.

Saya diminta untuk tenang menunggu kabar perkembangan abah. Di grup keluarga besar mulai di-broadcast informasi bahwa abah dirujuk dalam keadaan kritis dan minta didoakan sebanyak-banyaknya. Keluarga besar juga banyak merapat ke rumah sakit. Hati saya tercabik-cabik. Empat jam kemudian, kabar masih tak kunjung datang. Saya coba hubungi ibu dan saudara-saudara yang ada di rumah sakit. Saya tidak mendapatkan informasi yang saya inginkan, tentang kondisi medis Abah ataupun sekedar info bahwa sedang ada dokter yang menangani. Sambil panik saudara saya hanya minta saya untuk berdoa. Saya ingin pulang saat itu juga. Tapi saya harus realistis juga, kami tinggal di Eropa. Tabungan kami hanya cukup membiayai satu perjalanan tiket pulang. Sementara saya punya batita. Tidak ada pilihan lain selain hanya menunggu dan terus berdoa. Saya kerjakan pekerjaan sehari-hari yang mau tidak mau tetap harus dikerjakan sambil ndremimil mengirim surat Al Fathihah untuk Abah.

Tiba-tiba saya ingat. Saya punya teman seorang dokter di rumah sakit itu. Maka saya hubungi dia. Ternyata dia sudah resign dan tinggal di Eropa juga. Tapi betapa beruntungnya saya, dia ternyata masih menjalin komunikasi dengan rekan-rekan dokter di rumah sakit itu. Dengan cekatan dia membantu saya mencarikan info tentang kondisi medis Abah. Alhamdulillah meskipun diagnosanya berat, tapi saya mendapat kejelasan dan banyak saran dari pandangan seorang dokter.

Abah mengalami cedera otak sedang. Ada pendarahan yang menyebabkan beliau tidak bisa bergerak juga merespon suara dari lingkungan dan pendarahan itu harus dievakuasi segera melalui operasi. Astagfirullah. Saya tegang. Selagi menunggu penjelasan dari teman saya itu, suami tidak bisa tinggal diam. Dia langsung memforward pesan berbahasa medis ke temannya yang juga dokter. Dan kami mendapat info serupa yang saling melengkapi. Intinya tetap, harus dioperasi segera.

Karena tidak ada keluarga yang bisa memberikan informasi realtime perkembangan di rumah sakit, bahkan hingga malam tiba, maka saya khawatir. Kami tak hentinya mencoba menghubungi keluarga untuk memastikan bahwa jika dokter sudah menawarkan solusi operasi, maka harus disetujui. Syukurlah, kakak saya sebagai laki-laki tertua pengganti Abah di keluarga kecil kami, yang saat itu masih dalam perjalanan dari Tanjung Balai, memiliki tabiat selalu percaya pada ahlinya. Maka dia yang ternyata dihubungi via telepon oleh dokter, langsung menyatakan setuju operasi dilakukan dan tidak perlu menunggu kakak saya sampai di rumah sakit terlebih dulu. Walaupun pada akhirnya ternyata operasi baru siap dilaksanalan sesaat setelah kakak saya sampai rumah sakit.

Syukurlah, setelah itu saya mulai bisa mendapatkan info real time dari rumah sakit via kakak ipar. Termasuk saat operasi akan dimulai, pukul 6 pagi waktu Indonesia Barat atau 1 malam waktu di negara kami tinggal. Semalaman saya masih terus ndremimil Al Fathihah dengan kecepatan yang kian lama kian berkurang karena stamina menurun. Saya tidak bisa tidur membayangkan Abah terbaring koma di UGD, masih bisa mendengar tapi tidak bisa merespon, ibu dan keluarga besar lain menunggu di luar UGD dari pagi hingga hampir pagi lagi, kakak ipar saya sedang hamil dan anaknya yang batita juga turut di sana, mereka juga pasti sangat lelah dan tidak bisa tidur.

Alhamdulillah operasi dinyatakan berjalan lancar dua jam kemudian. Saat itulah, saya mulai bisa sedikit bernafas lega dan memejamkan mata…

Hari ini, kondisi Abah sudah semakin membaik. Beliau sedang belajar jalan dan sudah mulai kuat jalan dari ruang tamu ke kamar. Ingatannya masih perlu pemulihan. Lusa yang lalu, saya sempat ngobrol dengan beliau cukup lama di telepon. Suaranya begitu sehat. Hanya badannya saja yang masih lemah. Beliau banyak bertanya tentang apa-apa yang beliau lupa, tentang background pendidikan saya dan suami juga yang sedang dijalani, kami ada di mana, sampai kapan, umur anak saya, apakah sudah waktunya sekolah, nama urutan sekolah, dsb, saya jawab semua yang beliau tanya perlahan, beliau senang mendengarnya seolah rasa penasarannya terjawab sudah. Beliau sempat curhat, merasa badannya remuk dan pesimis tidak bisa kembali seperti dulu. Juga sangat ingin bertemu dengan kami. Bagian ini membuat saya ingin sekali pulang dan menemani Abah membantu proses pemulihannya.

Teringat semasa kami masih di Indonesia, dari saya kecil hingga saat mau berangkat ke Eropa, Abah hampir selalu hadir meringankan kesulitan-kesulitan saya. Sekarang, di saat beliau mengalami masa sulit, justru saya tidak bisa ada di sana. Sedih dan merasa bersalah.

Abah, kami juga ingin sekali bertemu. Cucumu juga sudah dari lama menunggu saat-saat bisa bermain-main lagi denganmu meskipun itu hanya di video call. Cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala ya Bah… maafkan kami karena belum bisa pulang sekarang…

Allah swt Maha Adil, Setiap Hamba Merasakan Ujian-Nya

Hari ini saya kembali diingatkan oleh-Nya, tak ada hamba yang luput dari ujian-Nya. Mungkin juga setiap hamba akan merasakan susah yang tingkatan beratnya bagi masing-masing orang setara, dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ibu saya adalah anak ke-3 dari 3 bersaudara yang seayah seibu, namun anak ke-12 dari 12 bersaudara se-ibu lain ayah, dan anak ke sekian dari sekian bersaudara seayah lain ibu. Ibu saya lahir di dunia yang kala itu masih menganut kuat budaya leluhur bahwa seorang wanita seharusnya tumbuh menjadi seorang ibu rumah tangga (tidak bekerja di kantoran) yang baik, sehingga dididiklah beliau dan saudara-saudara perempuan yang se-ibu sedari kecil hingga dewasa untuk belajar menjadi ibu, mengurus rumah, bercocok tanam, memasak, menjahit, membaca, menulis, dan belajar agama. Ibu saya yang ingin menjadi guru pun dilarang, dan disekolahkan ke pondok bukan ke sekolah guru. Maka jadilah ibu saya yang sekarang, seorang ibu rumah tangga cekatan, telaten, seorang qiro’ah, idola suami dan anak-anaknya. Beliau menikah dengan ayah saya yang kala itu sudah menjadi polisi dan merintis hidup mandiri, dari bawah. Saya selalu ingat cerita ibu saya bagaimana beliau mengatur keuangan keluarga dan berdagang, hijrah dari desa tempatnya dilahirkan ke kota kecil, hingga akhirnya bisa memiliki sendiri rumah hasil kerja keras berdua dengan ayah saya. Saking banyaknya potongan-potongan cerita ibu, membuat saya bisa membayangkan garis besar keseluruhan cerita dalam hidupnya. Betapa pahitnya terlahir di keluarga poligami dan lingkungan yang belum mendukung kesetaraan gender, hingga beratnya masa-masa awal setelah ibu menikah, membuat ibu selalu menomorsatukan keutuhan keluarga kecil kami dan memperjuangkan pendidikan anak-anaknya. “Walaupun perempuan, kamu harus bisa kerja, jangan bergantung pada suamimu” nasehat seperti ini sering sekali saya dengar. Hingga akhirnya anak pertama nya berhasil menjadi sarjana teknik mesin dan bekerja di bidang perminyakan sementara saya adiknya menjadi apoteker.

Ayah saya terlahir di salah satu daerah di pesisir Jawa yang sempat menjadi target penyerangan PKI bertahun-tahun yang lalu ketika beliau masih berumur belasan tahun. Akibat penyerangan itu, ayah dan saudara-saudara kandung serta nenek saya harus terpisah-pisah merantau ke daerah ataupun kota-kota lainnya demi menyelamatkan diri masing-masing. Alhamdulillah beliau dibesarkan di tanah pasundan oleh pamannya. Lulus SMA, ayah nekat merantau kembali ke Jawa Tengah, mendaftarkan diri sebagai
polisi, hanya berbekal nekat. Takdir Allah, beliau berhasil menjadi polisi. Sebagai wujud rasa syukurnya itulah beliau selalu berusaha menjaga amanah dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Saya terlahir di dunia yang berbeda. Di dunia modern di mana kesetaraan gender sudah menjadi hal yang biasa. Wanita bekerja bukan hal yang pamali lagi. Saya ditumbuhkan dalam keluarga yang utuh, lingkungan yang baik, dan disekolahkan ke sekolah-sekolah terbaik. Saya menikah dengan seorang insinyur dan mencoba merintis hidup mandiri namun seringkali gagal mandiri karena betapa baiknya keempat orang tua kami sehingga sering memberikan kami hadiah selain doa, entah berupa materi maupun perhatian, waktu dan tenaga, yang jauh lebih besar nilainya dari apa yang didapatkan oleh ibu sewaktu muda dulu dan lingkungan yang jauh lebih kondusif daripada masa muda ayah. Betapa hidup saya berjalan nyaris mulus. Bisa dibilang begitu.

Kini saya harus hidup merantau bersama suami dan anak kami di negeri orang. Negeri yang sangat jauh, 17 jam perjalanan udara. Negara dengan standar hidup luar biasa. Regulasi yang ketat berhasil membuat pasar menawarkan barang dan jasa dengan standar kualitas yang tinggi dan tentunya harga yang sama sekali tidak menarik. Kami hidup dengan beasiswa studi suami saya yang jumlahnya selalu diragukan oleh pemerintah negeri ini akan bisa menghidupi kami sekeluarga. Nyatanya, meskipun mungkin terlihat sederhana dibanding orang-orang lain di sini, kami tetap makan nasi dengan kualitas beras yang sama seperti yang kami makan di Indonesia, Alhamdulillah magic com kami belum pernah kosong kecuali sewaktu kelupaan menanak nasi atau memang ingin makan yang lain. Alhamdulillah anak bisa minum susu 2 gelas sehari, lauk, sayur dan buah juga tak lupa hadir di meja makan untuk sekeluarga kecuali kami lupa untuk belanja. Kami bisa menabung dan sesekali jalan-jalan. Kami sehat dan bahagia. Alhamdulillah nikmat yang luar biasa dianugerahkan oleh Allah.

Maka dengan segala kenikmatan ini kadang saya bertanya dalam hati, mengapa Allah menguji ayah dan ibu dengan ujian yang berat di masa mudanya sembari tak lupa berdoa untuk kebahagiaan keduanya di dunia dan akhirat.

Kemudian hari ini, saya mendapatkan jawabannya. Kami sekeluarga besar mendapatkan ujian bersama-sama. Ayah jatuh tiga minggu yang lalu dari ketinggian, kepalanya terbentur hingga terjadi pendarahan di otaknya sehingga harus dioperasi. Operasi berjalan lancar dan saat ini sedang pemulihan. Beliau sedang belajar berjalan, harus menjalani fisioterapi mata dan ingatan karena banyak hal yang akibat kejadian ini beliau tidak bisa mengingatnya termasuk saya. Secara bertahap beliau mulai ingat sedikit semi sedikit. Ujian yang berat bagi saya, adalah karena saya belum bisa hadir secara fisik untuk mendampingi pemulihan beliau. Apalagi kemarin beliau bilang ingin sekali bertemu dengan kami. Sementara kami belum siap secara materi, benar-benar tidak siap, hal yang berat untuk disampaikan kepada ayah yang masih dalam pemulihan pasca operasi otak. Kami sadar kami tidak boleh berlama-lama. Kami sadar kami harus mempersiapkan diri secepat-cepatnya. Suami saya berkomitmen untuk bisa lulus tepat waktu, 14 bulan lagi, insya Allah. Dan saya akan ‘mengencangkan ikat pinggang’ dan ‘memakai kacamata kuda’. Inilah jawabannya. Allah maha adil. Hamba-Nya tidak akan luput dari ujian-Nya pada tingkat kesulitan yang sama, dalam bentuk yang berbeda. Maka Allah pasti juga akan memberikan kemudahan di setiap kesulitan.

Semoga ayah segera pulih tanpa kurang suatu apapun dan Allah memberikan kekuatan kepada kami untuk dapat melalui ujian ini dengan baik. Aamiin2 yra..

“Kesiapan” Anak Masuk Day Care = Kolaborasi Bersama antara Orang Tua, Anak, dan Tim Day Care

Di sini, di Leoben-Austria (dan kebanyakan kota lainnya di negara ini), memasukkan anak di day care tidak lantas hanya mengantar anak dan langsung meninggalkannya sejak hari pertama masuk. Akan tetapi ibu, ayah, atau anggota keluarga terdekat lainnya seperti nenek, dsb, wajib ada yang menemani selama beberapa hari, sampai anak terbiasa dan siap untuk dilepas di day care.

Apa tanda-tanda anak sudah siap untuk ditinggal?
Anak dinyatakan sudah siap ditinggal jika :
– Tidak menangis jika ditinggal di day care tanpa ada anggota keluarga yang terlihat di sana, atau menangis sebentar akan tetapi segera bisa ditenangkan oleh pengasuh atau pädagogin yang ada.
–  Sudah bisa tidur siang di day care tanpa ada anggota keluarga di sekitarnya.

Dua hal tersebut bagi batita tentu pada umumnya sulit terjadi ketika berada di lingkungan baru dan dikelilingi oleh orang-orang baru. Oleh karena itu diperlukan proses adaptasi. Untuk proses adaptasi inilah peran anggota keluarga terdekat, terutama ibu atau ayah, diperlukan pada beberapa hari di awal. Ibu atau ayah diajak berkolaborasi pada saat masa adaptasi.

Proses adaptasi berupa :
– Sejak hari pertama, ibu/ ayah ikut masuk ke dalam ruangan day care dan mengikuti semua kegiatan bersama anak-anak, pädagogin, dan pengasuh.
– Selama masa adaptasi, anak dan ibu/ ayah datang kurang lebih pada pukul 8 pagi.
– Pada hari pertama, anak dan ibu/ ayah hanya perlu berada di day care selama kurang lebih 1 jam.
– Pada hari kedua, ketiga, dst selama masa adaptasi, durasi berada di day care bagi anak dan ibu/ ayah ditambahkan kurang lebih sekitar 1 jam.
– Pada hari ketiga, setelah setiap 1 jam berada di day care, ibu/ ayah akan diminta untuk keluar dari ruangan, sehingga tidak terlihat oleh anak, akan tetapi masih di dalam area TK. Kurang lebih 10 menit kemudian ibu/ ayah boleh masuk kembali untuk melihat keadaan anak, apakah menangis, mencari keberadaan ibu/ ayah, atau tetap asik mengikuti kegiatan bersama yang lainnya.
– Jika 10 menit ditinggalkan pada hari sebelumnya ternyata anak menangis dan tak bisa ditenangkan oleh pengasuh dan pädagogin, maka hari keempat dan seterusnya perlakuan sama seperti hari sebelumnya. Namun jika anak menangis tetapi masih bisa ditenangkan, atau bahkan lebih baik daripada itu (tidak menangis sama sekali), maka durasi ditinggalkannya diperpanjang secara bertahap, bisa 20 menit – 1,5 jam setiap hari nya. Berapa lamanya tergantung kesiapan anak, sehingga bisa berbeda-beda antara anak satu dan yang lainnya.
– Proses ini berlangsung setiap hari hingga tanda-tanda kesiapan anak yang tadi saya sebutkan tercapai. Pada umumnya berlangsung sekitar 3-4 minggu, menurut tim TK dan berdasarkan cerita para orang tua yang anaknya sudah berhasil dilepas di sana.
– Setelah anak dinyatakan siap untuk dilepas, pädagogin akan mengisyaratkan di hari berikutnya, bahwa ibu/ ayah hanya perlu mengantar dan menjemput anak pada jam yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
– Jika ibu ataupun ayah berhalangan, maka bisa digantikan oleh anggota keluarga terdekat lainnya seperti neneknya misalnya.

Memang setelah saya pikir-pikir, betul juga, dengan turut sertanya orang tua pada masa-masa awal anak di day care akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan anak dengan lingkungan baru nya di day care. Tentu selain memudahkan proses adaptasi anak, juga kesempatan bagi kita sebagai orang tua untuk mengetahui dengan mata kepala sendiri kegiatan sehari-hari di day care, bagaimana cara pädagogin dan pengasuh memperlakukan anak-anak (termasuk anak kita), serta bagaimana perilaku teman-temannya, agar lebih tenang nantinya ketika menitipkan anak tanpa kita sebagai orang tuanya di sana.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan ibu/ ayah yang menemani supaya bisa membantu proses adaptasi anak?
Ini di antaranya yang bisa saya simpulkan berdasarkan pengalaman pribadi :
– Meningkatkan kepercayaan anak pada lingkungan baru di day care dengan membentuk bonding antara diri kita dengan day care, pädagogin, pengasuh, dan anak-anak yang ada di sana. Bisa dilakukan dengan kita mengobrol, akrab, tertawa, bercanda, bermain, dsb, dengan pädagogin, pengasuh, orang tua anak lain jika ada, maupun anak-anak yang ada di sana.
– Memperkenalkan anak kita dengan mereka (menyebutkan namanya, mengarahkan anak kita untuk bersalaman, mengucapkan halo, dan bersosialisasi dengan yang lain) tetapi jika anak tidak mau, tidak perlu dipaksa pada saat itu. Anak bisa diajak lagi berinteraksi dengan temannya di waktu yang lain. Yang terpenting, jangan menyerah.
– Bermain bersama anak dengan semua mainan yang ada secara bergantian, untuk membantu proses orientasi anak terhadap ruangan bermain
– Ketika pädagogin mengajak anak-anak bernyanyi sambil membuat gerakan, kita sebaiknya ikut juga bernyanyi dan bergerak.
– Menerapkan peraturan yang sama seperti yang diterapkan oleh pädagogin di day care, misalnya mengarahkan anak untuk merapihkan mainan sebelum ganti main yang lain, mengarahkan anak untuk duduk ketika sesi tertentu, dsb. Ini akan membantu anak beradaptasi dengan peraturan yang diterapkan di sana.
– Fokuskan diri di ruangan itu bersama anak dan yang ada di sana. Simpan dulu gadget dan sejenisnya :):):)
– Di luar day care (di jalan/ di rumah), ajak anak mengobrol tentang keceriaan hari itu di day care. Beri sugesti positif pada anak bahwa hari itu sangat menyenangkan, bermain dengan A, B, dst, pengasuh dan pädagoginnya baik, anak kita pintar karena tidak rewel/ hanya rewel sedikit dan mau bermain dan berbagi mainan dengan yang lain, dsb. Beri pujian atas pencapaiannya yang bertambah setiap hari sehingga dia merasa dihargai dan termotivasi untuk lebih baik lagi keesokan harinya.

Mungkin masih banyak tips-tips yang lain. Setidaknya beberapa hal di atas yang sangat membantu adaptasi anak saya di day care nya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat juga bagi para orang tua yang mau memasukkan anaknya ke day care ya 🙂

Kalau ada ayah ibu yang punya pengalaman tips yang lainnya, boleh ya share di comment 🙂

image

Sapih Menyapih

[Hari 1]

Anak bulan depan insya Allah sudah genap 2 tahun usianya. Insya Allah juga, keesokan hari setelah ultahnya, langsung akan mulai disapih total. Bundanya dag dig dug duer. Hehe. Atas saran dari pak suami, mulai dikurangi saja dulu menyusuinya dari sebelumnya, karena selama ini kegiatan menyusunya bisa dibilang sering. Sering tp sebentar2, kecuali pas bobo, bisa 2-3 jam an ngempeng terus 😅.

Walhasil dari sebulan yll sudah mulai ngitung hari sama anak, bahwa mulai 23 bulan, anak sudah harus belajar nen cuma pas mau tidur malam tok. Anak tampak agak mengerti sh. Awal2 dy geleng2 aja. Bbrp hari kemudian ngangkat jempol sambil bilang “oke” tp ditambah embel2 minta nen di bis sama tut tut (dy tau banget, di bis n kereta, emaknya sll paling susah nolak dy nen. Gmn g susah, bis sama kereta seringnya hening tenang begitu, bahkan di kereta ada simbol orang naruh jari di depan mulut 😅)

Akhirnya bbrp hari menjelang due date, tiap kali ngitung hari, jempolnya yg diangkat 2, sambil masih minta naik bis n tut tut jam sepuluh, tp g ditambain embel2 minta nen. Hoyeee..

Kemarin genap usianya 23 bulan, dimulailah hari pertama sapih siang2. Dari bangun tidur pas masih nen sambil ngumpulin nyawa, sudah diingetin lagi klo hari itu mulai belajar ga nen siang2, jd puas2in dlu silakan nen nya sblm ‘bangun’ beneran. Jempolnya ngangkat lagi dua2nya. Alhamdulillah banget sampai beres sarapan dy g mnta nen, klo haus langsung minum air. Biasanya di tengah2 sarapan sll ada pause nen. Sampai jam tidur siang, dy langsung mapan sndiri ke kasur, nata bantal sndiri, bawa boneka2 nya jg, kelonan mereka di sana. Lalu dy mnta bundanya ikut tiduran di sampingnya, kelon jg. Betapa senangnya hatiku 😍😍

1 menit kemudian.. mulailah dy kasak kusuk pindah posisi, gtu terus sampai 15 menit pertama, akhirnya ga tahan. “Menyu menyu!” Dia minta nen. 😄😄 Lalu dihibur, dijelasin, mba Qila udah besar, anak besar nen nha sblm ‘good night’ aja ya, biar tambah pinter n tambah cantik, walopun g nen bunda tetep sayang sm mb qila, pasti mb qila bisa.

Jegeerrr.. drama tantrum pun dimulai. Nangis, mnta gendong sambil mnta nen, pindah duduk dapur, balik ke kamar lagi, semua kursi mnta didudukin, terakhir, mnta jalan2 ke luar rumah. Pada akhirnya dy bs berhenti menangis dan bobok sambil timang2 di bawah perdu di pinggir jalan belakang rumah.

Setelah tampak tidur pulas, dibawalah pulang k rumah tp g berani mindahin ke kasur. Biasanya dy tidur siang 2 jam an. Tak gendong ke mana-mana 2 jam an gpp lah drpd drama lagi. Eh lha 1 jam pertama malah kebangun 😱 untung banget waktu itu kebetulan lagi video call an sm yangkung, yangti, om, sm tante nya. Krn rame, dy pun terhibur, tp tetep bbrp menit kemudian tampak gelisah lagi krn masih ngantuk.

Alhamdulillah, kebetulan setelah itu ada acara kumpul2 penduduk Leoben plus plus (plus penduduk kota sebelah). Qila keliatannya menikmati banget main bareng sama abang kembar, kakak tifa, tante2, om, pakdhe. Sampai lupa nen.

Pulang ke rumah udh jam 8 kurang, udh boleh nen lagi.

Drama sapih episode 1, durasi total 45 menit. :mrgreen:💖

Semoga episode 2 lebih baik lagi. Aamiin..

image

Suka Duka Mendaftarkan Anak di Day Care Negeri Orang

Lazimnya untuk bisa terdaftar di day care milik pemerintah di kota Leoben, Austria, harus melalui pendaftaran yang dibuka kurang lebih 6 bulan sebelum semester baru dimulai. Ya, layaknya TK, dan juga bertempat di TK, day care milik pemerintah juga menganut sistem semester. Jam bukanya hanya dari hari Senin sampai Jumat, pukul 07.00 sampai 15.00 (klik di sini untuk membaca cerita tentang day care nya lebih detail). Semester baru dimulai pada tanggal tertentu seperti halnya TK dan memiliki libur musim panas selama kurang lebih 2 bulan juga libur natal-tahun baru. Akan tetapi, pada libur musim panas anak-anak bisa ikut kelas musim panas dengan membayar ekstra yang besarnya sama seperti bulan reguler, dengan kuota peserta yang lebih sedikit.

Pendaftaran hanya dibuka selama 1 hari. Wow. Pada saat pendaftaran, salah satu orang tua hanya perlu datang ke TK bersama anak membawa kartu sakti asuransi, akta lahir, dan surat keterangan tempat tinggal dari balai kota (di sini bernama Meldedaten). Orang tua akan diminta untuk mengisi formulir. Pada saat formulir dikumpulkan kembali, orang tua akan menerima formulir lain yang bisa digunakan untuk mengajukan tunjangan uang makan ke balai kota jika anak sudah diterima. Jika diterima, sekitar 4 bulan sebelum semester baru dimulai, orang tua akan mendapatkan 2 buah surat dari balai kota. Surat pertama ditujukan kepada ibunya, berupa ucapan selamat karena anak Anda sudah mendapat tempat di day care X, masuk per tanggal sekian. Surat ke-2 untuk ayahnya berupa tagihan uang bulanannya. Hahaha.. gokil yah..

Beserta surat tagihan itu, terlampir blanko transfer uang bulanan yang sudah diisi (ada beberapa blanko dengan nama bulan berbeda-beda). Jadi ayah tinggal membawa blanko transfer tersebut ke mesin transfer bersama kartu atm, maksimal tanggal sekian setiap bulannya. Tidak ada tagihan lain selain uang bulanan. Tidak ada uang pangkal, uang pembangunan, apalagi seragam. Cukup uang bulanan, sebesar €261, saja. *sambil gigit jari* 😂😂

Karena kuota di day care tidak banyak, yaitu hanya 12 tempat untuk full day dan 12 tempat untuk half day, untuk setiap day care (fyi, tidak semua TK milik pemerintah memiliki program day care full day), maka bisa jadi ada antrian. Termasuk anak saya, karena saya kudet alias kurang update terhadap info pendaftaran TK, maka saya datang ke TK bukan pada saat pendaftaran. Wkkw. Alhasil tidak dapat tempatlah.

TK pertama yang saya datangi adalah TK yang paling dekat dengan tempat tinggal tentunya. Saat itu saya ditemani oleh teman berkebangsaan Austria keturunan Turki. Dia tentu bisa berbahasa Jerman dengan fasih. Ternyata day care di situ sudah full. Petugas TK menyarankan saya datang lagi bulan depan karena pendaftaran untuk semester depan di buka pada bulan depan, atau bisa menghubungi ke bagian urusan kindergarten di balai kota untuk tau di mana day care milik pemerintah yang masih memiliki tempat kosong untuk semester yang sudah berjalan ini.

Saya pun mengikuti saran yang kedua. Masih ditemani oleh teman Austria saya itu, bertanya ke balai kota. Kami mendapatkan informasi yang diperlukan. Ada 2 day care yang masih memiliki tempat kosong di semester yang sedang berjalan waktu itu. Lokasi kedua-duanya perlu ditempuh kurang lebih 20 menit dengan bus. Petugas berkata, padanya saya bisa melakukan pendaftaran di salah satu TK tersebut. Ah baiklah, saya harus survey dan diskusi dulu sama suami, pikir saya waktu itu. Dua hari kemudian, setelah survey dan diskusi dengan suami, kami memutuskan memilih TK yang kebetulan, anak dari teman saya yang lain juga ada di sana. Selain lebih tenang karena ada kenalan, juga karena lokasinya di lingkungan yang lebih ramah anak. Pilihan TK yang lainnya berlokasi di daerah industri. Mengingatkan saya akan kerasnya hidup di kawasan industri X di Indonesia. Hehehe..

Sayapun datang kembali ke balai kota, menemui petugas urusan kindergarten. Kali ini saya hanya berdua dengan anak saya, tanpa teman yang jago berbahasa Jerman. Bermodalkan hafalan dari google translate, hehe, saya utarakan maksud untuk mendaftarkan anak ke day care. Betapa herannya saya, ketika itu petugas yang sama, berkata saya harus mendaftar langsung di TK. Saya harus membuat janji dengan penanggung jawab (PJ) di TK via telepon. Dia menuliskan nama PJ tersebut dan nomor teleponnya. Oke, baiklah.

Membuat janji dengan ybs via telepon ternyata tidak sesingkat yang saya bayangkan. Saya harus menelepon berkali-kali sampai akhirnya telepon diangkat. Setelah diangkat, orang yang menerima telepon di seberang sana ternyata bukan ybs. Ketika akhirnya bisa berbicara dengan ybs, ternyata beliau sedang sibuk dan meminta saya menelepon kembali pada pukul 15.00. Weleh.. ini mau bikin janji via telepon saja harus janjian terlebih dahulu, batin saya.

Betapa senang dan geernya saya ketika ibu PJ TK yang ternyata adalah ibu kepala sekolah, mempersilakan saya untuk datang ke TK mengurus pendaftaran anak saya di day care. Setiba saya di day care, ibu PJ TK sedang kontrol ke dokter karena sakit. Saya diminta menunggu. Sejak saat itu akhirnya saya paham, betapa SDM yang mengelola TK jumlahnya sangat terbatas. Tidak ada sekretaris khusus bagian pendaftaran ataupun administrasi. Tidak ada yang terlihat bekerja duduk-duduk di depan komputer di kantornya. Semuanya selalu sibuk pada jam kerja.

Saya menunggu sambil mengobrol santai dengan pädagogin dan para pengasuh di day care yang kebetulan sudah di luar jam kerja. Mereka semua ramah dan akrab. Mereka bilang MASIH ADA BANGET tempat kosong di day care. Teman saya yang anaknya di sana pun, sengaja kepo untuk saya, dia bilang sepertinya ada 2 tempat kosong (berdasarkan loker anak yang masih kosong tak bernama, tak bertuan).

Ketika akhirnya ibu kepala sekolah datang, beliau menyambut baik dan ramah serta akrab dengan anak saya. Saya mengisi formulir, menyerahkan persyaratan sambil tersipu-sipu, berpikir kami beruntung sekali mendaftar ketika semester baru sudah dimulai, ternyata masih mendapatkan tempat. Lalu kemudian ibu kepala sekolah bilang “.. tapi maaf Aqila belum bisa masuk sekarang karena sudah penuh.” Jeger.. rasanya seperti disambar petir di wajah. Hahaha… mulai.. lebay..

Kecewa? Iyaaa. Ga percaya? Iya juga lah… berkali-kali saya memastikan apa betul sudah penuh? (Karena petugas balai kota urusan kindergarten, pädagogin dan pengasuh, semua bilang masih ada tempat). Jawabannya tetap sama, full. Unpredictable dan unbelievable. Beliau menerima formulir tersebut sambil bilang beliau tidak dapat memastikan kapan anak saya akan mendapatkan tempat. Semester depan sekalipun. Jika beruntung, maka balai kota akan mengirimkan surat kepada kami memberitahukan jika akhirnya anak saya mendapatkan tempat. Silakan ditunggu saja…

Sore itu pukul 6, masih di musim dingin, sudah sangat gelap. Melangkahkan kaki keluar dari TK dengan perasaan kecewa dan bertanya-tanya, sampai tidak menyadari ternyata saya meninggalkan dompet saya di ruangan ibu kepala sekolah. Dan baru menyadari setelah sampai di rumah, suami saya dihubungi oleh TK (yang lagi-lagi saya geer mengira si ibu salah ngomong) eh ternyata mengabarkan kalau dompet saya tertinggal. Haha what a day.

Besoknya, saya coba datangi TK pilihan terakhir di daerah industri itu. Batin saya, ah kalau anak saya jadi di day care ini, lagi-lagi saya termakan omongan sendiri 2 kali (yang pertama pada saat masih kuliah, setelah kerja praktek di kawasan industri X saya membatin bahwa saya tidak mau kerja di daerah itu nantinya, nyatanya malah setelah lulus saya kerja di sana selama 3 tahun. Lalu sekarang, ketika saya tidak ingin anak saya berada di day care di daerah industri ini.. saya malah seperti tidak punya pilihan lain. Ckck..).
By the way, ketika hari sebelumnya saya survey ke sana, saya sempat bertemu kepala sekolahnya dan bertanya masih adakah tempat kosong di sana, dan dibilang masih. Surprisingly, ketika saya datang di hari itu, beliau, kepala sekolah, orang yang sama, berkata ini sudah full. Lalu saya hanya bisa bernyanyi miris. Begini naasib..

Hari-hari berikutnya saya pasrahkan urusan day care pada Allah dan introspeksi diri. Ya, betul, saya memang butuh tempat di day care untuk anak saya segera. Karena lusa adalah hari pertama semester baru kursus bahasa Jerman reguler dimulai. Sebelum mendaftarkan diri di tempat kursus, tentu saya harus memastikan anak mendapatkan tempat di day care yang menurut saya baik. Tapi, bagaimana urgensinya si kursus Jerman ini..?? Perdebatan diri sendiri di kepala akhirnya sepakat pada kesimpulan bahwa.. belajar bahasa lokal penting, tetapi tidak urgent. Maka seharusnya saya hanya perlu selow dan tidak perlu baper ketika anak saya tidak dapat tempat di day care saat itu. Mungkin next semester, atau semester depannya lagi, atau memang menurut Yang Maha Kuasa ada yang lebih baik untuk dilakukan bersama anak setiap waktu, hmm manusia mana ada yang tau rencana Tuhan. Tugas manusia hanya berusaha. Dan saya sudah berusaha maksimal yang saya bisa untuk bisa belajar bahasa lokal intensif pada expert nya dan untuk mendapatkan tempat yang menurut saya baik untuk anak selama saya harus kursus intensif. Ternyata dari usaha yang sudah saya lakukan, warna-warni pelayanan baik, ramah, juga dingin, ketus dan jutek, saya dapatkan, ternyata hasilnya adalah, pernyataan yang mengejutkan dari para petugas pendaftaran, baik di balai kota maupun sang kepala sekolah. Mungkin terlalu fokus akan jurus-jurus dalam menggapai misi saya untuk make things happen, sampai-sampai saya lupa bahwa sejak awal seharusnya saya sudah ikhlas dengan apapun hasilnya nanti.

Hari-hari berikutnya saya belajar legowo. Akhirnya saya bisa ikhlas sampai benar-benar ikhlas. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Rejeki anak dan saya, saya pikir. Kami jadi bisa terus-terusan bersama di saat banyak ibu-ibu lain yang mendambakan quality time seperti ini.

Tiba-tiba beberapa pekan kemudian, suami saya mendapatkan telepon. Telepon itu ternyata dari TK yang anak teman saya juga di sana, mengabarkan bahwa per 1 April ada tempat di day care untuk anak saya. Kaget bercampur senang. Di sinilah lagi-lagi saya belajar ilmu ikhlas. Ketika saya ikhlas untuk tidak mendapatkan sesuatu yang diidamkan dan sudah saya usahakan maksimal, justru disitulah saya dapat meraihnya.

Pada waktu itu, saya sudah terlalu terlambat untuk bisa terdaftar di kursus intensif bahasa Jerman. Tapi ya sudah tidak apa-apa toh saya masih punya buku pinjaman dari teman Indonesia yang tinggal di sini juga. Setidaknya saya bisa belajar sendiri ketika anak di day care dan mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak terkerjakan dengan baik selama ini. Maka kami tetap menerima tawaran tempat di day care itu.

Tidak disangka, ternyata sebulanan kemudian (saat anak saya sudah bisa dilepas di day care) istri dari kolega suami saya yang menjadi pengajar kelas kursus Jerman gratis khusus untuk pengungsi Timur Tengah mengundang saya untuk bergabung menjadi peserta. Dulu saya tidak berhasil dapat tempat di kursus yang berbayar, sekarang ternyata malah datang tawaran tempat di kursus yang gratisan. Ya Allah nikmat Mu mana lagi yang hendak hamba Mu ini dustakan.. Alhamdulillah…

Kejadian ini mengingatkan saya sekali lagi untuk selalu mengiring ikhlas bersama usaha dan doa yang maksimal. Ya, ikhlas, bersama usaha dan doa yang maksimal. :):)

Day Care (Part 2) – Day Care di Leoben, Austria

Halooo.

Nah ini dia, akhirnya mood bertemu lagi dengan kesempatan untuk menulis. Sebelum bercerita tentang masa-masa adaptasi anak saya di day care (yang tentunya lebih menarik bagi orang tua yang mau memasukkan anak ke day care juga 😁😁), supaya lebih nyambung nantinya, saya akan menceritakan terlebih dahulu bagaimana day care ini menjalankan programnya, sehingga bisa tampak jelas mengapa saya akhirnya mantap memasukkan anak ke day care tersebut.

Ketika saya memutuskan memasukkan anak ke day care, tidak serta merta itu menjadi keputusan bulat yang tidak bisa diganggu gugat. Saya merasa perlu memastikan day care tersebut baik untuk perkembangan anak saya. Saya ingin manfaat yang didapat setelah anak masuk day care jauh lebih besar daripada pengorbanan yang kami keluarkan. Ya, tentu saja ini penting, terutama karena pengorbanan yang kami keluarkan bukan hanya uang tapi juga quality time, terutama antara saya dan anak saya yang belum genap berumur 2 tahun. Jika tidak sebanding, ya lebih baik tidak usah masuk day care, lebih baik saya menunda diri dulu lagi untuk belajar bahasa secara intensif daripada tumbuh kembang anak dikorbankan. Ini sama seperti ketika saya hendak memilih antara resign atau tidak dari perusahaan tempat saya bekerja sebelum melahirkan (yang akhirnya saya memilih untuk resign). Maka kemudian saya mulai mencari informasi yang valid seputar day care di kota tempat tinggal kami.

Dengan keterbatasan kemampuan lisan bahasa Jerman saya, maka yang bisa saya lakukan hanyalah menghimpun informasi dari teman  saya yang anaknya sudah lebih dulu masuk day care serta (biasa) browsing di internet. Teman saya ini berkebangsaan Mesir dan merupakan satu-satunya teman di sini yang memiliki anak seumuran dengan anak saya, saya bersyukur dia bisa berbahasa Inggris. Hehe.
Hasil pencarian informasi dari internet juga sangat memuaskan. Karena di halaman pertama pencarian di google saya menemukan web site resmi dari pemerintah kota setempat yang bertautan dengan web site setiap taman kanak-kanak milik pemerintah yang ada di kota ini.

Fyi, ternyata setiap taman kanak-kanak milik pemerintah di sini ada day care nya untuk anak-anak di bawah umur 3 tahun.

Dari web itu saya bisa mendapatkan informasi valid dan up to date di mana saja lokasi taman kanak-kanak milik pemerintah, jam buka, jadwal dan penjelasan singkat kegiatan sehari-hari, foto beberapa spot, visi misi taman kanak-kanak tersebut, serta nama dan foto kepala sekolah, pädagogin, serta pengasuh. Penjelasannya singkat, mengena, dan desain web site nya lucu. Hahaha.. penting ga penting ya desain ini. Karena menurut saya, desain lucu seperti ini menegaskan bahwa taman kanak-kanak adalah tempat yang menyenangkan, dinamis, dan tidak kaku. Kalau penasaran bisa klik link ini hehe http://www.kindergarten-leoben.at

Umaaak… saya berharap nanti setelah pulang ke Indonesia bisa mendapatkan informasi resmi terintegrasi seperti ini supaya tidak perlu ngubek-ubek sendiri kota Bandung.. soalnya saya sudah iseng cari-cari juga web site resmi seperti ini untuk taman kanak-kanak di kota Bandung di Google kok belum ketemu-ketemu ya? Kalau blog banyak sih. Ya Alhamdulillah dan terima kasih pada mereka yang sudah mau mereview hasil survey nya di blog.

Ehem. Kembali lagi ke pencarian info day care untuk anak saya di sini. Nah, sayangnya informasi mengenai pendaftaran dan biaya tidak dicantumkan juga, di sana hanya dicantumkan ke mana saya harus bertanya mengenai informasi ini (yaitu ke balai kota atau langsung ke salah satu taman kanak-kanak yang dituju). Phyuh… pada waktu itu saya tidak tau apakah informan di balai kota dan taman kanak-kanak tersebut bisa dan mau berbahasa Inggris. Yap. Kota ini memang kota “Internasional”, banyak orang asing tinggal di kota ini, baik mahasiswa maupun pekerja dan keluarganya. Namun percaya atau tidak, masih banyak yang komunikasi dalam pelayanan publik hanya mau berbahasa Jerman. Pelayanan publik terasa lebih baik dan lebih ramah jika kita menggunakan bahasa Jerman. Dan Bahasa Jerman saya tet tot.. menurut suami, seperti anak saya yang sedang belajar bahasa Indonesia. Hahahaaa.. Anyway, kekhawatiran saya benar juga.. Person in Charge untuk taman kanak-kanak di balai kota setelah saya temui ternyata hanya berbicara bahasa Jerman. Dia mengerti bahasa Inggris karena ketika saya hopeless tidak menemukan kalimat yang tepat dalam bahasa Jerman lalu saya menggunakan Bahasa Inggris, dia mengerti dan menjawab panjang lebar, tetapi dalam bahasa Jerman, dan tidak semua kalimat bisa saya pahami. Syukurlah waktu itu saya sudah sedia payung sebelum hujan, saya ditemani oleh seorang teman berkebangsaan Turki yang lahir dan besar hidup di Austria sehingga bahasa Jermannya sudah seperti penduduk lokal. Ke salah satu taman kanak-kanak pun demikian. Di titik itu saya merasa disitulah pentingnya relasi yang luas. Saya pun masih belajar membangun relasi.

Singkat cerita, inilah gambaran umum day care yang ada di taman kanak-kanak milik pemerintah di kota Leoben, Austria. Kurang lebih di kota-kota lain juga demikian, meskipun tidak plek-plekan sama.

– Di taman kanak-kanak terdapat dua macam grup : Grup Kindergarten itu sendiri (untuk usia 3-6 tahun) dan Grup Kinderkrippe (untuk usia kurang dari 3 tahun).
Jadi pembagiannya sudah jelas, berdasarkan usia. Usia menentukan stimulasi yang perlu dan tidak perlu mereka dapatkan sehingga berefek pada kegiatan sehari-hari yang akan mereka jalani selama di sana. Kinderkrippe inilah yang saya sebut sebagai day care. Jika diartikan ke dalam bahasa Inggris, Kinderkrippe memang artinya Playgroup. Akan tetapi di Indonesia, kinderkrippe lebih seperti gabungan antara day care dan playgroup. Namun supaya tidak bingung, maka saya tetap konsisten menggunakan istilah day care ya untuk kinderkrippe ini. Jadi kinderkrippe di sini semacam day care yang kegiatannya terjadwal, terstruktur, dan setiap hari anak-anak didampingi oleh pendidik lulusan sekolah Montessori dan pengasuh yang sudah di-training dengan baik oleh pemerintah untuk menjalankan metode Montessori.

– Apa itu metode Montessori? Silakan cari sendiri jawabannya di Google ya. Hehehe *takut salah jawab 😂.

– Kesannya kok keren atau sok keren itu ya bo day care aja Montessori segala? Ya gimana lagi yang ada ini di sini. Akhirnya saya malah jadi belajar dan mengakui kelebihan metode ini dalam menstimulasi anak. Dan sebenarnya tanpa disadari, banyak orang tua yang menstimulasi anaknya dengan metode ini. Mungkin Anda yang membaca tulisan ini juga menerapkan metode ini. Hanya saja ada yang menyadari dan tidak. Mengenal istilah metode Montessori dan menuliskannya di sini supaya memudahkan barangkali ada yang ingin menggali lebih dalam mengenai metode-metode Montessori yang menyenangkan dalam menstimulasi anak-anak kita, sudah banyak juga buku di pasaran maupun artikel di internet yang bisa kita manfaatkan, bagi yang tertarik.

– Baik Kindergarten dan Kinderkrippe ada yang full day (pagi sampai sore) maupun half day (pagi sampai siang). Kelompok fullday dan half day dipisahkan. Jadi anak yang terdaftar full day tidak akan ada di ruangan yang sama dengan yang half day. Karena jadwal kegiatan mereka berbeda.

– Istilah full day dan half day hanya menunjukkan durasi maksimal anak berada di sana. Full day : maksimal 10 jam (dari jam 7-17.00), akan tetapi disarankan maksimal 8 jam untuk mengakomodasi kebutuhan emosional anak akan quality time bersama orang tuanya. Half day dari jam 7-13.00.

– Di kinderkrippe, anak tidak harus datang pagi dan pulang pada jam tertentu selama masih di dalam waktu tersebut. Bebas. Dan yang perlu diingat, datang maupun tidak, bayarnya tetap sama ya. Hahaha *perhitungan. Anak saya biasanya tiba di daycare pada sekitar pukul 8.30 dan saya jemput sekitar pukul 16.15.

– Rutinitas setiap hari sama, yang berbeda adalah pädagogin, pengasuh, menu makanan, jenis permainan dan stimulasi yang dimainkan bersama-sama.

– Dalam satu grup hanya ada maksimal 12 anak. Setiap grup didampingi oleh 3 pengasuh dan 1 pädagogin setiap harinya.

– Jadwal day care full day :
7.00-9.15 bermain bebas di dalam ruangan
9.00-9.15 beberes ruangan bermain dan berkumpul di pintu keluar
9.15-9.30 berkumpul di ruang loker, bernyanyi bersama dengan gerakan, sambil mengantri cuci tangan
9.30-10.00 snack pagi bersama-sama
10.00-10.30 cuci tangan, ganti baju outdoor
10.30-11.30 bermain di halaman TK
11.30-12.00 ganti baju, cuci tangan
12.00-13.00 makan siang bersama
13.00-14.30an cuci tangan lanjut tidur siang
14.30an-15.00 bermain bebas di ruangan
15.00-15.30 beberes, cuci tangan
15.30-16.00 snack sore
16.00-17.00 bermain bebas di halaman (kalau cuaca cerah) atau di ruangan (kalau cuaca tidak memungkinkan).

Disana anak belajar untuk : mandiri (sesuai prinsip Montessori “help me, to do it myself”, bersosialisasi dengan teman seumuran maupun orang dewasa (pädagogin dan pengasuhnya), bereksplorasi dengan mainannya, merapihkan mainannya sendiri, fokus, menyukai buku, mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, dan disiplin.

image

image

Dengan pola yang sudah tertata seperti ini, mainan yang sangat banyak dan menarik, tempat yang bersih dan rapih, pädagogin dan pengasuh yang ramah, ternyata tetap bukan hal yang mudah bagi anak saya beradaptasi di sana pada awalnya. Tentu saja karena anak belum kenal dengan lingkungan baru itu serta habit yang jauh berbeda diterapkan di sana. Bersama ibu nya di rumah banyak hal lebih ditoleransi daripada di sana. Seringkali senjata ibunya mah… “wes sing anake meneng..” (yang penting anaknya ga rewel 😂, dalam batasan-batasan tentunya).

Adaptasi selama 3 minggu sangat berat. Apalagi karena anak masih terbiasa menyusui langsung. Anak nangis, rewel, minta pulang, sudah jadi santapan selama 3 minggu itu. Tapi semua itu sangat berarti. Kami berdua, saya dan anak, banyak mendapatkan manfaat dari sana.

Mau tau bagaimana perjalanan adaptasi Qila di day care? Simak postingan berikutnya yaa (Day care #3) 😆😆😆

#selalu_ada_cerita_untuk_dibagi

Sommer Fest 2016 (Festival Summer 2016)

Jadi ceritanya sejak hari Rabu yg lalu di sini sudah resmi masuk musim panas. Dan memang tiba-tiba suhunya jadi panas sekali. Huhah.. saking panasnya berasa lengket di kulit, mirip di Jogja panasnya.

Hari Jumat, TK tempat di mana day care nya anak bernaung, mengadakan “Sommer Fest”, festival untuk menyambut kedatangan musim panas. Setiap orang tua diminta membawa tikar, makanan untuk dimakan bersama, dan investasi €5 semingguan sebelumnya untuk mengundang pesulap. Wkkw.

Karena excited, saya terpikir untuk membuat onde-onde dan sudah tanya ke Pädagogin-nya dari 2 mingguan sebelumnya boleh atau tidak bawa onde-ond3 karena mengandung gluten/ ketan, bisi anak-anak banyak yang alergi gluten. Katanya boleh, engga apa apa nanti infoin aja ingredients nya apa. Tapi mendadak H-1 malas sekali ribet undel-undel satu-satu da ga ikutan makan juga da Ramadhan *lupa kalau anaknye butuh makan juga siang2 😂😂 ibu macam apa* Akhirnya H-1 sebelum jemput Qila di TK, impulsif-lah beli 2 kg anggur putih untuk hari H. Yess.. jadinya ga perlu capek2 bikin.

Sampai di TK, tanya lagi ke Pädagogin-nya, “gapapa kan bawa buah anggur?”. Kata Pädagogin-nya, “Mmm.. anak-anak umuran segini kayaknya belum bisa atau ga doyan makan anggur deh biasanya…” dan dia sangat tertarik pada onde-onde si makanan Asia itu.

Umaaak khilaf. Baru ingat juga kalau Qila juga belum bisa makan anggur (harus dikupaskan dan dipotongkan kecil-kecil, serta dihilangkan dulu bijinya). Yasudah, akhirnya bikin onde2 kira2 75-100 pcs, setelah solat subuh (eh Alhamdulillah onde-onde nya laris 🙂 )

Pas hari H, Pädagogin dan orang-orang TK sudah membuatkan semua anak day care kostum dengan tema penyihir dan sulap. Wkwk. Untuk anak-anak day care grupnya Qila, 2 minggu sebelumnya sudah diminta mengumpulkan kaos polos biru dongker. Ternyata sama mereka diberi gambar bintang-bintang dan bulan sabit menggunakan spidol khusus untuk tekstil. Mereka juga dibuatkan topi kerucut dan kalung yang saya pikir name tag ternyata bukan. Untuk anak-anak TK kostumnya topi dari kain, seragam, diberi gambar juga dengan spidol tekstil, pakai jubah (anak laki-laki), dan rumbai-rumbai dari kain jersey (anak perempuan). Semua kostum ini surprise, untuk orang tua. Kreatif maksimal memang tim TK nya. Nah kostum yang dikenakan oleh Pädagogin dan tim TK nya sih beda ya, terlihat paling “wah” karena sepertinya kostum sewaan sih. Haha.

Acara dibuka dengan parade pendek anak-anak dari dalam ruangan ke halaman depan TK. Setelah itu semua berbaris. Anak-anak TK melingkar berdiri, di belakang anak-anak TK itu berdirilah anak-anak day care. Karena anak-anak day care yang masih sangat innocent-innocent itu belum bisa diharapkan untuk berbaris sendiri, maka hampir semua digendong oleh orang tuanya. Termasuk Qila. Lalu kepala sekolahnya keluar berdiri di depan memandu Choir dengan gitar. Wew gaul ibu kepala sekolah TK nya padahal usianya kira-kira sekitar kepala 5, dilihat dari gesture dan penampilannya sih. Suaranya juga merdu. Anak-anak TK bernyanyi bersama kepala sekolahnya lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ee lhaa ternyata Qila bisa ikutan nyanyi juga! Sambil tepuk tangan dan goyang-goyang. Aduh nakkk terharu bunda mu ini.

Suasananya jadi mirip pentas seni perpisahan kelas. Iya sih minggu depan memang minggu terakhir di semester ini. Setelah itu liburan musim panas dan tahun ajaran baru (banyak yang lalu masuk SD, pindah dari day care ke TK karena usianya sudah cukup, atau berhenti bagi yang di day care karena memang belum wajib sekolah).

Choir selesai, ibu kepala sekolah meresmikan acara hari itu dan menjelaskan bahwa hari ini acaranya anak-anak dan orang tuanya bermain bersama di pos-pos permainan dan menonton pertunjukan sulap bersama-sama. Total ada 10 pos permainan. Setiap pos ada nomornya acak (bukan angka 1-10, tp ada yang puluhan juga), supaya anak bisa sambil belajar mengenal angka-angka puluhan.

Yealah saya pikir acaranya sekedar piknik santai sambil menonton anak-anak yang menonton sulap. Terlanjur pakai sepatu wedges..

image

wkwkw… akhirnya ya bisa ditebak… karena jalan dari pos satu ke pos lainnya, serta dari rumah ke halte dan halte ke rumah, akhirnya tiba di rumah, bundanya tepar bersama si anak.

Besok mau cerita keseruan di setiap pos-pos nya ah. Siapa tau bermanfaat bagi yang sedang cari ide bermain bersama anak di luar rumah.

Ada cerita seru juga dari sekolah anak? Ayo dibagi! 🙂

Salam dari Leoben, Austria ya.. *mau ngangkat jemuran*

#selalu_ada_cerita_untuk_dibagi