“Kesiapan” Anak Masuk Day Care = Kolaborasi Bersama antara Orang Tua, Anak, dan Tim Day Care

Di sini, di Leoben-Austria (dan kebanyakan kota lainnya di negara ini), memasukkan anak di day care tidak lantas hanya mengantar anak dan langsung meninggalkannya sejak hari pertama masuk. Akan tetapi ibu, ayah, atau anggota keluarga terdekat lainnya seperti nenek, dsb, wajib ada yang menemani selama beberapa hari, sampai anak terbiasa dan siap untuk dilepas di day care.

Apa tanda-tanda anak sudah siap untuk ditinggal?
Anak dinyatakan sudah siap ditinggal jika :
– Tidak menangis jika ditinggal di day care tanpa ada anggota keluarga yang terlihat di sana, atau menangis sebentar akan tetapi segera bisa ditenangkan oleh pengasuh atau pädagogin yang ada.
–  Sudah bisa tidur siang di day care tanpa ada anggota keluarga di sekitarnya.

Dua hal tersebut bagi batita tentu pada umumnya sulit terjadi ketika berada di lingkungan baru dan dikelilingi oleh orang-orang baru. Oleh karena itu diperlukan proses adaptasi. Untuk proses adaptasi inilah peran anggota keluarga terdekat, terutama ibu atau ayah, diperlukan pada beberapa hari di awal. Ibu atau ayah diajak berkolaborasi pada saat masa adaptasi.

Proses adaptasi berupa :
– Sejak hari pertama, ibu/ ayah ikut masuk ke dalam ruangan day care dan mengikuti semua kegiatan bersama anak-anak, pädagogin, dan pengasuh.
– Selama masa adaptasi, anak dan ibu/ ayah datang kurang lebih pada pukul 8 pagi.
– Pada hari pertama, anak dan ibu/ ayah hanya perlu berada di day care selama kurang lebih 1 jam.
– Pada hari kedua, ketiga, dst selama masa adaptasi, durasi berada di day care bagi anak dan ibu/ ayah ditambahkan kurang lebih sekitar 1 jam.
– Pada hari ketiga, setelah setiap 1 jam berada di day care, ibu/ ayah akan diminta untuk keluar dari ruangan, sehingga tidak terlihat oleh anak, akan tetapi masih di dalam area TK. Kurang lebih 10 menit kemudian ibu/ ayah boleh masuk kembali untuk melihat keadaan anak, apakah menangis, mencari keberadaan ibu/ ayah, atau tetap asik mengikuti kegiatan bersama yang lainnya.
– Jika 10 menit ditinggalkan pada hari sebelumnya ternyata anak menangis dan tak bisa ditenangkan oleh pengasuh dan pädagogin, maka hari keempat dan seterusnya perlakuan sama seperti hari sebelumnya. Namun jika anak menangis tetapi masih bisa ditenangkan, atau bahkan lebih baik daripada itu (tidak menangis sama sekali), maka durasi ditinggalkannya diperpanjang secara bertahap, bisa 20 menit – 1,5 jam setiap hari nya. Berapa lamanya tergantung kesiapan anak, sehingga bisa berbeda-beda antara anak satu dan yang lainnya.
– Proses ini berlangsung setiap hari hingga tanda-tanda kesiapan anak yang tadi saya sebutkan tercapai. Pada umumnya berlangsung sekitar 3-4 minggu, menurut tim TK dan berdasarkan cerita para orang tua yang anaknya sudah berhasil dilepas di sana.
– Setelah anak dinyatakan siap untuk dilepas, pädagogin akan mengisyaratkan di hari berikutnya, bahwa ibu/ ayah hanya perlu mengantar dan menjemput anak pada jam yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
– Jika ibu ataupun ayah berhalangan, maka bisa digantikan oleh anggota keluarga terdekat lainnya seperti neneknya misalnya.

Memang setelah saya pikir-pikir, betul juga, dengan turut sertanya orang tua pada masa-masa awal anak di day care akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan anak dengan lingkungan baru nya di day care. Tentu selain memudahkan proses adaptasi anak, juga kesempatan bagi kita sebagai orang tua untuk mengetahui dengan mata kepala sendiri kegiatan sehari-hari di day care, bagaimana cara pädagogin dan pengasuh memperlakukan anak-anak (termasuk anak kita), serta bagaimana perilaku teman-temannya, agar lebih tenang nantinya ketika menitipkan anak tanpa kita sebagai orang tuanya di sana.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan ibu/ ayah yang menemani supaya bisa membantu proses adaptasi anak?
Ini di antaranya yang bisa saya simpulkan berdasarkan pengalaman pribadi :
– Meningkatkan kepercayaan anak pada lingkungan baru di day care dengan membentuk bonding antara diri kita dengan day care, pädagogin, pengasuh, dan anak-anak yang ada di sana. Bisa dilakukan dengan kita mengobrol, akrab, tertawa, bercanda, bermain, dsb, dengan pädagogin, pengasuh, orang tua anak lain jika ada, maupun anak-anak yang ada di sana.
– Memperkenalkan anak kita dengan mereka (menyebutkan namanya, mengarahkan anak kita untuk bersalaman, mengucapkan halo, dan bersosialisasi dengan yang lain) tetapi jika anak tidak mau, tidak perlu dipaksa pada saat itu. Anak bisa diajak lagi berinteraksi dengan temannya di waktu yang lain. Yang terpenting, jangan menyerah.
– Bermain bersama anak dengan semua mainan yang ada secara bergantian, untuk membantu proses orientasi anak terhadap ruangan bermain
– Ketika pädagogin mengajak anak-anak bernyanyi sambil membuat gerakan, kita sebaiknya ikut juga bernyanyi dan bergerak.
– Menerapkan peraturan yang sama seperti yang diterapkan oleh pädagogin di day care, misalnya mengarahkan anak untuk merapihkan mainan sebelum ganti main yang lain, mengarahkan anak untuk duduk ketika sesi tertentu, dsb. Ini akan membantu anak beradaptasi dengan peraturan yang diterapkan di sana.
– Fokuskan diri di ruangan itu bersama anak dan yang ada di sana. Simpan dulu gadget dan sejenisnya :):):)
– Di luar day care (di jalan/ di rumah), ajak anak mengobrol tentang keceriaan hari itu di day care. Beri sugesti positif pada anak bahwa hari itu sangat menyenangkan, bermain dengan A, B, dst, pengasuh dan pädagoginnya baik, anak kita pintar karena tidak rewel/ hanya rewel sedikit dan mau bermain dan berbagi mainan dengan yang lain, dsb. Beri pujian atas pencapaiannya yang bertambah setiap hari sehingga dia merasa dihargai dan termotivasi untuk lebih baik lagi keesokan harinya.

Mungkin masih banyak tips-tips yang lain. Setidaknya beberapa hal di atas yang sangat membantu adaptasi anak saya di day care nya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat juga bagi para orang tua yang mau memasukkan anaknya ke day care ya 🙂

Kalau ada ayah ibu yang punya pengalaman tips yang lainnya, boleh ya share di comment 🙂

image

Membuat Paspor untuk Bayi

Bayi saya, umurnya tujuh bulan sudah punya paspor. Bapak dan ibunya baru punya paspor setelah kerja. Ckckkc… si Nusantara (nama anak saya) ngalah-ngalahi (mengalahkan) bapak dan ibunya.
Paspor Aqila (nama panggilan si Nusantara) saya sendiri yang mengurusnya berhubung bapaknya sudah imigrasi ke Austria. Suami saya mendapat beasiswa S3 di negeri itu dan sudah berangkat dari akhir bulan Januari 2015. Beberapa bulan kemudian suami yang kesepian meminta saya dan Aqila segera menyusul, awalnya direncanakan menyusul tahun 2016, hehe. Saya sih semakin cepat keluarga kecil kami bisa berkumpul kembali semakin senang.

Continue reading “Membuat Paspor untuk Bayi”