Toilet Training Jilid II Hari ke-3 “ALARM DAN JAM PASIR”

Yess Alhamdulillah hari ini kami lalui dengan lebih santai dan anak masih bisa dibujuk rayu dengan stiker dan mainan. Hari ini kami juga konsisten memberlakukan metode alarm dan jam pasir.

Diaper yang ‘menjaga’nya selama tidur saya lepas usai sarapan, cuci dan jemur baju anak yang terkena ompol. Setelah itu saya pasang alarm untuk 57 menit ke depan sebagai reminder untuk ke toilet.  Kenapa angkanya tanggung, wk3, kan kami menjadwalkan setap jam anak ke toilet. Kadang kami perlu waktu untuk membujuk, belum lagi kalau sudah di depan pintu toilet si anak gadis ini tiba-tiba kabur. Wkwkwk. Ditambah acara lepas celana dan naik ke potty rata-rata perlu 3 menit. Jadilah alarm nya per 57 menit bukan 60 menit.

Alarm ini beneran bikin kami orang tuanya jadi lebih santai. Stress berkurang. Kami tidak perlu sebentar-sebentar melirik jam dan mengingat-ingat jam berapa ya tadi terakhir pipis dan jam berapa nanti harus ke toilet lagi. Jadi lebih los. Yang penting jangan lupa alarmnya dipasang tiap habis pipis. He3…

Nah, ternyata alarm selain melegakan pikiran kami juga membuat anak kami dengan sendirinya lebih aware dengan jadwalnya ke toilet. Pada awalnya tiap alarm bunyi kami bilang, “aha! Waktunya ke toilet!”. Alarm berikutnya sering dia dulu yang merespon.

Tutututut tutututut tututut.. (Alarm berbunyi)
“Watunya apa tuh??” (Waktunya ngapain tuh?) Tanya anak kami yang sedang asik bermain.

Masih soal manajemen waktu, jam pasir kami pakai selama di toilet. Kebetulan anak kami memang pernah saya belikan benda kecil ini sewaktu untuk belajar gosok gigi. Sekarang ternyata berguna juga untuk TT.

Terkadang pipis tidak langsung keluar setelah anak duduk. Harus menunggu beberapa menit, atau bahkan memang belum waktunya keluar. Nah, perkara ‘menanti’ memang sering bikin galau kan. Itulah fungsinya jam pasir, menghalau kegalauan. Tepat setelah anak duduk di potty, saya balikkan jam pasirnya. Jadi kami hanya perlu menunggu sampai pasirnya habis. Sambil memandangi jam pasir, pasang stiker, nyanyi-nyanyi, ngobrol, supaya tidak bosan. Yap! Bisa juga sih pakai jam, ya kira-kira sampai semua pasirnya turun itu sekitar 3 menit. Tapi saya rasa jam pasir lebih seru.. apalagi untuk anak-anak kan..

Apa yang kami dapat setelah 3 hari TT?

Buat kami orang tuanya, TT itu melatih kesabaran. Hari pertama kami jelaskan ke anak, kalau mau pipis bilang ya, jangan di celana, tapi di toilet. Anak tampak mengerti tapi kok masih bocor-bocor terus?

Ya, dengan kami jelaskan seperti itu dia memang jadi paham pipis itu di toilet. Tapi ternyata pipis sendiri itu apa, kapan itu akan terjadi, kebelet itu bagaimana, justru itu yang belum dia pahami, dan itu sama sekali bukan suatu kesalahan. Wk3… aduh.. ya maaf saya sendiri sudah lupa dulu pas bayi gimana.. hehehe… jadi ya wajar masih bocor.

Nah berdasarkan pengamatan trainer TT newbie ini, di awal-awal kalau sudah duduk di potty dan ‘tidak terjadi apa-apa’ itu juga kadang karena dia masih terbiasa dengan pipis bukan di potty. Jadi sampai sekarang kalau sekitar 3 menit jam pasir di potty belum juga keluar pipisnya, saya persilakan dia jongkok di shower room, maksimal 3 menitan juga, kalau lama-lama kan ya capek dan bosen kali ya. He3.

Saya percaya bahwa anak adalah peniru ulung. Jadi ya pelajaran dengan contoh real biasanya anak lebih cepat paham. Paham kan maksudnya.. hehe iya… diajak pipis bareng..

Alhamdulillah hari ini 7x pipis, 4 nya sudah di toilet. Tapi yang 4 ini masih karena jadwal. Bukan karena dia sudah ngeh ‘aku kebelet pipis’ terus bilang mau ke toilet. Wkwkwk.. perjalanan masih panjang tampaknya.. sabarrr semangattt 💪💪💪

Toilet Training Jilid II Hari Ke-2 “MAINAN KECIL DAN STIKER LUCU”

TT pagi ini dimulai setelah kami selesai rutinitas sarapan pagi ditambah kegiatan baru : cuci dan jemur baju-baju yang kena ompol hasil TT seharian kemarin. Setelah itu diaper anak baru deh dilepas supaya agak ‘selow’ dulu selepas bangun tidur. Sarapan tenang hatipun nyaman… 😁

Rupanya dua hari ini kami bertiga cukup beruntung karena kok kebetulan anak selalu pupup pas diaper masih dipakai. Hehe Alhamdulillah jadinya bisa fokus dulu sama training pipis.

Training hari ini dimulai dengan anak yang pipis pas lagi mandi pagi. Yeyeyey! Gini kan jadi semangat dan gampang ngitung waktunya. Sama seperti kemarin, setiap jam anak dijadwalkan ke toilet. Kali ini bundanya sudah lebih siap mengantongi beberapa trik bujuk rayu supaya dia mau diajak ke toilet.

“Wah! Waktunya ke toilet! Ayuk.. ayuk..”
“Nein, bunda!”
“Eh, ayo kita bawa kugel bahn nya ke toilet” langsung angkut mainan kugel bahn nya, bawa ke toilet dengan harap-harap cemas dia ngikutin di belakang. Tapi ternyata berhasil (ngajak anak ke toilet) dengan cara ini. Meskipun eng ing eng… belum keluar pipisnya di toilet dan akhirnya bocor habis itu di celana. 😁

Sesi ke-2 ternyata cara tadi ga berhasil. Putar otak, muncullah ide lain.

“Ayo kita ke toilet, pipis trus nanti main binatang laut sama air!”
Yes… bunda menang lagi. Dia mau diajak ke toilet. Ya jadinya main air deh. Tapi masih sama belum beruntungnya, yang ditunggu-tunggu malah keluarnya setelah sudah pakai celana lagi 😅

Sesi ke-3 syukur deh ga perlu pakai iming-iming main air seperti sebelumnya. Suamiku pahlawanku datang tepat waktu. Dia pulang membawa stiker-stiker lucu. Langsung deh itu jadi andalan buat ngajak anak ke toilet. Kalau mau ke toilet, boleh tempel satu stiker di kamar mandi. Kalau pipis di toilet, boleh tempel satu lagi.

Hari ini saya lebih santai sih meskipun accidents masih banyak terjadi. Saya lebih santai setelah baca curhatan teman-teman sesama emak-emak tentang pengalaman TT anak mereka. Ada yang cepat lulus, ada yang butuh berbulan-bulan, ada yang tiba-tiba anaknya mundur lagi padahal sudah lulus TT, ada yang GDD jadi TT nya terlambat dan harus super sabar. Kemarin saya dan suami benar-benar meraba-raba sampai-sampai sempat kesal ke anak karena bocor-bocor terus. Huhu maafkan kami ya sayang. Ini TT anak pertama yang belajar bukan cuma anak tapi orang tuanya juga.

Hari ini sampai lepas sholat isya masih saja bocor. Si bocah sedang pura-pura tidur di sofa ketika kami mengakhiri solat dengan salam. Oleh bapaknya dieluslah kepalanya, maksud hati supaya tidur sekalian. Ga taunya malah bangun, turun dari sofa dia berdiri dan bermain-main. Saat dia ga pakai diaper, mata saya selalu sibuk mengamati bagian belakang celananya. Dan hyaa basah. Rupanya dia ngompol saat pura-pura tidur di sofa, ada jejaknya. 😌 Kalau dirangkum pencapaian TT hari ini, 1x berhasil pipis di toilet, 6x berturut-turut bocor.

Ahh.. saya jadi ga semangat deh.. tapi tetap menguatkan diri alasan kemarin mulai TT kan karena dia sudah sering menolak pakai diaper. Dengan ogah-ogahan saya bilang ke suami, “Aqila pipis tuh.”

Karena bagian kakinya tampak kering, saya minta dia pergi ke toilet sendiri untuk lepas sendiri celananya dan tunggu saya datang untuk menceboki. Kamar mandi adalah kamar mandi kering, jadi insya Allah aman. Lucunya anak saya seperti kaget tau celananya basah, dia segera lari ke toilet. Selesai membereskan alat solat kami berdua menyusul ke toilet masih dengan tidak bersemangat. Begitu membuka pintu, alamak kaget saya. Saya pikir dia sedang di dalam ruang shower melepas celananya yang basah kena ompol. Ternyata dia tidak di sana. Dia sedang duduk di atas closet dengan celana legging yang sudah terbuka, CD masih terpakai, dan wajah memantu ke arah closet, mungkin menunggu pipis nya keluar padahal sudah keluar duluan di celana. Hihihiii… saya jadi berbunga-bunga. Semangat saya bangkit lagi. Yesss dia memang sudah siap untuk TT.

Entahlah kenapa tiga sesi toilet berikutnya selalu berhasil dan tak ada bocor lagi malam itu sebelum tidur. Alhamdulillah.. malam ini bisa tidur nyenyak… 😀

image

Smiley kuning yg lagi senyum di atas toilet = pipis pada tempatnya
Smiley biru yg lagi nangis = pipis di celana 😁

2nd day : still so many accidents. Tp Alhamdulillah smiley kuning nya nambah banyak jg.
Mudah2an besok lebih baik lagi 🙂

You did it great my little princess! Met istirahat ya sayang.. bobo nyenyak.. charge energi sampai full buat besok. Heehe.. 😙😙

#potty_training #hari_2 #toilet_training

Toilet Training Jilid II Hari ke-1 “SEMUA MASIH MERABA-RABA..”

Hari ini kami mulai toilet train anak kami yang berusia 26 bulan. Ini training yang kedua sebenarnya. Yang pertama sekitar 2,5 bulan lalu tidak berhasil. 😅

Hari pertama training yg kedua ini sebenarnya sudah jauh lebih baik dari yg sebelumnya. Dia konsisten sekitar satu jam sekali pipisnya. Yang sebelumnya dalam satu jam bisa pipis berkali-kali. Wkwkwk. Hari ini so far sudah 7x pipis, 6 di antaranya accidents 😂  Masalahnya adalah dia tidak mau diajak ke toilet 😫 Padahal sebelumnya sangat tertarik untuk ke toilet, sekedar duduk-duduk di atas potty. Eucht.

Usaha yang sudah dilakukan hari ini :
1. Memujinya setelah berhasil pipis di toilet, yang rupanya itu keberhasilan pertama dan terakhir di hari ini 😅
2. Mengajaknya memasang stiker keberhasilan (aslinya ini print-an gambar smiley duduk di atas toilet, yang dipotong kecil-kecil, difungsikan kayak stiker. Kalau dia berhasil, olesin lem, tempel di tabel potty training.)
3. Tak henti-hentinya mengingatkan, memastikan dia mengerti, dan menawarkan ke toilet setiap menjelang jamnya untuk pipis.

Sementara yang terjadi adalah :

Sehabis pipis…

“Aqila.. nanti kalau mau pipis bilang dulu ya, ditahan, kita pipis di toilet. Jangan pipis di celana, di toilet aja, biar celananya engga basah, jadi tetap nyaman” (serius deh, dia udah paham arti nyaman. He3…)
“Yaa”
“Pinter. Bilangnya gimana?”
“Bundaa mau pipiis”

Bunda dan bapak pun tersenyum bangga.

Menjelang satu jam kemudian..

“Qila udah mau sejam nih, yuk pipis di toilet dulu”
“Ndak! Ndak!”
“Aqila mau pipis?”
“Aqila ndak mau pipis”
“Oke. Nanti bilang ya sebelum pipis, kita ke toilet.. (BELUM SAMPAI MINGKEM, TIBA2 UDAH BASAH)”

Dimulai dengan ketawa ketiwi bersama suami pada accident yang pertama, diakhiri dengan cemberut berjamaah di accident ke-6, terakhir sebelum dia tidur. Saat tidur, kami masih pakaikan dia diaper.

Ahhh pe-er banget ini membuat rayuan maut supaya dia mau dibujuk ke toilet.

Sejauh ini yang sudah terpikirkan (yang tadi ga sempat terpikirkan…)
1. Tawarkan ajak satu dari mainan-mainannya : si Mbak, dedek, Habibi, Teddy Bear, atau mainan lain ke toilet
2. Tawarkan pasang sticker lucu di toilet. Yang ini masalahnya belum ada hehehe… nunggu besok bapaknya beli dulu setelah solat Jumat.
3. Belum kepikiran ide lain….

Jadi ingat moto sahabat saya waktu SMA.. “Jalani hidup dengan senyuman ^_^”. Mudah-mudahan hari esok lebih baik dari hari ini… 💪💪

Sapih Menyapih

[Hari 1]

Anak bulan depan insya Allah sudah genap 2 tahun usianya. Insya Allah juga, keesokan hari setelah ultahnya, langsung akan mulai disapih total. Bundanya dag dig dug duer. Hehe. Atas saran dari pak suami, mulai dikurangi saja dulu menyusuinya dari sebelumnya, karena selama ini kegiatan menyusunya bisa dibilang sering. Sering tp sebentar2, kecuali pas bobo, bisa 2-3 jam an ngempeng terus 😅.

Walhasil dari sebulan yll sudah mulai ngitung hari sama anak, bahwa mulai 23 bulan, anak sudah harus belajar nen cuma pas mau tidur malam tok. Anak tampak agak mengerti sh. Awal2 dy geleng2 aja. Bbrp hari kemudian ngangkat jempol sambil bilang “oke” tp ditambah embel2 minta nen di bis sama tut tut (dy tau banget, di bis n kereta, emaknya sll paling susah nolak dy nen. Gmn g susah, bis sama kereta seringnya hening tenang begitu, bahkan di kereta ada simbol orang naruh jari di depan mulut 😅)

Akhirnya bbrp hari menjelang due date, tiap kali ngitung hari, jempolnya yg diangkat 2, sambil masih minta naik bis n tut tut jam sepuluh, tp g ditambain embel2 minta nen. Hoyeee..

Kemarin genap usianya 23 bulan, dimulailah hari pertama sapih siang2. Dari bangun tidur pas masih nen sambil ngumpulin nyawa, sudah diingetin lagi klo hari itu mulai belajar ga nen siang2, jd puas2in dlu silakan nen nya sblm ‘bangun’ beneran. Jempolnya ngangkat lagi dua2nya. Alhamdulillah banget sampai beres sarapan dy g mnta nen, klo haus langsung minum air. Biasanya di tengah2 sarapan sll ada pause nen. Sampai jam tidur siang, dy langsung mapan sndiri ke kasur, nata bantal sndiri, bawa boneka2 nya jg, kelonan mereka di sana. Lalu dy mnta bundanya ikut tiduran di sampingnya, kelon jg. Betapa senangnya hatiku 😍😍

1 menit kemudian.. mulailah dy kasak kusuk pindah posisi, gtu terus sampai 15 menit pertama, akhirnya ga tahan. “Menyu menyu!” Dia minta nen. 😄😄 Lalu dihibur, dijelasin, mba Qila udah besar, anak besar nen nha sblm ‘good night’ aja ya, biar tambah pinter n tambah cantik, walopun g nen bunda tetep sayang sm mb qila, pasti mb qila bisa.

Jegeerrr.. drama tantrum pun dimulai. Nangis, mnta gendong sambil mnta nen, pindah duduk dapur, balik ke kamar lagi, semua kursi mnta didudukin, terakhir, mnta jalan2 ke luar rumah. Pada akhirnya dy bs berhenti menangis dan bobok sambil timang2 di bawah perdu di pinggir jalan belakang rumah.

Setelah tampak tidur pulas, dibawalah pulang k rumah tp g berani mindahin ke kasur. Biasanya dy tidur siang 2 jam an. Tak gendong ke mana-mana 2 jam an gpp lah drpd drama lagi. Eh lha 1 jam pertama malah kebangun 😱 untung banget waktu itu kebetulan lagi video call an sm yangkung, yangti, om, sm tante nya. Krn rame, dy pun terhibur, tp tetep bbrp menit kemudian tampak gelisah lagi krn masih ngantuk.

Alhamdulillah, kebetulan setelah itu ada acara kumpul2 penduduk Leoben plus plus (plus penduduk kota sebelah). Qila keliatannya menikmati banget main bareng sama abang kembar, kakak tifa, tante2, om, pakdhe. Sampai lupa nen.

Pulang ke rumah udh jam 8 kurang, udh boleh nen lagi.

Drama sapih episode 1, durasi total 45 menit. :mrgreen:💖

Semoga episode 2 lebih baik lagi. Aamiin..

image

Suka Duka Mendaftarkan Anak di Day Care Negeri Orang

Lazimnya untuk bisa terdaftar di day care milik pemerintah di kota Leoben, Austria, harus melalui pendaftaran yang dibuka kurang lebih 6 bulan sebelum semester baru dimulai. Ya, layaknya TK, dan juga bertempat di TK, day care milik pemerintah juga menganut sistem semester. Jam bukanya hanya dari hari Senin sampai Jumat, pukul 07.00 sampai 15.00 (klik di sini untuk membaca cerita tentang day care nya lebih detail). Semester baru dimulai pada tanggal tertentu seperti halnya TK dan memiliki libur musim panas selama kurang lebih 2 bulan juga libur natal-tahun baru. Akan tetapi, pada libur musim panas anak-anak bisa ikut kelas musim panas dengan membayar ekstra yang besarnya sama seperti bulan reguler, dengan kuota peserta yang lebih sedikit.

Pendaftaran hanya dibuka selama 1 hari. Wow. Pada saat pendaftaran, salah satu orang tua hanya perlu datang ke TK bersama anak membawa kartu sakti asuransi, akta lahir, dan surat keterangan tempat tinggal dari balai kota (di sini bernama Meldedaten). Orang tua akan diminta untuk mengisi formulir. Pada saat formulir dikumpulkan kembali, orang tua akan menerima formulir lain yang bisa digunakan untuk mengajukan tunjangan uang makan ke balai kota jika anak sudah diterima. Jika diterima, sekitar 4 bulan sebelum semester baru dimulai, orang tua akan mendapatkan 2 buah surat dari balai kota. Surat pertama ditujukan kepada ibunya, berupa ucapan selamat karena anak Anda sudah mendapat tempat di day care X, masuk per tanggal sekian. Surat ke-2 untuk ayahnya berupa tagihan uang bulanannya. Hahaha.. gokil yah..

Beserta surat tagihan itu, terlampir blanko transfer uang bulanan yang sudah diisi (ada beberapa blanko dengan nama bulan berbeda-beda). Jadi ayah tinggal membawa blanko transfer tersebut ke mesin transfer bersama kartu atm, maksimal tanggal sekian setiap bulannya. Tidak ada tagihan lain selain uang bulanan. Tidak ada uang pangkal, uang pembangunan, apalagi seragam. Cukup uang bulanan, sebesar €261, saja. *sambil gigit jari* 😂😂

Karena kuota di day care tidak banyak, yaitu hanya 12 tempat untuk full day dan 12 tempat untuk half day, untuk setiap day care (fyi, tidak semua TK milik pemerintah memiliki program day care full day), maka bisa jadi ada antrian. Termasuk anak saya, karena saya kudet alias kurang update terhadap info pendaftaran TK, maka saya datang ke TK bukan pada saat pendaftaran. Wkkw. Alhasil tidak dapat tempatlah.

TK pertama yang saya datangi adalah TK yang paling dekat dengan tempat tinggal tentunya. Saat itu saya ditemani oleh teman berkebangsaan Austria keturunan Turki. Dia tentu bisa berbahasa Jerman dengan fasih. Ternyata day care di situ sudah full. Petugas TK menyarankan saya datang lagi bulan depan karena pendaftaran untuk semester depan di buka pada bulan depan, atau bisa menghubungi ke bagian urusan kindergarten di balai kota untuk tau di mana day care milik pemerintah yang masih memiliki tempat kosong untuk semester yang sudah berjalan ini.

Saya pun mengikuti saran yang kedua. Masih ditemani oleh teman Austria saya itu, bertanya ke balai kota. Kami mendapatkan informasi yang diperlukan. Ada 2 day care yang masih memiliki tempat kosong di semester yang sedang berjalan waktu itu. Lokasi kedua-duanya perlu ditempuh kurang lebih 20 menit dengan bus. Petugas berkata, padanya saya bisa melakukan pendaftaran di salah satu TK tersebut. Ah baiklah, saya harus survey dan diskusi dulu sama suami, pikir saya waktu itu. Dua hari kemudian, setelah survey dan diskusi dengan suami, kami memutuskan memilih TK yang kebetulan, anak dari teman saya yang lain juga ada di sana. Selain lebih tenang karena ada kenalan, juga karena lokasinya di lingkungan yang lebih ramah anak. Pilihan TK yang lainnya berlokasi di daerah industri. Mengingatkan saya akan kerasnya hidup di kawasan industri X di Indonesia. Hehehe..

Sayapun datang kembali ke balai kota, menemui petugas urusan kindergarten. Kali ini saya hanya berdua dengan anak saya, tanpa teman yang jago berbahasa Jerman. Bermodalkan hafalan dari google translate, hehe, saya utarakan maksud untuk mendaftarkan anak ke day care. Betapa herannya saya, ketika itu petugas yang sama, berkata saya harus mendaftar langsung di TK. Saya harus membuat janji dengan penanggung jawab (PJ) di TK via telepon. Dia menuliskan nama PJ tersebut dan nomor teleponnya. Oke, baiklah.

Membuat janji dengan ybs via telepon ternyata tidak sesingkat yang saya bayangkan. Saya harus menelepon berkali-kali sampai akhirnya telepon diangkat. Setelah diangkat, orang yang menerima telepon di seberang sana ternyata bukan ybs. Ketika akhirnya bisa berbicara dengan ybs, ternyata beliau sedang sibuk dan meminta saya menelepon kembali pada pukul 15.00. Weleh.. ini mau bikin janji via telepon saja harus janjian terlebih dahulu, batin saya.

Betapa senang dan geernya saya ketika ibu PJ TK yang ternyata adalah ibu kepala sekolah, mempersilakan saya untuk datang ke TK mengurus pendaftaran anak saya di day care. Setiba saya di day care, ibu PJ TK sedang kontrol ke dokter karena sakit. Saya diminta menunggu. Sejak saat itu akhirnya saya paham, betapa SDM yang mengelola TK jumlahnya sangat terbatas. Tidak ada sekretaris khusus bagian pendaftaran ataupun administrasi. Tidak ada yang terlihat bekerja duduk-duduk di depan komputer di kantornya. Semuanya selalu sibuk pada jam kerja.

Saya menunggu sambil mengobrol santai dengan pädagogin dan para pengasuh di day care yang kebetulan sudah di luar jam kerja. Mereka semua ramah dan akrab. Mereka bilang MASIH ADA BANGET tempat kosong di day care. Teman saya yang anaknya di sana pun, sengaja kepo untuk saya, dia bilang sepertinya ada 2 tempat kosong (berdasarkan loker anak yang masih kosong tak bernama, tak bertuan).

Ketika akhirnya ibu kepala sekolah datang, beliau menyambut baik dan ramah serta akrab dengan anak saya. Saya mengisi formulir, menyerahkan persyaratan sambil tersipu-sipu, berpikir kami beruntung sekali mendaftar ketika semester baru sudah dimulai, ternyata masih mendapatkan tempat. Lalu kemudian ibu kepala sekolah bilang “.. tapi maaf Aqila belum bisa masuk sekarang karena sudah penuh.” Jeger.. rasanya seperti disambar petir di wajah. Hahaha… mulai.. lebay..

Kecewa? Iyaaa. Ga percaya? Iya juga lah… berkali-kali saya memastikan apa betul sudah penuh? (Karena petugas balai kota urusan kindergarten, pädagogin dan pengasuh, semua bilang masih ada tempat). Jawabannya tetap sama, full. Unpredictable dan unbelievable. Beliau menerima formulir tersebut sambil bilang beliau tidak dapat memastikan kapan anak saya akan mendapatkan tempat. Semester depan sekalipun. Jika beruntung, maka balai kota akan mengirimkan surat kepada kami memberitahukan jika akhirnya anak saya mendapatkan tempat. Silakan ditunggu saja…

Sore itu pukul 6, masih di musim dingin, sudah sangat gelap. Melangkahkan kaki keluar dari TK dengan perasaan kecewa dan bertanya-tanya, sampai tidak menyadari ternyata saya meninggalkan dompet saya di ruangan ibu kepala sekolah. Dan baru menyadari setelah sampai di rumah, suami saya dihubungi oleh TK (yang lagi-lagi saya geer mengira si ibu salah ngomong) eh ternyata mengabarkan kalau dompet saya tertinggal. Haha what a day.

Besoknya, saya coba datangi TK pilihan terakhir di daerah industri itu. Batin saya, ah kalau anak saya jadi di day care ini, lagi-lagi saya termakan omongan sendiri 2 kali (yang pertama pada saat masih kuliah, setelah kerja praktek di kawasan industri X saya membatin bahwa saya tidak mau kerja di daerah itu nantinya, nyatanya malah setelah lulus saya kerja di sana selama 3 tahun. Lalu sekarang, ketika saya tidak ingin anak saya berada di day care di daerah industri ini.. saya malah seperti tidak punya pilihan lain. Ckck..).
By the way, ketika hari sebelumnya saya survey ke sana, saya sempat bertemu kepala sekolahnya dan bertanya masih adakah tempat kosong di sana, dan dibilang masih. Surprisingly, ketika saya datang di hari itu, beliau, kepala sekolah, orang yang sama, berkata ini sudah full. Lalu saya hanya bisa bernyanyi miris. Begini naasib..

Hari-hari berikutnya saya pasrahkan urusan day care pada Allah dan introspeksi diri. Ya, betul, saya memang butuh tempat di day care untuk anak saya segera. Karena lusa adalah hari pertama semester baru kursus bahasa Jerman reguler dimulai. Sebelum mendaftarkan diri di tempat kursus, tentu saya harus memastikan anak mendapatkan tempat di day care yang menurut saya baik. Tapi, bagaimana urgensinya si kursus Jerman ini..?? Perdebatan diri sendiri di kepala akhirnya sepakat pada kesimpulan bahwa.. belajar bahasa lokal penting, tetapi tidak urgent. Maka seharusnya saya hanya perlu selow dan tidak perlu baper ketika anak saya tidak dapat tempat di day care saat itu. Mungkin next semester, atau semester depannya lagi, atau memang menurut Yang Maha Kuasa ada yang lebih baik untuk dilakukan bersama anak setiap waktu, hmm manusia mana ada yang tau rencana Tuhan. Tugas manusia hanya berusaha. Dan saya sudah berusaha maksimal yang saya bisa untuk bisa belajar bahasa lokal intensif pada expert nya dan untuk mendapatkan tempat yang menurut saya baik untuk anak selama saya harus kursus intensif. Ternyata dari usaha yang sudah saya lakukan, warna-warni pelayanan baik, ramah, juga dingin, ketus dan jutek, saya dapatkan, ternyata hasilnya adalah, pernyataan yang mengejutkan dari para petugas pendaftaran, baik di balai kota maupun sang kepala sekolah. Mungkin terlalu fokus akan jurus-jurus dalam menggapai misi saya untuk make things happen, sampai-sampai saya lupa bahwa sejak awal seharusnya saya sudah ikhlas dengan apapun hasilnya nanti.

Hari-hari berikutnya saya belajar legowo. Akhirnya saya bisa ikhlas sampai benar-benar ikhlas. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Rejeki anak dan saya, saya pikir. Kami jadi bisa terus-terusan bersama di saat banyak ibu-ibu lain yang mendambakan quality time seperti ini.

Tiba-tiba beberapa pekan kemudian, suami saya mendapatkan telepon. Telepon itu ternyata dari TK yang anak teman saya juga di sana, mengabarkan bahwa per 1 April ada tempat di day care untuk anak saya. Kaget bercampur senang. Di sinilah lagi-lagi saya belajar ilmu ikhlas. Ketika saya ikhlas untuk tidak mendapatkan sesuatu yang diidamkan dan sudah saya usahakan maksimal, justru disitulah saya dapat meraihnya.

Pada waktu itu, saya sudah terlalu terlambat untuk bisa terdaftar di kursus intensif bahasa Jerman. Tapi ya sudah tidak apa-apa toh saya masih punya buku pinjaman dari teman Indonesia yang tinggal di sini juga. Setidaknya saya bisa belajar sendiri ketika anak di day care dan mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak terkerjakan dengan baik selama ini. Maka kami tetap menerima tawaran tempat di day care itu.

Tidak disangka, ternyata sebulanan kemudian (saat anak saya sudah bisa dilepas di day care) istri dari kolega suami saya yang menjadi pengajar kelas kursus Jerman gratis khusus untuk pengungsi Timur Tengah mengundang saya untuk bergabung menjadi peserta. Dulu saya tidak berhasil dapat tempat di kursus yang berbayar, sekarang ternyata malah datang tawaran tempat di kursus yang gratisan. Ya Allah nikmat Mu mana lagi yang hendak hamba Mu ini dustakan.. Alhamdulillah…

Kejadian ini mengingatkan saya sekali lagi untuk selalu mengiring ikhlas bersama usaha dan doa yang maksimal. Ya, ikhlas, bersama usaha dan doa yang maksimal. :):)

Day Care (Part 2) – Day Care di Leoben, Austria

Halooo.

Nah ini dia, akhirnya mood bertemu lagi dengan kesempatan untuk menulis. Sebelum bercerita tentang masa-masa adaptasi anak saya di day care (yang tentunya lebih menarik bagi orang tua yang mau memasukkan anak ke day care juga 😁😁), supaya lebih nyambung nantinya, saya akan menceritakan terlebih dahulu bagaimana day care ini menjalankan programnya, sehingga bisa tampak jelas mengapa saya akhirnya mantap memasukkan anak ke day care tersebut.

Ketika saya memutuskan memasukkan anak ke day care, tidak serta merta itu menjadi keputusan bulat yang tidak bisa diganggu gugat. Saya merasa perlu memastikan day care tersebut baik untuk perkembangan anak saya. Saya ingin manfaat yang didapat setelah anak masuk day care jauh lebih besar daripada pengorbanan yang kami keluarkan. Ya, tentu saja ini penting, terutama karena pengorbanan yang kami keluarkan bukan hanya uang tapi juga quality time, terutama antara saya dan anak saya yang belum genap berumur 2 tahun. Jika tidak sebanding, ya lebih baik tidak usah masuk day care, lebih baik saya menunda diri dulu lagi untuk belajar bahasa secara intensif daripada tumbuh kembang anak dikorbankan. Ini sama seperti ketika saya hendak memilih antara resign atau tidak dari perusahaan tempat saya bekerja sebelum melahirkan (yang akhirnya saya memilih untuk resign). Maka kemudian saya mulai mencari informasi yang valid seputar day care di kota tempat tinggal kami.

Dengan keterbatasan kemampuan lisan bahasa Jerman saya, maka yang bisa saya lakukan hanyalah menghimpun informasi dari teman  saya yang anaknya sudah lebih dulu masuk day care serta (biasa) browsing di internet. Teman saya ini berkebangsaan Mesir dan merupakan satu-satunya teman di sini yang memiliki anak seumuran dengan anak saya, saya bersyukur dia bisa berbahasa Inggris. Hehe.
Hasil pencarian informasi dari internet juga sangat memuaskan. Karena di halaman pertama pencarian di google saya menemukan web site resmi dari pemerintah kota setempat yang bertautan dengan web site setiap taman kanak-kanak milik pemerintah yang ada di kota ini.

Fyi, ternyata setiap taman kanak-kanak milik pemerintah di sini ada day care nya untuk anak-anak di bawah umur 3 tahun.

Dari web itu saya bisa mendapatkan informasi valid dan up to date di mana saja lokasi taman kanak-kanak milik pemerintah, jam buka, jadwal dan penjelasan singkat kegiatan sehari-hari, foto beberapa spot, visi misi taman kanak-kanak tersebut, serta nama dan foto kepala sekolah, pädagogin, serta pengasuh. Penjelasannya singkat, mengena, dan desain web site nya lucu. Hahaha.. penting ga penting ya desain ini. Karena menurut saya, desain lucu seperti ini menegaskan bahwa taman kanak-kanak adalah tempat yang menyenangkan, dinamis, dan tidak kaku. Kalau penasaran bisa klik link ini hehe http://www.kindergarten-leoben.at

Umaaak… saya berharap nanti setelah pulang ke Indonesia bisa mendapatkan informasi resmi terintegrasi seperti ini supaya tidak perlu ngubek-ubek sendiri kota Bandung.. soalnya saya sudah iseng cari-cari juga web site resmi seperti ini untuk taman kanak-kanak di kota Bandung di Google kok belum ketemu-ketemu ya? Kalau blog banyak sih. Ya Alhamdulillah dan terima kasih pada mereka yang sudah mau mereview hasil survey nya di blog.

Ehem. Kembali lagi ke pencarian info day care untuk anak saya di sini. Nah, sayangnya informasi mengenai pendaftaran dan biaya tidak dicantumkan juga, di sana hanya dicantumkan ke mana saya harus bertanya mengenai informasi ini (yaitu ke balai kota atau langsung ke salah satu taman kanak-kanak yang dituju). Phyuh… pada waktu itu saya tidak tau apakah informan di balai kota dan taman kanak-kanak tersebut bisa dan mau berbahasa Inggris. Yap. Kota ini memang kota “Internasional”, banyak orang asing tinggal di kota ini, baik mahasiswa maupun pekerja dan keluarganya. Namun percaya atau tidak, masih banyak yang komunikasi dalam pelayanan publik hanya mau berbahasa Jerman. Pelayanan publik terasa lebih baik dan lebih ramah jika kita menggunakan bahasa Jerman. Dan Bahasa Jerman saya tet tot.. menurut suami, seperti anak saya yang sedang belajar bahasa Indonesia. Hahahaaa.. Anyway, kekhawatiran saya benar juga.. Person in Charge untuk taman kanak-kanak di balai kota setelah saya temui ternyata hanya berbicara bahasa Jerman. Dia mengerti bahasa Inggris karena ketika saya hopeless tidak menemukan kalimat yang tepat dalam bahasa Jerman lalu saya menggunakan Bahasa Inggris, dia mengerti dan menjawab panjang lebar, tetapi dalam bahasa Jerman, dan tidak semua kalimat bisa saya pahami. Syukurlah waktu itu saya sudah sedia payung sebelum hujan, saya ditemani oleh seorang teman berkebangsaan Turki yang lahir dan besar hidup di Austria sehingga bahasa Jermannya sudah seperti penduduk lokal. Ke salah satu taman kanak-kanak pun demikian. Di titik itu saya merasa disitulah pentingnya relasi yang luas. Saya pun masih belajar membangun relasi.

Singkat cerita, inilah gambaran umum day care yang ada di taman kanak-kanak milik pemerintah di kota Leoben, Austria. Kurang lebih di kota-kota lain juga demikian, meskipun tidak plek-plekan sama.

– Di taman kanak-kanak terdapat dua macam grup : Grup Kindergarten itu sendiri (untuk usia 3-6 tahun) dan Grup Kinderkrippe (untuk usia kurang dari 3 tahun).
Jadi pembagiannya sudah jelas, berdasarkan usia. Usia menentukan stimulasi yang perlu dan tidak perlu mereka dapatkan sehingga berefek pada kegiatan sehari-hari yang akan mereka jalani selama di sana. Kinderkrippe inilah yang saya sebut sebagai day care. Jika diartikan ke dalam bahasa Inggris, Kinderkrippe memang artinya Playgroup. Akan tetapi di Indonesia, kinderkrippe lebih seperti gabungan antara day care dan playgroup. Namun supaya tidak bingung, maka saya tetap konsisten menggunakan istilah day care ya untuk kinderkrippe ini. Jadi kinderkrippe di sini semacam day care yang kegiatannya terjadwal, terstruktur, dan setiap hari anak-anak didampingi oleh pendidik lulusan sekolah Montessori dan pengasuh yang sudah di-training dengan baik oleh pemerintah untuk menjalankan metode Montessori.

– Apa itu metode Montessori? Silakan cari sendiri jawabannya di Google ya. Hehehe *takut salah jawab 😂.

– Kesannya kok keren atau sok keren itu ya bo day care aja Montessori segala? Ya gimana lagi yang ada ini di sini. Akhirnya saya malah jadi belajar dan mengakui kelebihan metode ini dalam menstimulasi anak. Dan sebenarnya tanpa disadari, banyak orang tua yang menstimulasi anaknya dengan metode ini. Mungkin Anda yang membaca tulisan ini juga menerapkan metode ini. Hanya saja ada yang menyadari dan tidak. Mengenal istilah metode Montessori dan menuliskannya di sini supaya memudahkan barangkali ada yang ingin menggali lebih dalam mengenai metode-metode Montessori yang menyenangkan dalam menstimulasi anak-anak kita, sudah banyak juga buku di pasaran maupun artikel di internet yang bisa kita manfaatkan, bagi yang tertarik.

– Baik Kindergarten dan Kinderkrippe ada yang full day (pagi sampai sore) maupun half day (pagi sampai siang). Kelompok fullday dan half day dipisahkan. Jadi anak yang terdaftar full day tidak akan ada di ruangan yang sama dengan yang half day. Karena jadwal kegiatan mereka berbeda.

– Istilah full day dan half day hanya menunjukkan durasi maksimal anak berada di sana. Full day : maksimal 10 jam (dari jam 7-17.00), akan tetapi disarankan maksimal 8 jam untuk mengakomodasi kebutuhan emosional anak akan quality time bersama orang tuanya. Half day dari jam 7-13.00.

– Di kinderkrippe, anak tidak harus datang pagi dan pulang pada jam tertentu selama masih di dalam waktu tersebut. Bebas. Dan yang perlu diingat, datang maupun tidak, bayarnya tetap sama ya. Hahaha *perhitungan. Anak saya biasanya tiba di daycare pada sekitar pukul 8.30 dan saya jemput sekitar pukul 16.15.

– Rutinitas setiap hari sama, yang berbeda adalah pädagogin, pengasuh, menu makanan, jenis permainan dan stimulasi yang dimainkan bersama-sama.

– Dalam satu grup hanya ada maksimal 12 anak. Setiap grup didampingi oleh 3 pengasuh dan 1 pädagogin setiap harinya.

– Jadwal day care full day :
7.00-9.15 bermain bebas di dalam ruangan
9.00-9.15 beberes ruangan bermain dan berkumpul di pintu keluar
9.15-9.30 berkumpul di ruang loker, bernyanyi bersama dengan gerakan, sambil mengantri cuci tangan
9.30-10.00 snack pagi bersama-sama
10.00-10.30 cuci tangan, ganti baju outdoor
10.30-11.30 bermain di halaman TK
11.30-12.00 ganti baju, cuci tangan
12.00-13.00 makan siang bersama
13.00-14.30an cuci tangan lanjut tidur siang
14.30an-15.00 bermain bebas di ruangan
15.00-15.30 beberes, cuci tangan
15.30-16.00 snack sore
16.00-17.00 bermain bebas di halaman (kalau cuaca cerah) atau di ruangan (kalau cuaca tidak memungkinkan).

Disana anak belajar untuk : mandiri (sesuai prinsip Montessori “help me, to do it myself”, bersosialisasi dengan teman seumuran maupun orang dewasa (pädagogin dan pengasuhnya), bereksplorasi dengan mainannya, merapihkan mainannya sendiri, fokus, menyukai buku, mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, dan disiplin.

image

image

Dengan pola yang sudah tertata seperti ini, mainan yang sangat banyak dan menarik, tempat yang bersih dan rapih, pädagogin dan pengasuh yang ramah, ternyata tetap bukan hal yang mudah bagi anak saya beradaptasi di sana pada awalnya. Tentu saja karena anak belum kenal dengan lingkungan baru itu serta habit yang jauh berbeda diterapkan di sana. Bersama ibu nya di rumah banyak hal lebih ditoleransi daripada di sana. Seringkali senjata ibunya mah… “wes sing anake meneng..” (yang penting anaknya ga rewel 😂, dalam batasan-batasan tentunya).

Adaptasi selama 3 minggu sangat berat. Apalagi karena anak masih terbiasa menyusui langsung. Anak nangis, rewel, minta pulang, sudah jadi santapan selama 3 minggu itu. Tapi semua itu sangat berarti. Kami berdua, saya dan anak, banyak mendapatkan manfaat dari sana.

Mau tau bagaimana perjalanan adaptasi Qila di day care? Simak postingan berikutnya yaa (Day care #3) 😆😆😆

#selalu_ada_cerita_untuk_dibagi

Sommer Fest 2016 (Festival Summer 2016)

Jadi ceritanya sejak hari Rabu yg lalu di sini sudah resmi masuk musim panas. Dan memang tiba-tiba suhunya jadi panas sekali. Huhah.. saking panasnya berasa lengket di kulit, mirip di Jogja panasnya.

Hari Jumat, TK tempat di mana day care nya anak bernaung, mengadakan “Sommer Fest”, festival untuk menyambut kedatangan musim panas. Setiap orang tua diminta membawa tikar, makanan untuk dimakan bersama, dan investasi €5 semingguan sebelumnya untuk mengundang pesulap. Wkkw.

Karena excited, saya terpikir untuk membuat onde-onde dan sudah tanya ke Pädagogin-nya dari 2 mingguan sebelumnya boleh atau tidak bawa onde-ond3 karena mengandung gluten/ ketan, bisi anak-anak banyak yang alergi gluten. Katanya boleh, engga apa apa nanti infoin aja ingredients nya apa. Tapi mendadak H-1 malas sekali ribet undel-undel satu-satu da ga ikutan makan juga da Ramadhan *lupa kalau anaknye butuh makan juga siang2 😂😂 ibu macam apa* Akhirnya H-1 sebelum jemput Qila di TK, impulsif-lah beli 2 kg anggur putih untuk hari H. Yess.. jadinya ga perlu capek2 bikin.

Sampai di TK, tanya lagi ke Pädagogin-nya, “gapapa kan bawa buah anggur?”. Kata Pädagogin-nya, “Mmm.. anak-anak umuran segini kayaknya belum bisa atau ga doyan makan anggur deh biasanya…” dan dia sangat tertarik pada onde-onde si makanan Asia itu.

Umaaak khilaf. Baru ingat juga kalau Qila juga belum bisa makan anggur (harus dikupaskan dan dipotongkan kecil-kecil, serta dihilangkan dulu bijinya). Yasudah, akhirnya bikin onde2 kira2 75-100 pcs, setelah solat subuh (eh Alhamdulillah onde-onde nya laris 🙂 )

Pas hari H, Pädagogin dan orang-orang TK sudah membuatkan semua anak day care kostum dengan tema penyihir dan sulap. Wkwk. Untuk anak-anak day care grupnya Qila, 2 minggu sebelumnya sudah diminta mengumpulkan kaos polos biru dongker. Ternyata sama mereka diberi gambar bintang-bintang dan bulan sabit menggunakan spidol khusus untuk tekstil. Mereka juga dibuatkan topi kerucut dan kalung yang saya pikir name tag ternyata bukan. Untuk anak-anak TK kostumnya topi dari kain, seragam, diberi gambar juga dengan spidol tekstil, pakai jubah (anak laki-laki), dan rumbai-rumbai dari kain jersey (anak perempuan). Semua kostum ini surprise, untuk orang tua. Kreatif maksimal memang tim TK nya. Nah kostum yang dikenakan oleh Pädagogin dan tim TK nya sih beda ya, terlihat paling “wah” karena sepertinya kostum sewaan sih. Haha.

Acara dibuka dengan parade pendek anak-anak dari dalam ruangan ke halaman depan TK. Setelah itu semua berbaris. Anak-anak TK melingkar berdiri, di belakang anak-anak TK itu berdirilah anak-anak day care. Karena anak-anak day care yang masih sangat innocent-innocent itu belum bisa diharapkan untuk berbaris sendiri, maka hampir semua digendong oleh orang tuanya. Termasuk Qila. Lalu kepala sekolahnya keluar berdiri di depan memandu Choir dengan gitar. Wew gaul ibu kepala sekolah TK nya padahal usianya kira-kira sekitar kepala 5, dilihat dari gesture dan penampilannya sih. Suaranya juga merdu. Anak-anak TK bernyanyi bersama kepala sekolahnya lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ee lhaa ternyata Qila bisa ikutan nyanyi juga! Sambil tepuk tangan dan goyang-goyang. Aduh nakkk terharu bunda mu ini.

Suasananya jadi mirip pentas seni perpisahan kelas. Iya sih minggu depan memang minggu terakhir di semester ini. Setelah itu liburan musim panas dan tahun ajaran baru (banyak yang lalu masuk SD, pindah dari day care ke TK karena usianya sudah cukup, atau berhenti bagi yang di day care karena memang belum wajib sekolah).

Choir selesai, ibu kepala sekolah meresmikan acara hari itu dan menjelaskan bahwa hari ini acaranya anak-anak dan orang tuanya bermain bersama di pos-pos permainan dan menonton pertunjukan sulap bersama-sama. Total ada 10 pos permainan. Setiap pos ada nomornya acak (bukan angka 1-10, tp ada yang puluhan juga), supaya anak bisa sambil belajar mengenal angka-angka puluhan.

Yealah saya pikir acaranya sekedar piknik santai sambil menonton anak-anak yang menonton sulap. Terlanjur pakai sepatu wedges..

image

wkwkw… akhirnya ya bisa ditebak… karena jalan dari pos satu ke pos lainnya, serta dari rumah ke halte dan halte ke rumah, akhirnya tiba di rumah, bundanya tepar bersama si anak.

Besok mau cerita keseruan di setiap pos-pos nya ah. Siapa tau bermanfaat bagi yang sedang cari ide bermain bersama anak di luar rumah.

Ada cerita seru juga dari sekolah anak? Ayo dibagi! 🙂

Salam dari Leoben, Austria ya.. *mau ngangkat jemuran*

#selalu_ada_cerita_untuk_dibagi

Day Care

Tak terasa sudah satu bulan lebih anak saya memulai kehidupan siang barunya di day care. Masa-masa yang sangat sulit untuk adaptasi sudah dilalui. Kini dia tampak sangat menikmati hari-harinya di sana.

Keputusan memasukkan anak ke day care tidak dengan begitu mudahnya diambil. Saya bersama suami mendiskusikannya selama berbulan-bulan. Apalagi karena saya tidak terikat jam kerja. Jangankan bagi orang lain, bagi diri saya sendiri pun ini agak aneh. Berpuluh kali saya tanyakan pada diri saya sendiri sebelum mendaftarkan anak ke day care, “akankah menjadi keputusan yang tepat?” dan “apakah saya sudah benar-benar yakin?”. Bahkan saya sempat menyesali keputusan itu di hari-hari pertama anak saya di day care.

Empat minggu berlalu, melihat perkembangan positif pada anak saya dan yang terpenting dia bahagia, saya menjadi lega. Saya menjadi lebih semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pun saya tidak lagi menyesali keputusan itu. Bahkan jika perkembangan positif ini terus tampak hingga akhir semester, saya berharap semester depan anak saya bisa diperpanjang lagi di day care itu. Yang agak saya sesalkan hanyalah satu, kantong yang perlu dirogoh cukup dalam. Hahaha..

Karena alasan di atas juga, membuat saya ingin menceritakan pengalaman saya, dimulai dari kenapa memutuskan day care untuk anak, memilih day care, hingga sharing proses adaptasinya. Karena panjang, maka akan saya bagi-bagi menjadi beberapa postingan. Hehe. Membacanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Perasaan butuh untuk memasukkan anak ke day care dimulai sejak perbincangan sok serius saya dengan istri dari profesor yang membimbing suami saya dalam project doktoratnya. Saat itu saya mengalami krisis percaya diri. Hehe. Saya yang seorang ibu rumah tangga, ingin kembali meniti karir begitu kesempatan itu ada. Saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di bidang Farmasi semenjak saya dan anak menyusul suami saya yang sedang menempuh pendidikan doktorat di Austria. Mengurus sendirian, benar-benar sendirian (tanpa art maupun kerabat yang bisa dititipi anak barang sebentar) keluarga dan rumah dengan momongan berumur 1 tahun yang masih menyusui ternyata bukan hal mudah. Dua puluh empat jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan ibu rumah tangga. Pun kalau ditambah, masih tidak cukup juga karena bertambahnya waktu linear dengan bertambahnya item pekerjaan. Hahaha. Apa yang tidak sempat terkerjakan? Yah.. cuma rumah yang pabalatak.. masakan istimewa yang terhidang rapih dan menarik di atas meja.. perawatan diri.. wkkw.. dan tentunya.. AKTUALISASI DIRI. Setiap orang yang pernah membesarkan sendiri anak dari bayi hingga balita semestinya mengerti kondisi ini 😉

Bagi saya aktualisasi diri penting. Meskipun andaikata saya tidak ingin kembali berkarir, sebagai seorang Ibu dan istri tentu tetap perlu mengaktualisasi diri sendiri. Aktualisasi bukan lagi sekedar keinginan, akan tetapi kebutuhan. Karena Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Peran Ibu tentu besar untuk masa depan anak-anaknya. Juga terhadap suami, seorang istri tentunya senang menua bersama suami yang hebat dan mendambakan memiliki keluarga yang harmonis. Ingat ‘kan, pepatah di belakang seorang lelaki hebat selalu ada wanita yang (lebih) hebat, dan itu bisa berarti Ibu nya maupun Istrinya. Bagaimana cara mengaktualisasi diri itu tergantung pilihan masing-masing dan disesuakan dengan kondisi juga kebutuhan masing-masing, bisa dengan cara berkarir maupun tidak.

Tinggal di negara dengan bahasa ibu bukan bahasa familiar bagi saya merupakan satu tantangan yang menarik dan sekaligus menjadi motivasi. Di negara ini, orang berbahasa Jerman dan jarang yang mau menggunakan bahasa Inggris. Untuk bisa bekerja di sini pun saya harus fasih berbahasa Jerman dan pekerjaan jenis tertentu dibutuhkan sertifikat. Yah.. menamatkan kursusnya kira-kira akan membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga tahun saja bila lancar. Haha.. Tentu saja saya cukup tertarik mencoba peruntungan dari beasiswa yang bertebaran.. kemudian bersekolah lagi. Lalu kemudian.. menimbang.. mengingat.. di kota ini tidak ada pendidikan tinggi untuk jurusan di bidang saya (persis maupun yang nyerempet-nyerempet) dan yang terdekat ada di kota sebelah yang kira-kira 1,5 jam jarak tempuhnya menggunakan kereta.. dengan keluarga yang sangat memerlukan perhatian penuh saya sepertinya untuk saat ini masih belum memungkinkan. Maka simpan dulu untuk sementara keinginan itu dan mari berfokus pada hal yang lebih urgent dan feasible, yap, MARI BELAJAR BAHASA JERMAN.

Di sini ibu yang baru melahirkan sangat dihargai pekerjaannya sebagai ibu. Dua tahun pertama mereka berhak cuti dari karirnya, dan menjadi Karenz alias ibu yang tidak berkarir karena “bekerja full time di rumah” setelah melahirkan anak. Bahkan ayahnya juga berhak mengambil cuti juga maksimal tiga bulan untuk membantu istrinya. Dan juga.. mereka akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah, sebagai kompensasi karena ibu menjadi Karenz. Nice, ya (tapi tidak perlu iri ya, ibu-ibu yang di negara lain berbeda kebijakannya, terutama di Indonesia karena situasinya tentu sangat berbeda).

Satu hal yang belum bisa saya mengerti di sini adalah.. bapak kontrakan perfeksionis yang menginginkan kondisi rumah kontrakannya selalu rapih bersih sempurna, masak hanya untuk sekali makan, dan hemat listrik meskipun harus mematikan pemanas di malam hari dan kedinginan :o:o Kondisi ideal seperti itu sudah hilang dari kamus saya sejak memiliki bayi… Dan semakin tidak bisa saya mengerti ketika beliau bilang seharusnya kami memiliki ART. Astaga.. mungkin beliau pikir yang saya tanam di balkon adalah pohon uang?! 😥😥 Btw.. gaji ART saya sewaktu di Bandung 1 minggu kerja setengah hari = gaji ART di sini selama 1 jam. Wkwk..

Begitulah… kalau mau dikerucutkan, inilah alasan yang sesungguhnya kenapa akhirnya saya menitipkan buah hati tercinta di day care : (lah trus yang tadi panjang apa?? Hahaha..)
1. Saya butuh waktu untuk belajar bahasa Jerman. Pada mulanya saya hendak mendaftarkan diri kursus bahasa Jerman. Tapi entah kenapa, ketika anak saya sudah mendapatkan tempat di day care, nasib saya yang tidak mendapatkan tempat kursus semester ini. Wkwk.. mau tidak mau belajar sendiri (lagi). Hikmahnya.. tidak perlu bayar tempat kursus dan lebih hemat waktu dan uang untuk transport. Tapi ya jadi harus kuat iman, karena saya sendiri yang membuat dan mengontrol timetable nya, dan belajarnya di rumah.
2. Anak saya butuh teman bermain untuk belajar bersosialisasi. Satu-satunya teman main seumurannya juga masuk day care 😀
3. Suami saya butuh waktu lebih untuk bertapa dalam rangka menyelesaikan disertasi dan ujian-ujian. Selama ini pulang ke rumah waktunya sebelum dan sesudah tidur dihabiskan untuk membantu membereskan pekerjaan di rumah yg belum selesai krn disambi ngurusin anak.
4. Saya miris melihat suami yang selalu kelaparan tiap pulang. Wkwk. Ini tandanya dia kurang ngemil di sela-sela jam kerja. Dia memang tipe yg ga terlalu suka ngemil sih. Kecuali.. e kecuali.. cemilannya menarik di mata dia.. yaitu, jajanan pasar. Wkwk. Gampang kan? Ya memang gampang.. kalau di Indonesia.. hiks.. masalahnya yang seperti itu tidak ada di sini, kalau mau ya mesti bikin sendiri.. (jangankan bikin jajan, masak hidangan pokok saja sering ga keuber, hiks)
5. Saya berharap rumah bisa lebih terawat dibanding sebelumnya.

Kemudian saya mulai mencari info seputar day care di kota ini. Juga minta share cerita dari teman yang anaknya sudah lebih dulu di day care. Ini nanti bermanfaat untuk menimbang-nimbang plus minusnya. Karena setiap langkah yang kita ambil tidaklah sempurna, selalu ada plus dan minusnya.

Cerita seputar day care di kota ini (Leoben, Austria) dan bagaimana kami menimbang-nimbang sampai akhirnya diputuskan salah satu day care akan saya tumpahkan di postingan berikutnya.

Bagaimana dengan teman-teman para orang tua, adakah yang masih galau akan menitipkan anak atau sudah khatam menggalaunya? Ayo share di-comment… 🙂

Salam dari Leoben-Austria,
Vidya