Menilik Kandungan Petai, Apa Manfaat dan Efek Samping nya?

Beberapa hari yang lalu di-telepon, ibu saya tiba-tiba menanyakan “Dek, pete itu kandungannya apa aja ya??” Hehehe random ya pertanyaannya. Hihi, iya ibu saya memang sesekali suka menanyakan pertanyaan-pertanyaan random yang ingin dijawab dengan serius, ilmiah. “Tolong ya dek, kirimin di whatsapp, kandungannya pete apa aja, trus sama efek sampingnya juga. Soalnya ibu denger dari mbak I, katanya pete bisa ngobatin benjolan sama hipertensi. Jadi ibu penasaran. Tolong ya dek cepetan.” Jadi, mbak I itu adalah sepupu saya yang notabene seorang pengusaha pete. Okelah tulisan kali ini saya persembahkan untuk ibu yang penasaran, suami yang penikmat pete, sepupu yang pengusaha pete, dan siapapun yang suka dengan biji hijau royo-royo ini ..

Petai, dalam bahasa latin disebut Parkia speciosa Hassk., adalah tanaman yang berasal dari Asia Tenggara. Di Indonesia, Malaysia, dan Singapura disebut petai atau pete, di Thailand sataw/ sator/ sadtor, u’pang di Filipina, dalam bahasa Inggris disebut stink bean.

Selama tinggal di Austria, saya belum pernah menemukan pete di supermarket. Hehe. Tapi di toko Asia, hampir selalu ada di dalam freezer (beku). Saya sendiri bukan penikmat pete, suami saya pecinta berat. Alhamduliillah, harga pete di sini sangat melambung, udah gitu toko Asianya ada di kota sebelah. Sirna sudah hasrat suami untuk belanja pete dari toko Asia. Yeayyy #eh.

Kebanyakan dari kita pasti tau biji petai dan kulitnya seperti apa, apalagi aromanya yang khas. Tapi mungkin tidak semua orang tau kalau pohonnya bisa tumbuh hingga 40 m tingginya. Menjulang.. baik akar, batang, kulit hingga bijinya (bagian yang dimakan) mengandung senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh, tetapi paling banyak memang berada di bijinya. Pernah dengar dari kawan, tetangga, atau majalah yang menyebutkan bahwa petai digunakan untuk terapi hipertensi, diabetes, cacingan, dan masalah ginjal (secara tradisional)? Pernah penasaran petai serius bisa nyembuhin penyakit dan kelainan tersebut? Kalau iya, pas banget karena alinea-alinea berikutnya akan membahas tentang ini. Kalau belum, semoga sekarang jadi penasaran (biar tetap dibaca.. hehehe).

Petai Kaya Nutrisi

Ternyata, petai memang mengandung banyak nutrisi dan senyawa kimia yang bermanfaat. Nutrisi yang terkandung dalam biji petai di antaranya protein, lemak, karbohidrat, mineral (banyak sekali jenisnya), dan vitamin (vitamin C, thiamin/ vitamin B1, dan alfa tocoferol/ vitamin E). Komposisinya bisa di lihat pada gambar tabel berikut :

nutrisi-petai

Nilai yang tertera pada tabel adalah hasil penelitian terhadap sampel petai yang dipanen dari Batang Kali Selangor Malaysia tahun 2013. Nilai yang tertera kurang lebih hanya sebagai gambaran, nilainya tidak akan persis sama untuk setiap petai yang dipanen di belahan bumi manapun karena tentu kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh si pohon petai juga berpengaruh pada hasilnya. Namun jenis nutrisi yang terkandung kurang lebih akan sama.

Petai juga Mengandung Berbagai Senyawa Kimia Potensial

Hampir semua senyawa kimia penting terdapat pada bijinya. Senyawa kimia potensial yang terkandung dalam petai di antaranya tannin (dalam konsentrasi tinggi. Selain pada biji juga terdapat pada kulitnya yang tebal), terpenoid, thiazolidine-4-carboxylic acid, flavonoid, alkaloid, polisulfida siklik, dan satu lagi yang paling menarik penamaannya djenkolic acid.

Terpenoid Membawa Efek Antihiperglikemia, Antikanker, dan Antinociceptive

Senyawa terpenoid yang terdeteksi ada pada petai meliputi β-sitosterol, stigmasterol, lupeol, campesterol, dan squalene. β-sitosterol dan stigmasterol adalah senyawa kimia yang memiliki aktivitas antihiperglikemia (menurunkan kadar gula darah). Lupeol memiliki aktivitas sebagai antikanker, antinociceptive (mengurangi rasa nyeri), dan anti inflamasi.

Tioproline turut serta Melawan Kanker

Tioproline adalah senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antikanker. Lagi-lagi antikanker. Senyawa tiopriline yang terdapat pada biji petai adalah tioprthiazolidine-4-carboxylic acid.

 

Petai juga Mengandung Flavonoid yang Memberikan Efek Antioksidan

Antioksidan dalam tubuh berperan untuk melawan stress oksidatif. Stress oksidatif merupakan kondisi tidak ideal yang terjadi pada sel tubuh, salah satunya proses detoksifikasi yang tidak sempurna. Stress oksidatif juga berperan pada banyak kondisi abnormal tubuh seperti tekanan darah tinggi, kanker, hiperbilirubinemia, ateroskeloris, diabetes, dan sebagainya. Rajin mengonsumsi makanan kaya flavonoid sama artinya dengan mencegah stress oksidatif terjadi pada sel tubuh kita, membantu menghindarkan kita dari berbagai macam penyakit.

 

Polisulfida siklik dalam Petai Menghambat Pertumbuhan Bakteri

Polisukfida siklik yang terkandung di dalam petai ada yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri, yaitu hexathionine dan trithiolaneBerdasarkan hasil penelitian, kandungan tersebut dalam petai memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri gram negatif seperti Helicobacter pylori, Escherichia coli, Aeromonas hydrophilaStaphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus anginosus, dan Vibrio parahaemolyticus. Tetapi tidak efektif menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhimuriumSalmonella typhi, Shigella sonnei, Citrobacter freundiiEdwardsiella tarda Vibrio alginolyticus, dan Vibrio vulnificus.

=======

Hmm, banyak juga ya senyawa obat yang dikandungnya. Apakah betul-betul bisa digunakan langsung untuk terapi? Sejauh ini saya belum menemukan data ilmiah terapi dengan petai untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu pada manusia. Informasi di atas diperoleh dari jurnal ilmiah yang penelitiannya dilakukan dengan menguji ekstrak petai (dalam berbagai jenis pelarut) terhadap binatang dan mikroba. Sementara untuk terapi pada manusia petai baru dilakukan secara tradisional dan belum terstandar.

Kita tentu harus ingat bahwa efikasi dalam mengobati penyakit atau kelainan tertentu salah satunya dipengaruhi oleh dosis. Berapa banyak petai yang diperlukan untuk bisa memberikan efek-efek tersebut? Apakah bila mengonsumsi petai dalam jumlah banyak sekaligus berharap salah satu efek bisa tercapai, apakah akan aman karena petai juga mengandung senyawa lain yang efeknya berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu hanya bisa dijawab dengan baik setelah melalui riset.

Yang pasti, petai memiliki potensi untuk bisa dikembangkan sebagai obat herbal terstandar, misalnya dengan diekstrak dan dipisah-pisahkan komponennya berdasarkan efeknya masing-masing, lalu diproduksi menjadi sediaan obat atau suplemen (misal dalam kapsul) yang memiliki dosis tertentu, teruji efek dan keamanannya. Ini adalah ranah ahli botani, farmasis bahan alam, industri obat, dan dokter.

Nah, hal yang lebih umum dari konsumsi petai adalah untuk kuliner, ya kan. Kebanyakan orang menghindari memakan petai karena “aroma khas”-nya yang sangat kuat. Sebagiannya justru menikmatinya. Yang berikut ini penting diketahui oleh para penikmat petai, efek samping yang bisa muncul

 

Senyawa Polisulfida Siklik dalam Petai Bertanggung Jawab terhadap Aroma dan Rasa Khasnya yang Kuat

Polisulfida siklik selain memiliki efek antibakteri, juga merupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aroma dan rasa khasnya yang kuat. Polisulfida siklik yang terkandung di dalam petai yang dimaksud adalah hexathionine, trithiolane, tetrathiane, pentathiopane, pentathiocane, dan tetrathiepane. Aroma dan rasa yang long last di mulut dan urin ini ya yang biasanya membuat orang tidak suka memakan petai, dan “menjaga hidung” sementara dari orang lain seusai memakannya. Hehe.

Tannin dalam Petai dapat Menghambat Proses Pencernaan Protein dan Asam Amino

Dibandingkan dengan sayur dan buah yang lain, petai mengandung tannin dengan konsentrasi tinggi. Tannin dapat menghambat proses pencernaan protein dan asam amino. Oleh karena itu, anak-anak tidak disarankan mengonsumsi petai karena absorpsi protein penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya.

Petai Menganung Djenkolic Acid, Senyawa yang… Toksik!

Petai juga mengandung senyawa yang namanya nyentrik, yaitu djenkolic acid. Djenkolic acid dapat mengkristal di dalam saluran kemih dan dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan sumbatan pada saluran kemih atau cedera ginjal akut. Djenkolic acid juga banyak terkandung dalam biji jengkol. Apakah memang karena itu dinamakan djenkolic acid? Hmm mungkin saja…

Djenkolic acid ini bisa berkurang kadarnya kalau direbus dulu sebelum dikonsumsi. Jadi, untuk menghindari efek samping dari makan petai pada ginjal, maka sebaiknya jangan dimakan mentah begitu saja, tetapi direbus dulu, dimasak, dan selalu ingat minum air putih yang banyak setelah makan petai. By the way.. setelah direbus, tentu ada beberapa senyawa larut air yang akan ikut hilang ya.. jadi mungkin saja manfaatnya akan berkurang. Paling tidak, kita mengurangi satu resiko berat pada saluran kemih dan ginjal kita. (kita? Saya kan ga makan petai. Hahaha)

====

Saya belum menemukan data ilmiah mengenai berapa rekomendasi maksimum konsumsi petai yang disarankan. Jadi menurut saya ya kembali lagi.. selama ginjal masih sehat, makan petai tidak berlebihan insya Allah aman-aman saja itupun sebaiknya direbus dulu dan disudahi dengan minum air putih yang banyak.. mm juga hargai orang lain yang tidak kuat dengan aroma nya. Hehehe.. Ngomong-ngomong berlebihan, memangnya berapa berlebihannya, itu dia yang masing-masing orang akan berbeda. Yang penting kenali dan perhatikan tanda-tanda efek samping yang muncul ya..

Referensi : Jurnal publikasi Parkia SpeciosaJurnal publikasi Djenkolic Acid.

Featured image : Petai

Baca juga :

Hendak ke Luar Negeri, Perlukah Vaksinasi TBE (Tick-Borne Encephalitis) untuk Mencegah Meningitis, Ensephalitis, dan Meningoensephalitis?

Mengenal Kuman, alias Pathogen, si Biang Penyakit

Mengapa Perlu Mengisi Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak?

Merkuri Oh.. Merkuri

Hendak ke Luar Negeri, Perlukah Vaksinasi TBE (Tick-Borne Encephalitis) untuk Mencegah Meningitis, Ensephalitis, dan Meningoensephalitis?

Sebelumnya ini sudah saya post di FB, ternyata respon teman-teman untuk mengshare lumayan juga, jadi saya pikir ada baiknya untuk di-share juga di blog.

Hari ini (25/01/2017) jadwal kami sekeluarga vaksinasi FSME (Fruehsommer-Meningoencephalitis) atau dalam bahasa Inggris disebut TBE (Tick-Borne Encephalitis). Karena daerah kami tinggal termasuk wilayah endemik. Vaksin ini salah satu ikhtiar untuk mencegah infeksi virus yang disebarkan oleh semacam kutu (di sini kutunya disebut Zecken atau Tick dalam bahasa Inggris).

Infeksi virus yang disebar oleh kutu ini bisa menyebabkan meningitis (radang selaput otak), ensephalitis (radang jaringan otak), atau meningoensephalitis (radang selaput dan jaringan otak). Imbasnya pada gangguan syaraf.

Beberapa bulan yang lalu salah satu teman kami terserang virus ini. Dan efeknya masih ada sampai sekarang. Bahkan menurut tim medisnya, sakitnya bisa bertahan menahun sampai 2 tahun atau lebih, bisa berkurang atau memberat. Ikut sedih lihat kondisinya. Kata dia, ketika sakitnya “kambuh” dia merasakan seluruh tubuhnya kesakitan. Selain itu, dia tidak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian lengan hingga jari-jari tangannya. Sebelumnya dia seorang pianis. Sejak terserang infeksi virus ini, dia tidak bisa lagi bermain piano, Bahkan sekedar mengetik di laptop nya atau menulis SMS juga kesulitan.  Tapi Alhamdulillah ikut senang. Sekarang kondisinya sudah membaik, sudah bisa berkarir lagi dan beraktivitas walaupun belum bisa main piano lagi dan juga belum se-fit dulu, masih kambuh-kambuhan. Capai sedikit, kambuh.

Di Austria vaksinasi FSME atau TBE belum digratiskan, baru ada subsidi sebagian dari pemerintahnya. Jatuhnya per orang di sini sekitar EUR 30-an sekian. Vaksinasinya rutin dengan jadwal : vaksin pertama, vaksin kedua 4 minggu dari yg pertama, vaksin ketiga 9-12 bulan dari yang kedua, vaksin keempat 3 tahun kemudian, selanjutnya setiap 5 tahun sampai berusia 60 tahun, di atas 60 tahun per 3 tahun. Vaksin ini untuk anak umur >1 tahun sampai dewasa. Kalau sudah vaksinasi rutin, insya Allah bisa mengcover 99%. Ga ada vaksin yang bisa 100% lah ya, ada campur tangan Tuhan di sana. Tapi insya Allah kalaupun kena setelah di-vaksin, ya tidak akan separah kalau kenanya belum di-vaksin.

Mahal ya, tetapi jika dibandingkan dengan dapat infeksinya pada saat kita belum di-vaksin, konsekuensinya lebih berat dibanding besar uang yang harus kita keluarkan untuk vaksin.

Saya senang dengan permisalan suami, vaksin itu ibarat kunci mobil. Mobil sudah dikunci rapat masih sering ada yang kecurian. Apalagi kalau mobilnya tidak dikunci, semakin mudah untuk dicuri.

Peta di bawah ini menggambarkan daerah endemik di dunia. Merah = TBE tipe Timur, Kuning = Tipe Barat, Orange = kedua-duanya. Selain merah, orange, kuning = bukan daerah endemik.

fsme-global-endemic-map

Alhamdulillah Indonesia saat ini tidak termasuk daerah endemik TBE. Jadi tidak perlu vaksinasi TBE. Hanya nanti perlu dipertimbangkan jika hendak berkunjung, sekolah, kerja atau pindah ke daerah endemik terutama di bulan-bulan Mei-Juni (musim semi), September (musim gugur). Apalagi jika akan berinteraksi dengan alam, main di taman, rumput, hiking, dll. Sebelum berangkat ke luar negeri, sebaiknya konsultasikan kepada dokter mengenai vaksinasi ini.

.

Referensi : reisemed.at , wikipedia.org

.

Baca juga :

Mengenal Kuman, alias Pathogen, si Biang Penyakit

Merkuri Oh.. Merkuri

Membuat Paspor untuk Bayi

 

Mengenal Kuman, alias Pathogen, si Biang Penyakit

Setiap hari, setiap saat, tanpa disadari kita berhadapan dengan kuman. Dalam bahasa mikrobiologi, kuman biasa disebut sebagai patogen. Patogen adalah sesuatu yang dapat menginfeksi tubuh kita dan membuat kita menderita penyakit tertentu. Patogen disebut juga mikroorganisme parasit. Pada saat kita berkontak langsung dengan patogen, maka bisa dikatakan kita terpapar patogen. Sementara jika patogen berhasil masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit tertentu maka dapat dikatakan kita terinfeksi patogen. Patogen tidak hanya menginfeksi manusia, patogen juga dapat menginfeksi hewan dan tumbuhan.

Di bawah ini adalah salah satu gambar hasil scan mikroskop elektron terhadap patogen yang di-publish di buku Microbiology of The Cells 4th edition karya Bruce Alberts dkk :
scan-mikroskop-kutu
Gambar A : Kutu, parasit yang sudah umum menjadikan mamalia menjadi inang, termasuk manusia, anjing, kucing, dan tikus. Kutu meminum darah inang. Gigitannya menyebarkan penyakit pes dengan memasukkan bakteri Yersinia pestis ke peredaran darah inang. Bakteri ini diperolehnya dari inang yang sebelumnya yang menderita penyakit pes.
Gambar B : Penampakan close up kaki kutu. Ini mengungkapkan bahwa kutu juga dapat dihinggapi parasit lain semacam tangau, di mana tungau ini (tampak di bawah mikroskop) diselubungi oleh bakteri. Sangat mungkin bakteri ini terparasitisasi oleh Bakteriofag yang merupakan virus bakteri.
Tubuh kita adalah ekosistem yang kompleks bagi patogen. Pada kondisi sehat, tubuh kita terdiri dari kurang lebih 1013 sel manusia dan 1014 sel bakteri, jamur, dan protozoa yang merepresentasikan ribuan spesies mikroba. Mikroba-mikroba ini disebut flora normal karena normal tinggal dalam tubuh kita. Flora normal biasanya tinggal terbatas pada area tubuh tertentu, seperti kulit, mulut, usus besar, dan vagina. Flora normal tidak menyebabkan penyakit pada manusia kecuali jika sistem imun tubuh melemah atau mereka masuk ke area steril pada tubuh. Misalnya ketika dinding usus manusia mengalami perforasi (berlubang) maka flora normal dapat memasuki rongga peritoneal (rongga perut) dan menyebabkan peritonitis (radang pada jaringan dinding perut bagian dalam).
Berbeda dari flora normal, patogen tidak harus menunggu sistem imun sel inang lemah atau terluka untuk dapat menginfeksi. Patogen memiliki mekanisme spesial untuk bisa menerobos barier sel dan biokimia manusia. Patogen juga mampu menstimulasi respon tubuh inang yang bisa membantu patogen tersebut bermultiplikasi menjadi lebih banyak.
Manusia hampir selalu terinfeksi oleh virus setiap saat. Akan tetapi, tidak selalu menimbulkan gejala yang tampak. Gejala yang muncul biasanya dihubungkan sebagai tanda suatu “penyakit” tertentu. Gejala seperti ini sesungguhnya merupakan manifestasi respon imun tubuh kita sendiri melawan infeksi. Misalnya seperti demam, bengkak, kemerahan, nanah, dan sebagainya. Gejala-gejala ini adalah tanda bahwa sistem imun kita sedang bereaksi untuk menghancurkan patogen yang menginfeksi tubuh.
Patogen itu sendiri meliputi :
1. Bakteri. Contoh : Neisseria meningitidis (salah satu bakteri penyebab meningitis), streptococcus (salah satu penyebab radang tenggorokan), dll.
2. Virus. Contoh : Hepatitis A Virus, Hepatitis B Virus,Hepatitis C Virus, dll.
3. Jamur. Contoh : penyebab kurap kaki, dll
Apakah paparan patogen akan menyebabkan infeksi atau tidak, ditentukan oleh :
1. Dosis : jumlah patogen yang memapar tubuh
2. Virulensi : kekuatan patogen yang memapar tubuh
3. Resistensi tubuh : kemampuan sistem imun tubuh untuk melawan patogen yang masuk.
Mengapa patogen senang menginfeksi manusia?
Patogen nenginfeksi manusia karena mereka mencari cara untuk bisa hidup dan berkembang biak menjadi lebih banyak. Sebagai inang, manusia kaya nutrisi, dan merupakan lingkungan yang hangat dan lembab, dengan suhu relatif seragam setiap saat, juga sel-sel tubuh yang selalu diperbaiki. Kondisi seperti ini mendukung berbagai patogen untuk bertahan hidup dan bermultiplikasi menjadi lebih banyak.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah infeksi patogen di antaranya adalah dengan melakukan vaksinasi, menjaga higienitas diri & lingkungan, menjaga makanan yang bergizi, olahraga teratur, serta istirahat yang cukup. Sementara bila sudah terlanjur terkena infeksi, jalani treatment yang sesuai dengan anjuran dokter dan tenaga kesehatan.
Referensi :
Sumber featured image : Jackcusumano
Baca juga :

 

 

Mengapa Perlu Mengisi Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak?

dscn8701Pastikan Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak kita terisi dengan lengkap ya setiap kali kunjungan ke dokter. Ingatkan dokter jika beliau lupa. Seringkali sulit bagi kita mengingat informasi medis dan tumbuh kembang anak yang penting di kemudian hari, apalagi jika anak kita kemudian memiliki adik, dan adiknya punya adik lagi, dan seterusnya. Hehe. Juga, seringkali di ruang tunggu praktek, sedang menunggu anak kecil lain yang kesakitan. Informasi cepat dan akurat di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak akan mengurangi waktu yang terbuang karena kita harus mengingat-ingat informasi detail di masa lalu. Pemeriksaan jadi efisien, efektif, tapi menyeluruh terhadap anak kita.

Yuk, kita bantu ciptakan pelayanan kesehatan berkelanjutan dan menyeluruh untuk anak-anak kita. 💪:)💪

Sekitar 3 bulanan yang lalu, datang surat dari Eltern Kind Information Service (Layanan Informasi Orang Tua dan Anak dari pemerintah Austria) ke alamat kami. Isi surat tersebut adalah reminder jadwal untuk pemeriksaan tumbuh kembang oleh dokter spesialis anak untuk anak-anak usia 22-26 bulan. Pemeriksaan tersebut gratis untuk setiap anak yang memiliki ijin tinggal di Austria.

Setelah sempat tertunda karena anak saya terserang Rotavirus, akhirnya pekan lalu saya dan anak bertandang ke tempat praktek dokter spesialis anak. Baik resepsionis, asisten dokter, maupun dokter anaknya, semuanya menanyakan apakah saya memiliki “Mutter-Kind-Pass”, Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Austria. Saya katakan tidak, karena anak saya lahir di Indonesia, sembari menyerahkan buku serupa yang saya dapatkan setelah persalinan di Indonesia.

Dokter dengan telaten membolak-balik satu-persatu halaman dari awal hingga akhir. Sepertinya agak sedikit kecewa karena tidak semua informasi yang beliau cari tertulis di buku atau mungkin juga justru terkesima pada gambar-gambar karikatur di setiap halamannya, who knows 😀 Tapi beliau sempat bermonolog mengapa tabel-tabelnya dibiarkan kosong tidak terisi (tabel bagian pemeriksaan selama hamil dan pasca melahirkan).

Rupanya informasi-informasi berikut ini yang beliau inginkan (yang selalu didokumentasikan oleh dokter kandungan dan dokter anak di dalam Mutter-Kind-Pass) :

1. Hasil pemeriksaan selama kehamilan, termasuk hasil tes lab dan USG
2. Medikasi apa saja yang ibu jalani selama hamil
3. Catatan persalinan
4. Hasil pemeriksaan bayi seketika setelah lahir
5. Hasil pemeriksaan ibu selama masa nifas, termasuk medikasi dan imunisasi terhadap ibu
6. Hasil pemeriksaan tumbuh kembang bayi berkala yang pernah dijalani sebelumnya (termasuk di antaranya berat & tinggi badan, serta lingkar kepala)
7. Rekam vaksinasi

Di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak milik saya (diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia) sebenarnya ke-tujuh poin tersebut sudah ada form, tabel, maupun chart nya. Namun, hanya bagian Catatan Persalinan, Rekam Vaksinasi, dan Grafik Berat Badan bulanan saja yang terisi. Lainnya kosong, baik hasil pemeriksaan selama hamil maupun pemeriksaan tumbuh kembang.

Bagian pemeriksaan hamil memang dibiarkan kosong karena diisi di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak dari RSIA Hermina Pasteur (selama 8 bulan pertama kehamilan saya tinggal di Bandung). Setelahnya hingga persalinan berada di Wonosobo. Nah, di bagian pemeriksaan tumbuh kembang, memang pada saat itu, hasil pemeriksaan tumbuh kembang anak saya di Indonesia selalu dilakukan berbarengan dengan vaksinasi. Rekam tumbuh kembang dicatatnya hanya di rekam medis dokter dan kepala saya, tidak dicatat di buku. Yang dicatat hanya rekam vaksinasi dan berat badan anak.

Selama di Indonesia, vaksinasi sekaligus konsultasi tumbuh kembang anak saya sempat dilakukan di 3 kota yang berbeda. Jadi, 3 dokter anak yang berbeda. Pada saat pemeriksaan sudah terbiasa dengar pertanyaan-pertanyaan tentang “masa lalu”, seperti kapan tumbuh gigi pertama kali, merangkak, jalan, makan, tinggi badan saat umur sekian, sakit atau sehat ketika chart berat badan turun, riwayat sakit, dsb. Kadang terjawab dengan lancar, kadang hanya perkiraan karena tidak mungkin bisa ingat semuanya dengan detail. Informasi kira-kira ini sepertinya sudah jadi hal yang biasa dan dimaklumi. Mungkin juga karena anak saya Alhamdulillah tidak memiliki tanda kelainan apapun. Tapi ketika sesuatu tidak diharapkan terjadi, misal seperti kok beberapa bulan yang lalu berat badan di grafik KMS turun drastis. Apa yang terjadi waktu itu secara medis, konsultasi dengan dokter hanya bisa menghasilkan kesimpulan mentah karena data aktual hanya “di awang-awang” pada saat konsultasi.

Berbeda ketika hal serupa dilakukan di sini. Mungkin juga karena informasi demikian seharusnya tidak perlu dikira-kira karena tinggal dibuka di Buku-Kesehatan-Ibu-dan-Anak seandainya saja setiap konsultasi selalu terdokumentasi. Tenaga kesehatan di sini sudah terbiasa mendapatkan semua informasi tumbuh kembang yang diperlukan dari Mutter-Kind-Psss, sehingga jika terdapat ketidaksesuaian tumbuh kembang bisa terdeteksi dan diantisipasi resiko beratnya sejak dini. Pernyataan yang saya bold tertulis di Mutter-Kind-Pass.

Akhirnya, dokter memberikan saya Mutter-Kind-Pass terbitan kementerian kesehatan Austria itu, dan meminta saya mengisikan sendiri hasil-hasil pemeriksaan yang umum selama di Indonesia ke kolom-kolom yang ada, misalnya seperti perkembangannya, riwayat sakitnya, dll yang umum.

Sekilas tentang Mutter-Kind-Pass Rep. Austria berdasarkan pemahaman saya setelah membaca seluruh isi buku ini.

Mutter-Kind-Pass adalah sebuah ide bagus untuk menjaga sistem pelayanan kesehatan berkelanjutan pada seorang anak dimulai sejak dirinya berada di dalam kandungan. Ibu hamil di Austria akan mendapatkan Mutter-Kind-Pass sejak pertama kunjungannya ke dokter Obgyn. Semua rumah sakit dan dokter menggunakan Mutter-Kind-Pass yang sama.

Sesuai namanya “Pass” (=passport (EN)), memang ukurannya similar dengan paspor. Isinya sangat to the point. Hanya pengantar, lalu jadwal kontrol ibu dan anak, serta form yang mencakup ke-7 poin di atas tadi.

Pada Mutter-Kind-Pass juga disertakan brosur terpisah knowledge management untuk ibu hamil dan menyusui serta tumbuh kembang anak.

Setiap kontrol, dokter akan mencatat hasil pemeriksaan pada rekam medis di tempat prakteknya juga pada Mutter-Kind-Pass. Ini sudah menjadi SOP nya. Sehingga ke dokter mana pun bumil, busui, dan anaknya kontrol, dokter yang baru akan mendapatkan gambaran kondisi kesehatan sebelumnya dari Mutter-Kind-Pass. Informasi diperoleh dengan akurat dan cepat. Selain kontrol rutin, jika suatu saat terserang penyakit atau kelainan tertentu, dokter akan menelusuri faktor resiko penyebabnya secara menyeluruh, jika diperlukan, termasuk informasi mengenai medikasi terhadap ibu selama kehamilan.

Bagaimana kalau Mutter-Kind-Pass lupa dibawa ya saat ke dokter? Hmm kayaknya mah ga akan lupa sih, karena rupanya Mutter-Kind-Pass ini adalah “tiket” untuk mendapatkan tunjangan untuk ibu dan anak dari pemerintah. Ya, setiap anak yang ayahnya sudah membayar pajak penghasilan kepada pemerintah Austria, berhak mendapatkan tunjangan. Nah ibunya juga, kalau mau tidak bekerja, berhak mendapatkan tunjangan selama 2 tahun, dan disebut sebagai Karenz. Totally normal, pajaknya saja besar.. kurang lebih 45% dari penghasilan brutto 😮😮.

Kembali ke Mutter-Kind-Pass. Di dalam nya tertera jadwal 5x pemeriksaan wajib selama hamil, dan 5x tidak wajib, beberapa kali pemeriksaan selama nifas, dan 9x pemeriksaan tumbuh kembang anak setelah lahir.

Pemeriksaan Wajib untuk Ibu Hamil :
1. 1× pada usia kehamilan 16W (cek darah)
2. 1x pada usia kehamilan 17-20W (cek dalam)
3. 1x pada usia kehamilan 25-28W (cek darah)
4. 1x pada usia kehamilan 30-34W
5. 1x pada usia kehamilan 38W

Pemeriksaan tidak wajib ibu hamil :
1. 1x USG pada usia kehamilan 8-12W
2. 1x USG pada usia kehamilan 18-22W
3. 1x USG pada usia kehamilan 30-34W
4. 1× USG setelah anak lahir minggu pertama
5. 1× USG setelah anak lahir 6-8 minggu

Pemeriksaan wajib untuk anak (di luar jadwal imunisasi) :
1. 1x pada minggu pertama kelahirannya
2. 1x pada minggu ke-4 sampai ke-7 (termasuk pemeriksaan ortopedi)
3. 1x pada bulan ke-3 sampai 5
4. 1x pada bulan ke-7 sampai 9 (termasuk pemeriksaan THT)
5. 1x pada bulan ke-10 sampai 14 (termasuk pemeriksaan mata)

Pemeriksaan tidak wajib untuk anak :
1. 1× pada bulan ke-22 sampai 26 (termasuk pemeriksaan mata)
2. 1x pada bulan ke-34 sampai 38, sekitar ulang tahun anak ke-3
3. 1x pada bulan ke-46 sampai 50, sekitar ulang tahun anak ke-4
4. 1x pada bulan ke-58 sampai 62, sekitar ulang tahun anak ke-5

Status pemeriksaan “wajib” dan “tidak wajib” dalam Mutter-Kind-Pass berpengaruh pada pencairan tunjangan. Seluruh pemeriksaan wajib harus terlaksana dan terdokumentasi, stempel dan cap dokter di Mutter-Kind-Pass seusai pemeriksaan harus ditunjukkan kepada pihak asuransi. Di sini kantor asuransi berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam urusan pencairan tunjangan. Tidak terlaksananya pemeriksaan wajib akan menyebabkan tunjangan dihentikan atau dikurangi. Sementara pemeriksaan tidak wajib, jika tidak dilaksanakan maka tidak akan mempengaruhi tunjangan.

Jadi, dalam situasi saya, walaupun pemeriksaan tumbuh kembang dilakukan berkali-kali selama di Indonesia dan bisa disinkronkan waktunya apakah sesuai dengan jadwal yang diwajibkan untuk kontrol, tetap tidak bisa digunakan untuk mencairkan tunjangan karena tidak ada dokumentasi, cap, dan stempel asli dari dokter yang memeriksa.

———————————————————————————————————

Pelajaran kali ini : Pastikan Buku Kesehatan Ibu dan Anak kita terisi dengan lengkap ya setiap kali kunjungan ke dokter. Ingatkan dokter jika beliau lupa. Seringkali sulit bagi kita mengingat informasi medis dan tumbuh kembang anak yang penting di kemudian hari, apalagi jika anak kita kemudian memiliki adik, dan adiknya punya adik lagi, dan seterusnya. Hehe. Yuk, kita bantu ciptakan pelayanan kesehatan berkelanjutan dan menyeluruh untuk anak-anak kita. 💪:)💪

Salam dari Leoben, Austria.

Pengalaman Pertama Hamil dan Melahirkan =)

Saya dan suami sedang LDR ketika test pack pertama kali bergaris dua. Saya bekerja di Tangerang, suami saya di Bandung. Bahagia sekali ketika dua garis itu akhirnya muncul juga, merah dan nyata. Rasanya seperti dipercaya untuk menerima amanah besar ini, saya akan menjadi orang tua. Hari itu hari Rabu, mood saya di kantor bahagia sepanjang hari. Hihi. Setelah kenyang bahagia, barulah saya mulai bingung, selanjutnya saya harus ngapain? Hahahaa.. maklum.. belum pernah punya pengalaman. Dari teman sekantor saya yang rata-rata ibu-ibu, barulah saya tau, saya perlu cek ke dokter 🙂

Seperti biasa, Jumat sore saya dan beberapa teman sekantor hijrah ke Bandung. Istilah ngetrend-nya waktu itu “PJKA” (Pulang Jumat, Kembali Ahad). Saya dan suami memilih RSIA Hermina Pasteur untuk mengecek kehamilan saya. Tidak ada alasan khusus selain RS tersebut yang paling familiar bagi kami. Sebelumnya saya sudah hunting testimoni dokter terlebih dulu di internet. Saya ingin memilih dokter kandungan perempuan yang ramah, pro kelahiran normal, dan tidak pelit ilmu. Dari hasil hunting testimoni di internet, pilihan saya jatuh pada dokter Anna Fachruriah. Kebetulan jadwal prakteknya pas dengan waktu luang kami.

Kunjungan ke dokter Anna yang pertama kali memberikan kesan yang sangaaaat positif. Beliau keibuan sekali, ramah, baik, mau menjelaskan sesuatu dengan detail, dan terbuka untuk sesi konsultasi meskipun pasiennya teramat sangat banyak sekali. Sebetulnya ini juga yang jadi kekurangannya, karena pasiennya terlalu banyak, antrinya bisa berjam-jam kalau tidak datang lebih awal. Pun jauh hari sebelumnya harus sudah melakukan pendaftaran dulu. Pada kunjungan yang pertama ini hasil USG dalam rahim baru kantong yang tampak. Usianya 6 week 🙂

image

Setiap bulan saya rutin memeriksakan kandungan ke dokter Anna. Pernah beberapa kali saya tidak kebagian dokter Anna. Akhirnya mau tidak mau kontrol ke dokter yang lain. Sempat ganti beberapa dokter juga, selain karena tidak kebagian dokter Anna, juga karena kurang ‘sreg’ dengan dokter yang selain dokter Anna tersebut.

Setelah kandungan memasuki trimester ketiga, saya akhirnya memutuskan berhenti dari tempat saya bekerja. Sebetulnya di awal-awal kehamilan pun sempat terbesit keinginan untuk resign. Akan tetapi saya merasa belum ada alasan yang benar-benar membuat saya harus berhenti. Sampai akhirnya kandungan memasuki usia tujuh bulan, saya sering merasakan kontraksi. Rasanya seperti kram di perut. Mungkin rutinitas pekerjaan dan aktivitas PJKA, hehe, membuat saya terlalu lelah. Akhirnya saya resmi berhenti bekerja setelah usia kandungan delapan bulan. Saya pindah ke Bandung, tinggal bersama suami di pondok indah kontrakan. Hehe. Pada waktu itu kami belum punya rumah sendiri di Bandung.

Begitu saya resign, aktivitas berat belum selesai. Karena saya dan suami harus mengurusi pindah dari kontrakan ke rumah mungil kami sendiri. Akhirnya kami bisa beli rumah, walaupun lebih dari setengahnya dibayar pakai KPR di bank keluarga (pinjam orangtua maksudnya, hehe). Kurang lebih dua minggu setelah resign,  kami pindah ke rumah baru. Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Di rumah baru hanya dua minggu, sudah waktunya mudik lebaran. Rumah masih super duper berantakan. Barang-barang belum sempat seluruhnya di-unpack. Apa boleh buat, kami sudah beli tiket kereta mudik dari tiga bulan sebelumnya. Kamis malam pun kami berangkat ke Jogja. Tujuan mudik kami adalah ke Wonosobo, rumah orang tua saya. Ohya sebelum mudik saya sempat kontrol dulu. Kali ini saya sengaja tidak ke dokter Anna, tapi ke dokter yang bulan lalu meminta saya cek lab. Saya pikir-pikir lebih baik meneruskan dokter yang ini daripada ganti lagi. Eh ternyata dokternya mendadak tidak bisa praktek di hari itu. Maka saya pindah dokter baru lagi. Saya pilih dokter Fitria (gambling). Saya pasien pertama nya di hari itu tetapi tetap harus menunggu karena dokter Fitria sedang menangani sc. Sambil menunggu saya hunting testimoni lagi di internet melalui ponsel. Intinya responnya positif, katanya dokter Fitria orangnya cantik dan komunikatif. Lalu nama saya dipanggil. Oke, mari kita buktikan. Masuk ruangannya, dan ternyata betul dokter Fitria cantik banget.. masih muda dan fresh. Orangnya komunikatif memang. Seperti dokter Anna tapi versi mudanya. Ahh.. kenapa ga dari dulu ke dokter Fitria.. sekalinya dapat yang pas udah mau mudik.

Di Wonosobo, setelah lebaran aktivitas kami selanjutnya adalah hunting tempat bersalin. Di Wonosobo ada beberapa rumah sakit kelas A (umum), satu rumah sakit ibu dan anak, serta satu klinik bersalin. Sudah menjadi keinginan saya dari awal melahirkan di rumah sakit yang memfasilitasi Inisiasi Menyusui Dini (IMD), rooming in (bayi langsung sekamar dengan ibunya setelahdilahirkan), dan dengan suasana homey sehingga rasanya seperti ada di rumah, bukan di rumah sakit. Bahagianya saya ternyata di sana ada satu klinik bersalin yang memenuhi kriteria ini. Maka setelah lebaran saya rutin kontrol kondisi janin di klinik itu.

image

Seminggu setelah lebaran, yaitu saat usia kandungan sudah memasuki week 37, perkiraan berat badan janin kami di USG turun. Sedih sekali, karena turunnya terjun bebas dari 2.2 kg menjadi 1.89 kg. Hari Perkiraan Lahir (HPL) tinggal tiga minggu lagi, berat janin malah turun sampai kurang dari 2 kg.  Kemudian es krim pun saya babat. Tidak pernah terlewat menu satu stick eskrim Magnum atau Feast setiap hari. Sehari saya makan nasi empat kali, pagi, menjelang zuhur, setelah ashar, dan sesudah isya. Jadwal kontrol saya sudah seminggu sekali waktu itu. Tiap kali kontrol di-USG perkiraan berat badan janin naik tapi tidak signifikan. Padahal porsi makan saya sudah kuli 😦 Pada week 39 jalan 40, perkiraan berat janin masih 2,2 kg (targetnya bayi lahir 2,5 – 3 kg). Secara usia kandungan, anak saya sudah boleh lahir. Tetapi secara berat masih kurang dari berat normal bayi lahir. Namun air ketuban sudah sedikit. Akhirnya saya pasrah. Saya berdoa kepada Allah, saya ikhlas, jika memang baik mohon agar bisa lahir ditemani oleh suami saya (setelah lebaran, saya dan suami kembali LDR, kali ini Bandung – Wonosobo). Meskipun perkiraan beratnya kurang, saya tetap optimis. Mungkin kalau beratnya kecil lebih gampang keluarnya. hehehe. Toh kalau sudah lahir bisa dibesarkan di luar. Yang penting “waras selamet” (sehat dan selamat).

Di lain sisi, kerabat, tetangga, sudah  ikut menanti-nanti kelahiran si jabang bayi. Saya juga jadi semakin ingin cepat menggendhong bayi saya. Memasuki week 40, calon dede bayi pun sering saya ajak bicara, “Aqila lahirnya pas ada Ayah aja ya.. Ayah ada pas hari Sabtu atau Minggu.” Kebetulan kontrol terakhir (ketika divonis berat janin masih 2.2 kg dan ketuban kurang) adalah di hari Sabtu. Saya bisa kontrol ditemani suami. Saat ayahnya datang, saya katakan ini kepada calon debay,”Aqila, ayah sudah datang nih.. boleh ya kalau lahir hari ini atau besok.. Senin ayah ke Bandung lagi..”

Super duper ajaib, Sabtu siang tanggal 23 Agustus 2014 sepulang dari kontrol, kontraksi yang ditunggu pun datang. Waktu itu sih saya tidak tau kalau itu kontraksi kelahiran, hanya ada terasa kontraksi yang berbeda dari biasa, terus menerus tapi pelan dan tidak menyakitkan. Malam harinya, kontraksi itu masih juga terasa, lebih menyakitkan. Saya jadi semakin curiga, mungkin ini tanda-tanda kelahiran. Saya ingat-ingat pesan ibu, kakak, sahabat, kerabat, dan literatur jika kontraksi sudah per 3 menit maka harus segera ke dokter. Kemudian saya putuskan untuk mencatat frekuensi dan durasi kontraksi dengan stopwatch di ponsel saya. Di samping kiri saya suami yang tertidur lelap karena kelelahan perjalanan dari Bandung, saya berbaring sambil sesekali menahan sakitnya kontraksi, di samping kanan saya ada hp saya yang stand by stop watch nya, note, dan pulpen. Setiap kontraksi datang, saya catat jam mulai dan berhentinya. Hingga tengah malam, saya tidak bisa tidur karena sibuk mencatat kontraksi dan gelisah, hehe. Kontraksi demi kontraksi datang, saya catat, hitung, hingga di tengah malam kontraksi itu sudah datang tiap 3 menit sebanyak 3 kali berturut-turut. Kontraksinya terasa seperti ada sesuatu sedang berusaha memasuki lorong sempit di dalam sana. Oke, jiwa sok tau saya mengatakan ini betul tanda kelahiran. Tebak setelah itu apa yang saya lakukan? Saya pergi makan. Hahahaa… saya khawatir besok pagi sudah tidak ada napsu untuk makan, tapi saya yakin melahirkan pasti butuh tenaga ekstra, makanya saya langsung isi bensin dulu untuk persiapan mengejan. Saat saya keluar kamar, ternyata keponakan saya yang berumur 3 bulan sedang rewel di kamarnya. Ibu dan kakak saya ada di kamarnya sedang berusaha menenangkan. Selesai makan, setiap kontraksi datang saya sudah mulai meringis kesakitan. Mereka menyadari ringis saya, lalu bertanya, “kamu kenapa?” Saya jawab, “sakitnya udah tiap 3 menit, hehe”. Sontak ibu langsung menelepon ayah yang sedang dinas malam, agar pulang dan mengantar saya ke klinik.

Pukul dua pagi saya, suami, ibu, dan ayah sudah berada di klinik. Saya masuk ke ruang pemeriksaan, langsung diperiksa oleh bidan Norma, teman seangkatan saya waktu SMP. Hahaha rasanya santai sekali diperiksa teman sendiri. Katanya sudah pembukaan 1. Barang bawaan berupa tas yang isinya perlengkapan saya dan bayi pun segera diturunkan dari mobil. Perlengkapan ini sudah saya packing sejak usia kehamilan 33 minggu. Setelah check in kamar, bidan Norma memberi saya setengah tablet yang katanya untuk memacu kontraksi, dan nasehat agar saya segera tidur selagi bisa. Setelah minum tabletnya saya pun ke kamar mandi, kemudian berbaring tapi tidak bisa tidur. Rasanya nano nano. Hehe. Sekitar setelah azan subuh kontraksi itu semakin kuat, saya sudah sempoyongan ketika berdiri. Ke toilet pun sambil meraba-raba tembok dan memeluk ibu saya. Saya pun buru-buru berbaring lagi. Pukul 5 pagi bidan yang berbeda datang, sudah pembukaan 2. Bidan menyarankan saya miring ke kiri supaya proses pembukaannya lebih cepat dan mengurangi resiko pecah pembuluh di tulang belakang, yang ternyata membuat kontraksi terasa lebih sakit, hiks hiks. Sejak pukul tiga dini hari, setiap kontraksi datang saya tarik napas dalam-dalam sambil meyakinkan diri saya bahwa sakit kontraksi yang terasa adalah proses alamiah karena saat yang sama jalan lahir sedang menipis dan bayi mendorongkan kepalanya ke arah luar secara perlahan. Saat kontraksi datang pula, suami saya dengan sigap mengompress pinggang dan punggung saya dengan air hangat, memang saya yang minta, dan saya bersyukur suami saya mau melakukannya dengan tulus 🙂 Tiga hal itu yang saya akui bisa mengurangi rasa sakit saat kontraksi datang. Setelah kontraksi mereda, buru-buru suami saya mengelap punggung saya yang basah saat diseka air hangat agar tidak sampai kedinginan dan kembung. Ibu saya stand by memanggilkan bidan sewaktu-waktu saya meminta. Pukul tujuh pagi bidan datang meminta bedong, kupluk, popok kain, baju bayi, selendang, dan baju saya untuk di bawa ke ruang melahirkan. Bidan juga sambil mengecek pembukaan masih juga 2. Bidan sesekali datang setelah itu untuk mengecek dan mengingatkan jika saat kontraksi datang sudah mulai terasa seperti ingin pup, segera memanggilnya, dia pun keluar. Bentuk saya sudah tidak jelas rasanya waktu itu, ingin sekali teriak bidan kenapa ngga stand by di sini aja sih. Tapi sudah tidak mampu dan tidak sempat mengucapkannya karena kontraksi datang sering sekali. Tak lama setelah bidan keluar kamar, saya mulai merasakan itu. Ibu saya langsung keluar mencari bidan tadi. Bidan datang, mengecek pembukaan, ternyata sudah bukaan 5. Saya langsung dibawa ke ruang melahirkan di lantai basement (2 lantai di bawah kamar saya) menggunakan kursi roda. Selama menuju ruang melahirkan saya sudah tidak bisa memperhatikan lingkungan sekitar. Sudah berkunang-kunang. Tiap kontraksi datang, saya remas kuat-kuat si pegangan kursi roda. Kontraksi berhenti, tinggallah lemas. Hehe, perjuangan. Di ruang melahirkan, saya masih bisa pindah sendiri dari kursi roda ke kasur melahirkan. Saya diminta berbaring menghadap ke kiri lagi. Di ruang ini suami saya sudah tak bisa lagi menyeka air hangat ke punggung saya untuk mengurangi sakit saat kontraksi. Sebagai gantinya ayah saya yang baru datang mengusap-usap punggung saya dengan kencang saat kontraksi, ini ternyata ampuh juga mengurangi rasa sakit, karena gesekannya menghasilkan panas di kulit. Satu jam kemudian, dokter pun datang, sebelumnya saya bersama bidan dua orang. Setelah bidan mengkode, dokter pun meminta hanya satu orang yang menemani. Ternyata saat itu sudah pembukaan lengkap. Saya langsung meminta suami saya yang menemani. Di saat yang sama, ternyata suami juga menjawab, “saya saja dok”. Iniiii so sweet sekali, suami saya yang takut sama darah dan tindakan medis dengan sigapnya meminta ada terus di sisi istrinya sampai proses melahirkan ini selesai. Tidak ada perasaan lain detik itu selain senang dan tenang. Hihi. Orang tua saya keluar ruangan, lalu saya diminta berbaring telentang, lutut ditekuk, posisi melahirkan. Saya diminta mengejan sekuatnya ketika merasakan kontraksi yang paling kuat. Begitu merasakannya, saya mengejan kuat-kuat tapi katanya yang saya lakukan bukan mengejan. Hahahaha… entahlah saya sendiri tidak pernah mengejan dalam sehari-harinya. Saya coba lagi mengejan gaya lain. Masih salah. Heheheh. Coba sekali lagi, betul… tapi kurang kuat. Kata dokter, bidan, dan suami kepalanya sudah nongol sedikit tapi masuk lagi karena kurang kuat mengejan. Oke, saya jadi makin semangat membayangkan sebentar lagi ini semua selesai dan saya akan menimang bayi yang selama ini lucu di kandungan. Mengejan lagi… dan akhirnya dokter dan bidan berkata, “udah.. cukup..” Di saat yang sama suami mengusap kepala saya dan mengecup kening saya. Saya langsung berpikir bahwa anak saya pasti sudah lahir. Saya lirik ke arah dokter dan bidan, mereka sedang mengangkat seorang bayi, masih basah, tangan dan kakinya bergerak-gerak. Beberapa saat kemudian dia menangis. Alhamdulillah…. saya menarik napas dan mengucap syukur sedalam dalamnya. Apalagi kemudian dokter memberitau bayi saya perempuan.. sempurna.. semuanya bagus..

image

Alhamdulillah… insyaallah akan selalu kami jaga amanah ini. Semoga kelak dia menjadi anak yang solehah, sehat, lucu, pintar, mulia, beruntung, serta cantik jasmani, akhlak dan lisannya. Selamat datang ke dunia anakku… 🙂

Merkuri Oh.. Merkuri

Membaca tulisan salah satu orang yang paling berpengaruh di hidup saya http://andyyahya.multiply.com/journal/item/8/Beberapa_Orang_di_Luar_Sana_Harus_Menggadaikan_Hidupnya_Demi_Sebutir_Kelereng_Mekuri_part_2-selesai tentang penambang emas liar saya jadi tersentuh. Mereka menambang emas dengan tangan-tangannya sendiri. Ahli dari pengalaman, itulah mereka, bahkan mesin pun tak ada artinya bagi mereka. Mereka mengolah bijih-bijih emas kasar menjadi emas murni dengan jari jemari nya sendiri. Tanpa penapis, dari hari ke hari, bulan, dan tahun. Bayangkan, berapa banyak merkuri yang bisa masuk ke dalam tubuh mereka setiap harinya?

Merkuri, lebih dikenal sebagai air raksa (Hg), sesungguhnya ada dalam tiga bentuk, yaitu merkuri ilemental, inorganik, dan organik.

Merkuri Ilemental terdapat dalam bentuk unsurnya, yaitu Hg itu sendiri. Inilah yang biasanya dimanfaatkan untuk termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi (untuk tambal gigi), alat elektrik, batu batere, cat, katalisator pembuatan soda kaustik (NaOH), desinfektan, dan produksi klorin dari garam natrium klorida (NaCl). Merkuri jenis ini absorpsi (penyerapan) di saluran pencernaannya rendah, sehingga tidak menyebabkan efek toksik jika tertelan. Kecuali jika zat ini tersimpan lama di lambung dan ada luka terbuka di saluran pencernaan yang memungkinkan langsung masuk ke pembuluh darah, misalnya pada kasus tukak lambung. Jika pemaparannya langsung ke dalam pembuluh darah vena, merkuri dapat menyebabkan emboli paru, menembus sawar darah di otak dan plasenta karena sifatnya yang larut lemak. Di otak akan terakumulasi dalam bentuk ion merkurik (Hg ++) yang merupakan salah satu contoh ion inorganik. Pemanasan logam merkuri akan menyebabkan terbentuknya uap merkuri oksida. Uap merkuri oksida sangat iritan pada kulit, selaput mukosa mata, mulut, dan saluran pernafasan. Karena sifat-sifatnya dan keberadaannya dalam bentuk perkakas yang sering digunakan sehari-hari, keracunan merkuri jenis ini yang paling sering terjadi karena terhirup melalui hidung dalam bentuk uapnya.

Merkuri inorganik merupakan logam merkuri dalam bentuk ionnya, yaitu Hg++ atau Hg+. Materi Hg++ biasa digunakan untuk desinfektan, sedangkan Hg+ untuk laksansia (calomel) atau teething powder. Senyawa ini larut dalam air sehingga mudah diabsorpsi oleh saluran cerna, paru-paru, dan kulit. Pemaparan akut (singkat) dalam dosis tinggi beresiko menyebabkan gagal ginjal sedangkan pada pemaparan kronis (lama) dalam dosis rendah dapat menyebabkan proteinuri (ada protein di dalam urinnya, yang menandakan kerusakan ginjal) serta sindrom nefrotik dan nefropati yang berhubungan dengan gangguan imunologis.

Yang terakhir, merkuri organik, yaitu merkuri yang mengikat rantai alkil (rantai karbon). Merkuri dengan rantai karbon yang pendek biasanya yang menjadi kontaminan di lingkungan, bisa di air, sungai, tanah, dsb. Merkuri dengan rantai karbon panjang dimanfaatkan untuk fungisida dan desinfektan. Bahayanya, bila senyawa-senyawa ini mengkontaminasi ikan, tumbuh-tumbuhan dan termakan oleh manusia dapat menyebabkan degenerasi otak, ataksia, tuli, penyempitan jarak pandang, menembus plasenta dan terakumulasi dalam janin. Yang terakhir ini dapat menyebabkan kematian janin dalam kandungan.

Salah satu korban pencemaran merkuri Teluk Tokyo yang datang ke acara peringatan 50 tahun worst-health-disaster dalam sejarah Jepang (foodsafety.com)Masih ingat dengan kasus Minamata, Telok Tokyo? Ya, itulah contoh heboh dunia akibat pencemaran merkuri pada ikan-ikan di teluk tersebut yang akhirnya menyebabkan ataksia penduduk di segala belahan dunia. Kasus lain yang sempat membuat was-was para orang tua adalah ditemukannya kandungan timerosal (senyawa merkuri yang digunakan sebagai pengawet pada beberapa produk obat, biasanya untuk bahan tambahan pada vaksin) pada anak-anak yang divaksinasi, yang ditengarai beresiko mengakibatkan autis. Sampai saat ini kasus ini masih diperdebatkan. Kosmetik pun tak mau ketinggalan. Banyak kosmetik yang akhirnya ditarik dari peredaran karena mengandung merkuri. Oleh karena itu para wanita berhati-hatilah dalam memilih kosmetik, terutama kosmetik yang mengklaim ‘dirinya’ dapat memutihkan wajah, kulit, selangkangan, dsb. Teliti sebelum membeli 🙂 Kasus lain yang mungkin tidak sempat tersentuh adalah penarikan obat merah. Obat merah ditarik peredarannya karena mengandung merkuri sebagai senyawa peng-antiseptik dalam obat tersebut. Wew, betapa merkuri sangat berbahaya tetapi dia sangat dekat dengan kita. Be aware, people! 🙂