“Abah, Anakmu Ingin Bertemu… Babah, Dicari Cucumu..”

Minggu pagi 18 September 2016, saya terbangun dengan ceria. Anak saya akhirnya sembuh dari Rotavirus yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama 5 hari. Sudah seminggu terakhir sejak anak saya muntah dan diare intens, kami sekeluarga tidak punya banyak waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Maka hari itu, setelah akhirnya anak saya sembuh, saya berencana menghabiskan hari dengan menghubungi orang tua dan mertua, juga kakak dan adik kami sekeluarga, serta jalan-jalan santai di luar rumah, sudah satu minggu hanya berada di dalam ruangan.

Baru saya buka HP sebentar, kakak ipar saya menelepon. Betapa senangnya saya. Ternyata sehati, pikir saya. Kakak ipar menanyakan kabar saya, lalu minta nomor hp keluarga sepupu kami juga tetangga orang tua kami. Saya tidak curiga. Telepon dimatikan, saya langsung cari contactnya di HP. Belum ketemu, tiba-tiba ada whatsapp call masuk. Ternyata anak dari sepupu saya. Dia juga menanyakan kabar saya dan meminta nomor hp kakak/ kakak ipar saya. Dua telepon yang singkat. Saya mulai curiga. Khawatir ada sesuatu yang urgent, saya buru-buru mengirimkan nomor yang diminta ke masing-masing. Saya tunggu beberapa saat supaya mereka bisa saling menghubungi. Baru kemudian, mencoba untuk tenang, saya tanyakan ada apa kepada kakak ipar saya. Lalu berita mengagetkan itupun saya dengar. Sambil menangis kakak ipar saya berkata, abah terjatuh dari lantai dua ke halaman rumah. Beliau tidak sadarkan diri, sudah dibawa ke rumah sakit umum di dekat rumah, lalu dirujuk ke rumah sakit di kota lain yang lebih besar. Sontak sayapun ikut menangis.

Saya diminta untuk tenang menunggu kabar perkembangan abah. Di grup keluarga besar mulai di-broadcast informasi bahwa abah dirujuk dalam keadaan kritis dan minta didoakan sebanyak-banyaknya. Keluarga besar juga banyak merapat ke rumah sakit. Hati saya tercabik-cabik. Empat jam kemudian, kabar masih tak kunjung datang. Saya coba hubungi ibu dan saudara-saudara yang ada di rumah sakit. Saya tidak mendapatkan informasi yang saya inginkan, tentang kondisi medis Abah ataupun sekedar info bahwa sedang ada dokter yang menangani. Sambil panik saudara saya hanya minta saya untuk berdoa. Saya ingin pulang saat itu juga. Tapi saya harus realistis juga, kami tinggal di Eropa. Tabungan kami hanya cukup membiayai satu perjalanan tiket pulang. Sementara saya punya batita. Tidak ada pilihan lain selain hanya menunggu dan terus berdoa. Saya kerjakan pekerjaan sehari-hari yang mau tidak mau tetap harus dikerjakan sambil ndremimil mengirim surat Al Fathihah untuk Abah.

Tiba-tiba saya ingat. Saya punya teman seorang dokter di rumah sakit itu. Maka saya hubungi dia. Ternyata dia sudah resign dan tinggal di Eropa juga. Tapi betapa beruntungnya saya, dia ternyata masih menjalin komunikasi dengan rekan-rekan dokter di rumah sakit itu. Dengan cekatan dia membantu saya mencarikan info tentang kondisi medis Abah. Alhamdulillah meskipun diagnosanya berat, tapi saya mendapat kejelasan dan banyak saran dari pandangan seorang dokter.

Abah mengalami cedera otak sedang. Ada pendarahan yang menyebabkan beliau tidak bisa bergerak juga merespon suara dari lingkungan dan pendarahan itu harus dievakuasi segera melalui operasi. Astagfirullah. Saya tegang. Selagi menunggu penjelasan dari teman saya itu, suami tidak bisa tinggal diam. Dia langsung memforward pesan berbahasa medis ke temannya yang juga dokter. Dan kami mendapat info serupa yang saling melengkapi. Intinya tetap, harus dioperasi segera.

Karena tidak ada keluarga yang bisa memberikan informasi realtime perkembangan di rumah sakit, bahkan hingga malam tiba, maka saya khawatir. Kami tak hentinya mencoba menghubungi keluarga untuk memastikan bahwa jika dokter sudah menawarkan solusi operasi, maka harus disetujui. Syukurlah, kakak saya sebagai laki-laki tertua pengganti Abah di keluarga kecil kami, yang saat itu masih dalam perjalanan dari Tanjung Balai, memiliki tabiat selalu percaya pada ahlinya. Maka dia yang ternyata dihubungi via telepon oleh dokter, langsung menyatakan setuju operasi dilakukan dan tidak perlu menunggu kakak saya sampai di rumah sakit terlebih dulu. Walaupun pada akhirnya ternyata operasi baru siap dilaksanalan sesaat setelah kakak saya sampai rumah sakit.

Syukurlah, setelah itu saya mulai bisa mendapatkan info real time dari rumah sakit via kakak ipar. Termasuk saat operasi akan dimulai, pukul 6 pagi waktu Indonesia Barat atau 1 malam waktu di negara kami tinggal. Semalaman saya masih terus ndremimil Al Fathihah dengan kecepatan yang kian lama kian berkurang karena stamina menurun. Saya tidak bisa tidur membayangkan Abah terbaring koma di UGD, masih bisa mendengar tapi tidak bisa merespon, ibu dan keluarga besar lain menunggu di luar UGD dari pagi hingga hampir pagi lagi, kakak ipar saya sedang hamil dan anaknya yang batita juga turut di sana, mereka juga pasti sangat lelah dan tidak bisa tidur.

Alhamdulillah operasi dinyatakan berjalan lancar dua jam kemudian. Saat itulah, saya mulai bisa sedikit bernafas lega dan memejamkan mata…

Hari ini, kondisi Abah sudah semakin membaik. Beliau sedang belajar jalan dan sudah mulai kuat jalan dari ruang tamu ke kamar. Ingatannya masih perlu pemulihan. Lusa yang lalu, saya sempat ngobrol dengan beliau cukup lama di telepon. Suaranya begitu sehat. Hanya badannya saja yang masih lemah. Beliau banyak bertanya tentang apa-apa yang beliau lupa, tentang background pendidikan saya dan suami juga yang sedang dijalani, kami ada di mana, sampai kapan, umur anak saya, apakah sudah waktunya sekolah, nama urutan sekolah, dsb, saya jawab semua yang beliau tanya perlahan, beliau senang mendengarnya seolah rasa penasarannya terjawab sudah. Beliau sempat curhat, merasa badannya remuk dan pesimis tidak bisa kembali seperti dulu. Juga sangat ingin bertemu dengan kami. Bagian ini membuat saya ingin sekali pulang dan menemani Abah membantu proses pemulihannya.

Teringat semasa kami masih di Indonesia, dari saya kecil hingga saat mau berangkat ke Eropa, Abah hampir selalu hadir meringankan kesulitan-kesulitan saya. Sekarang, di saat beliau mengalami masa sulit, justru saya tidak bisa ada di sana. Sedih dan merasa bersalah.

Abah, kami juga ingin sekali bertemu. Cucumu juga sudah dari lama menunggu saat-saat bisa bermain-main lagi denganmu meskipun itu hanya di video call. Cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala ya Bah… maafkan kami karena belum bisa pulang sekarang…

Advertisements

Allah swt Maha Adil, Setiap Hamba Merasakan Ujian-Nya

Hari ini saya kembali diingatkan oleh-Nya, tak ada hamba yang luput dari ujian-Nya. Mungkin juga setiap hamba akan merasakan susah yang tingkatan beratnya bagi masing-masing orang setara, dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ibu saya adalah anak ke-3 dari 3 bersaudara yang seayah seibu, namun anak ke-12 dari 12 bersaudara se-ibu lain ayah, dan anak ke sekian dari sekian bersaudara seayah lain ibu. Ibu saya lahir di dunia yang kala itu masih menganut kuat budaya leluhur bahwa seorang wanita seharusnya tumbuh menjadi seorang ibu rumah tangga (tidak bekerja di kantoran) yang baik, sehingga dididiklah beliau dan saudara-saudara perempuan yang se-ibu sedari kecil hingga dewasa untuk belajar menjadi ibu, mengurus rumah, bercocok tanam, memasak, menjahit, membaca, menulis, dan belajar agama. Ibu saya yang ingin menjadi guru pun dilarang, dan disekolahkan ke pondok bukan ke sekolah guru. Maka jadilah ibu saya yang sekarang, seorang ibu rumah tangga cekatan, telaten, seorang qiro’ah, idola suami dan anak-anaknya. Beliau menikah dengan ayah saya yang kala itu sudah menjadi polisi dan merintis hidup mandiri, dari bawah. Saya selalu ingat cerita ibu saya bagaimana beliau mengatur keuangan keluarga dan berdagang, hijrah dari desa tempatnya dilahirkan ke kota kecil, hingga akhirnya bisa memiliki sendiri rumah hasil kerja keras berdua dengan ayah saya. Saking banyaknya potongan-potongan cerita ibu, membuat saya bisa membayangkan garis besar keseluruhan cerita dalam hidupnya. Betapa pahitnya terlahir di keluarga poligami dan lingkungan yang belum mendukung kesetaraan gender, hingga beratnya masa-masa awal setelah ibu menikah, membuat ibu selalu menomorsatukan keutuhan keluarga kecil kami dan memperjuangkan pendidikan anak-anaknya. “Walaupun perempuan, kamu harus bisa kerja, jangan bergantung pada suamimu” nasehat seperti ini sering sekali saya dengar. Hingga akhirnya anak pertama nya berhasil menjadi sarjana teknik mesin dan bekerja di bidang perminyakan sementara saya adiknya menjadi apoteker.

Ayah saya terlahir di salah satu daerah di pesisir Jawa yang sempat menjadi target penyerangan PKI bertahun-tahun yang lalu ketika beliau masih berumur belasan tahun. Akibat penyerangan itu, ayah dan saudara-saudara kandung serta nenek saya harus terpisah-pisah merantau ke daerah ataupun kota-kota lainnya demi menyelamatkan diri masing-masing. Alhamdulillah beliau dibesarkan di tanah pasundan oleh pamannya. Lulus SMA, ayah nekat merantau kembali ke Jawa Tengah, mendaftarkan diri sebagai
polisi, hanya berbekal nekat. Takdir Allah, beliau berhasil menjadi polisi. Sebagai wujud rasa syukurnya itulah beliau selalu berusaha menjaga amanah dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Saya terlahir di dunia yang berbeda. Di dunia modern di mana kesetaraan gender sudah menjadi hal yang biasa. Wanita bekerja bukan hal yang pamali lagi. Saya ditumbuhkan dalam keluarga yang utuh, lingkungan yang baik, dan disekolahkan ke sekolah-sekolah terbaik. Saya menikah dengan seorang insinyur dan mencoba merintis hidup mandiri namun seringkali gagal mandiri karena betapa baiknya keempat orang tua kami sehingga sering memberikan kami hadiah selain doa, entah berupa materi maupun perhatian, waktu dan tenaga, yang jauh lebih besar nilainya dari apa yang didapatkan oleh ibu sewaktu muda dulu dan lingkungan yang jauh lebih kondusif daripada masa muda ayah. Betapa hidup saya berjalan nyaris mulus. Bisa dibilang begitu.

Kini saya harus hidup merantau bersama suami dan anak kami di negeri orang. Negeri yang sangat jauh, 17 jam perjalanan udara. Negara dengan standar hidup luar biasa. Regulasi yang ketat berhasil membuat pasar menawarkan barang dan jasa dengan standar kualitas yang tinggi dan tentunya harga yang sama sekali tidak menarik. Kami hidup dengan beasiswa studi suami saya yang jumlahnya selalu diragukan oleh pemerintah negeri ini akan bisa menghidupi kami sekeluarga. Nyatanya, meskipun mungkin terlihat sederhana dibanding orang-orang lain di sini, kami tetap makan nasi dengan kualitas beras yang sama seperti yang kami makan di Indonesia, Alhamdulillah magic com kami belum pernah kosong kecuali sewaktu kelupaan menanak nasi atau memang ingin makan yang lain. Alhamdulillah anak bisa minum susu 2 gelas sehari, lauk, sayur dan buah juga tak lupa hadir di meja makan untuk sekeluarga kecuali kami lupa untuk belanja. Kami bisa menabung dan sesekali jalan-jalan. Kami sehat dan bahagia. Alhamdulillah nikmat yang luar biasa dianugerahkan oleh Allah.

Maka dengan segala kenikmatan ini kadang saya bertanya dalam hati, mengapa Allah menguji ayah dan ibu dengan ujian yang berat di masa mudanya sembari tak lupa berdoa untuk kebahagiaan keduanya di dunia dan akhirat.

Kemudian hari ini, saya mendapatkan jawabannya. Kami sekeluarga besar mendapatkan ujian bersama-sama. Ayah jatuh tiga minggu yang lalu dari ketinggian, kepalanya terbentur hingga terjadi pendarahan di otaknya sehingga harus dioperasi. Operasi berjalan lancar dan saat ini sedang pemulihan. Beliau sedang belajar berjalan, harus menjalani fisioterapi mata dan ingatan karena banyak hal yang akibat kejadian ini beliau tidak bisa mengingatnya termasuk saya. Secara bertahap beliau mulai ingat sedikit semi sedikit. Ujian yang berat bagi saya, adalah karena saya belum bisa hadir secara fisik untuk mendampingi pemulihan beliau. Apalagi kemarin beliau bilang ingin sekali bertemu dengan kami. Sementara kami belum siap secara materi, benar-benar tidak siap, hal yang berat untuk disampaikan kepada ayah yang masih dalam pemulihan pasca operasi otak. Kami sadar kami tidak boleh berlama-lama. Kami sadar kami harus mempersiapkan diri secepat-cepatnya. Suami saya berkomitmen untuk bisa lulus tepat waktu, 14 bulan lagi, insya Allah. Dan saya akan ‘mengencangkan ikat pinggang’ dan ‘memakai kacamata kuda’. Inilah jawabannya. Allah maha adil. Hamba-Nya tidak akan luput dari ujian-Nya pada tingkat kesulitan yang sama, dalam bentuk yang berbeda. Maka Allah pasti juga akan memberikan kemudahan di setiap kesulitan.

Semoga ayah segera pulih tanpa kurang suatu apapun dan Allah memberikan kekuatan kepada kami untuk dapat melalui ujian ini dengan baik. Aamiin2 yra..

Saya Kembali

Ooh astaga 🙂 Sudah lama sekali semenjak postingan saya yang terakhir. Tidak terasa waktu sudah bergulir begitu cepatnya. Tiga tahun yang lalu setelah lulus pendidikan apoteker di Bandung saya langsung mengabdikan diri di dunia industri kecantikan. Persis setelah itu berbagai kesibukan tidak pernah absen datang menguras fisik, mental, dan energi. Seharusnya itu semua bukan jadi alasan untuk berhenti menulis blog, tapi apa daya, segala kesibukan membuat saya lupa beberapa akun dan password saya di dunia maya. Sialnya akun email yang saya gunakan untuk verifikasi akun blog ini ngehang, bisa masuk tapi tidak bisa buka inbox. Jadi tools bantuan untuk mencari password blog pun tidak bisa membantu.

Saat ini, tiga tahun setelah lulus pendidikan apoteker, saya sudah menikah dan dikaruniai seorang bayi lucu dan cantik 🙂 Anak saya membuat saya tidak bisa menolak keinginan suami untuk berhenti dari tempat saya bekerja sebelumnya. Tanpa tekanan. Sekarang saya menjadi fully mommy. Inilah titik baliknya. Saya kembali. 🙂

image

Kepiting vs Kelapa (sebuah filosofi sederhana)

Pernah dengar kompetensi monyet/ kera dalam memanjat pohon kelapa, memetiknya satu-persatu, dari pohon kelapa yang satu ke pohon kelapa yang lain? Rahasia umum… ternyata si monyet tidak hanya jago mendorong gerobak, memakai topeng, lalu pergi ke pasar saja (topeng monyet-red), tetapi juga membantu si majikan memetik buah kelapa dari pohonnya, dalam rangka panen atau disewa oleh juragan kelapa. Tidak hanya tarzan, monyet memang pandai memanjat, melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, semua orang sudah tahu.

Kalau kepiting, pernah dengar ada kepiting pemanjat pohon kelapa? Memetik kelapa satu-persatu. Hal yang membedakannya dengan monyet adalah bentuknya (ya iyalah..), eh bukan.. yang beda adalah kepiting ini (kepiting egois), dia naik lalu turun lagi ke bawah mengupas kulit kelapa yang jatuh dan memakan isinya. Di Maluku, kepiting seperti ini banyak berkembang, namanya ketam kelapa (ketam=kepiting). Dilihat dari bentuknya sih sama sekali tidak mirip kepiting, tetapi kumbang. Tah papa kenapa disebut kepiting..

Alih-alih memikirkan kenapa si kumbang disebut kepiting, saya lebih tertarik dengan filosofi di balik itu semua. Kepiting, layaknya kepiting pada umumnya, seberapa besar sih ukurannya (kecuali kepiting raksasa, kepiting paling besar rasa-rasanya hanya sebesar telapak tangan orang dewasa). Bandingkan ukurannya dengan pohon kelapa… mungkin bagaikan saya dengan menara Pisa. Bedanya, naik ke puncak menara Pisa bisa dengan tangga, tapi kalau naik ke pucuk kelapa? Tidak ada tangganya…

Nah.. dari sini saya terpikir sebuah filosofi sederhana. Judulnya “Filosofi Kepiting vs Kelapa”. Si kepiting, untuk bisa menikmati isi kelapa makanannya harus memanjat tingginya pohon kelapa, lalu jika kelapanya jatuh dia harus turun lagi sebelum dapat menikmatinya (capek juga ya). Demi isinya.. demi makanannya.. supaya bisa bertahan hidup…

Analoginya, dalam beberapa hal, untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, memang kita harus bersusah-susah dahulu, segalanya dimulai dari bawah itu pasti. Meskipun ketika sudah sampai di puncak, belum tentu sesuatu yang kita kejar itu sesuai seperti yang kita harapkan, maka ikhlaskan.. Guys, summit itu hadiah..

Kalau kepiting bisa, kenapa kita tidak, manusia yang jelas dianugerahi derajat yang lebih tinggi. Malulah sama kepiting… ;p

Suddenly inspired..

of one-of-Indonesia’s-great-woman, Fatmawati Soekarno.

Real gait for Indonesia since before the indonesian independence, when she was a president’s wife, and after she became a single-parent because her husband chose to marry another woman. Like Kartini, she was an upholder the dignity of women too. Her gait not during her lifetime only, but until now, her gait is shown by people’s great works, who were born from her womb. Wow.

Outside of it all, she remained simple along her life. Love her way to be independent. Maybe later they’ll be… from me, gait and children but not about the problem with polygamy. hahhaa. amen anyway 🙂

Manisnya Lebih Terasa bila Kita Tahu Rasanya Pahit

Smile smile smile, the day i used to smile almost time was actually my birthday. Yes. It was yesterday! =)

Saya membuka dan menutup hari itu dengan tersenyum. Indahnya.. ketika hampir semua orang yang saya kenal menotifikasi bahwa hari itu bukan sekedar hari senin bagi saya, ketika orang-orang yang kita sayang meluangkan waktu, tenaga, dan tentu saja uang hanya untuk membuat hari itu berkesan, tentu juga ketika tiba saatnya jari jemari dengan lincah namun hati-hati membuka bungkusan-bungkusan lucu. Hm.. keindahan yang hanya bisa dinikmati sekali setahun. Hey, tetapi tidak kali ini. Ada sesuatu yang spesial, yang berbeda, yang saya rasakan lebih dari itu. Akhirnya saya mengerti, sesuatu itu akan terasa saaaangaaat manis bila kita pernah tau rasanya pahit.

Makasih yaa Andy Yahya Al Hakim, Devi Kamilia, Raiza Pratitha, Citta Masyitta, dan Fellyza Yunisari.


ANNE FRANK

Anne Frank

Dia adalah sosok gadis yahudi yang terlahir empat tahun lebih awal sebelum Adolf Hitler diangkat menjadi Kanselir Jerman. Masa kecilnya menyenangkan sampai pengangkatan Hitler karena kemudian hidupnya -juga orang2 yahudi lainnya- terusik oleh Hitler dan Nazi yang anti-yahudi. Ayahnya terlebih dahulu pindah ke Belanda untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih aman dan baik. Setahun kemudian, Anne bersama kakak perempuan dan Ibunya menyusul ke Belanda. Malang, Nazi tak lama kemudian mulai menginvasi Belanda. Sejak saat itu, Anne harus berpindah-pindah sekolah untuk menghindari invasi Nazi.Jerman di bawah Hitler memperlakukan orang Yahudi dengan buruk. Mereka mendapat perlakuan sangat kasar dan diangkut dengan menggunakan kereta ternak secara bergerombol ke suatu tempat yang jauh dan tidak manusiawi, ada yang bilang, di bunuh disana. Mereka dibedakan dari yang lain (non yahudi) dengan menggunakan suatu lencana.Tiga minggu setelah ulang tahunnya yang ketiga belas, Anne dan keluarganya terpaksa harus benar-benar bersembunyi. Ayahnya telah menyiapkan sebuah ruangan rahasia di dalam rumahnya. Namun lama kelamaan mereka merasa tak aman lagi tinggal di rumah itu, akhirnya mereka mengungsi ke rumah seorang kerabat yang baik hati dan bukan yahudi yang rela memberikan tempat dan mau merahasiakan dari nazi. Sejak saat itu, Anne mulai rajin menulis buku harian yang ia dapat sebagai kado ulang tahun dari ayahnya.

“Banyak teman dan kenalan kami sesama orang Yahudi yang dibawa pergi secara berkelompok. Gestapo memperlakukan mereka dengan sangat kasar, dan mengangkut mereka dengan kereta-kereta ternak ke Wasterbork, sebuah kamp besar di Drenthe, di mana semua orang Yahudi dikumpulkan. .. Jika situasi di Belanda saja sudah begitu buruk, bagaimana di tempat-tempat yang jauh dan tak beradab di mana Jerman membuang orang-orang yahudi itu? Kami menyimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka dibunuh. Radio Inggris mengatakan mereka dibunuh dengan cara digas.”

Kehidupan di tempat persembunyian pada saat itu, tentu saja, begitu mencekik, tegang, namun membosankan karena mereka di sana bukan untuk sehari atau dua hari.Tidak boleh ada suara sekecil apapun, karena dapat memberikan pertanda bagi pihak lain.

Di halaman yang lain di buku hariannya, Anne menulis “Sangatlah mustahil bagi saya membangun hidup berlandaskan kekacauan, penderitaan, dan kekacauan, penderitaan dan kematian. Saya menyaksikan dunia tengah berubah secara perlahan menjadi liar. Saya mendengar kilat yang menyambar, yang suatu hari nanti akan menghancurkan kami. Saya merasakan penderitaan jutaan orang. Meskipun demikian, setiap kali menatap langit saya merasakan pada akhirnya segala sesuatu nya akan berubah menjadi lebih baik, bahwa segala kekejaman ini akan berakhir, serta ketenangan akan kembali hadir.”

Suatu hari tempat persembunyian mereka terbongkar, mereka pun digerebek dan di bawa ke tempat di mana orang-orang Yahudi lainnya dibunuh. Pada saat inilah Anne,kakak perempuan dan Ibunya terpisah dari Ayahnya. Memilukan. Selama di tempat pembuangan mereka berusaha mencari informasi mengenai ayahnya namun tak pernah ada berita baik. Dan akhirnya mereka pun percaya bahwa ayahnya telah meninggal. Di tempat pengasingan di mana wabah tifus merebak, Anne dan kakaknya pun terserang, dan akhirnya meninggal dunia. Ibunya pun meninggal di tempat tersebut.

Selama mereka diasingkan, sahabat2 baik ayahnya yang memberikan tempat untuk tinggal, menemukan kertas2 potongan buku harian Anne berserakan di lantai. Mereka pun mengumpulkan dan menyimpannya. Seusai perang, ayah anne yang sesungguhnya msih selamat, kembali ke Amsterdam lalu membuat pengumuman untuk mencari istri dan anak2nya. Dia belum mengetahui bahwa mereka semua sudah tiada.Pengumuman yang ia buat berhasil mempertemukannya dengan sahabat2nya, yang kemudian menyerahkan potongan tulisan Anne kepada Ayahnya. Pada akhirnya tulisan Anne diterbitkan dengan judul Secret Annexe 2 tahun setelah Anne meninggal.Saat ini rumah keluarga Anne di 263 Prinsengracht menjadi museum Anne Frank. Buku hariannya kini telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa dan menjadi salah satu buku yang paling banyak dibaca di dunia.

Anne Frank ibarat Ade Irma Suryani Nasution di Indonesia, gadis malang yang tidak tau apa-apa harus menjadi korban kejamnya dunia politik. Dia meninggal di usia sangat muda, 15 tahun. Sedih dan terhanyut juga baca buku yang menceritakan kisah Anne Frank ini. Dan membuat saya makin bersyukur terlahir pada waktu dan tempat di mana perang dan penindasan seperti ini tidak lagi terjadi. >o<

FYI, kisah tentang Anne Frank selain dalam buku hariannya yang telah dibukukan juga telah diabadikan dalam “Wanita-Wanita yang Mengubah Dunia” karya Rosalind Horton dan Sally Simmons tahun 2006. Buku ini berisi tentang kumpulan cerita tentang wanita-wanita yang pernah mengukir sejarah di dunia. 😉