Suka Duka Mendaftarkan Anak di Day Care Negeri Orang

Lazimnya untuk bisa terdaftar di day care milik pemerintah di kota Leoben, Austria, harus melalui pendaftaran yang dibuka kurang lebih 6 bulan sebelum semester baru dimulai. Ya, layaknya TK, dan juga bertempat di TK, day care milik pemerintah juga menganut sistem semester. Jam bukanya hanya dari hari Senin sampai Jumat, pukul 07.00 sampai 15.00 (klik di sini untuk membaca cerita tentang day care nya lebih detail). Semester baru dimulai pada tanggal tertentu seperti halnya TK dan memiliki libur musim panas selama kurang lebih 2 bulan juga libur natal-tahun baru. Akan tetapi, pada libur musim panas anak-anak bisa ikut kelas musim panas dengan membayar ekstra yang besarnya sama seperti bulan reguler, dengan kuota peserta yang lebih sedikit.

Pendaftaran hanya dibuka selama 1 hari. Wow. Pada saat pendaftaran, salah satu orang tua hanya perlu datang ke TK bersama anak membawa kartu sakti asuransi, akta lahir, dan surat keterangan tempat tinggal dari balai kota (di sini bernama Meldedaten). Orang tua akan diminta untuk mengisi formulir. Pada saat formulir dikumpulkan kembali, orang tua akan menerima formulir lain yang bisa digunakan untuk mengajukan tunjangan uang makan ke balai kota jika anak sudah diterima. Jika diterima, sekitar 4 bulan sebelum semester baru dimulai, orang tua akan mendapatkan 2 buah surat dari balai kota. Surat pertama ditujukan kepada ibunya, berupa ucapan selamat karena anak Anda sudah mendapat tempat di day care X, masuk per tanggal sekian. Surat ke-2 untuk ayahnya berupa tagihan uang bulanannya. Hahaha.. gokil yah..

Beserta surat tagihan itu, terlampir blanko transfer uang bulanan yang sudah diisi (ada beberapa blanko dengan nama bulan berbeda-beda). Jadi ayah tinggal membawa blanko transfer tersebut ke mesin transfer bersama kartu atm, maksimal tanggal sekian setiap bulannya. Tidak ada tagihan lain selain uang bulanan. Tidak ada uang pangkal, uang pembangunan, apalagi seragam. Cukup uang bulanan, sebesar €261, saja. *sambil gigit jari* 😂😂

Karena kuota di day care tidak banyak, yaitu hanya 12 tempat untuk full day dan 12 tempat untuk half day, untuk setiap day care (fyi, tidak semua TK milik pemerintah memiliki program day care full day), maka bisa jadi ada antrian. Termasuk anak saya, karena saya kudet alias kurang update terhadap info pendaftaran TK, maka saya datang ke TK bukan pada saat pendaftaran. Wkkw. Alhasil tidak dapat tempatlah.

TK pertama yang saya datangi adalah TK yang paling dekat dengan tempat tinggal tentunya. Saat itu saya ditemani oleh teman berkebangsaan Austria keturunan Turki. Dia tentu bisa berbahasa Jerman dengan fasih. Ternyata day care di situ sudah full. Petugas TK menyarankan saya datang lagi bulan depan karena pendaftaran untuk semester depan di buka pada bulan depan, atau bisa menghubungi ke bagian urusan kindergarten di balai kota untuk tau di mana day care milik pemerintah yang masih memiliki tempat kosong untuk semester yang sudah berjalan ini.

Saya pun mengikuti saran yang kedua. Masih ditemani oleh teman Austria saya itu, bertanya ke balai kota. Kami mendapatkan informasi yang diperlukan. Ada 2 day care yang masih memiliki tempat kosong di semester yang sedang berjalan waktu itu. Lokasi kedua-duanya perlu ditempuh kurang lebih 20 menit dengan bus. Petugas berkata, padanya saya bisa melakukan pendaftaran di salah satu TK tersebut. Ah baiklah, saya harus survey dan diskusi dulu sama suami, pikir saya waktu itu. Dua hari kemudian, setelah survey dan diskusi dengan suami, kami memutuskan memilih TK yang kebetulan, anak dari teman saya yang lain juga ada di sana. Selain lebih tenang karena ada kenalan, juga karena lokasinya di lingkungan yang lebih ramah anak. Pilihan TK yang lainnya berlokasi di daerah industri. Mengingatkan saya akan kerasnya hidup di kawasan industri X di Indonesia. Hehehe..

Sayapun datang kembali ke balai kota, menemui petugas urusan kindergarten. Kali ini saya hanya berdua dengan anak saya, tanpa teman yang jago berbahasa Jerman. Bermodalkan hafalan dari google translate, hehe, saya utarakan maksud untuk mendaftarkan anak ke day care. Betapa herannya saya, ketika itu petugas yang sama, berkata saya harus mendaftar langsung di TK. Saya harus membuat janji dengan penanggung jawab (PJ) di TK via telepon. Dia menuliskan nama PJ tersebut dan nomor teleponnya. Oke, baiklah.

Membuat janji dengan ybs via telepon ternyata tidak sesingkat yang saya bayangkan. Saya harus menelepon berkali-kali sampai akhirnya telepon diangkat. Setelah diangkat, orang yang menerima telepon di seberang sana ternyata bukan ybs. Ketika akhirnya bisa berbicara dengan ybs, ternyata beliau sedang sibuk dan meminta saya menelepon kembali pada pukul 15.00. Weleh.. ini mau bikin janji via telepon saja harus janjian terlebih dahulu, batin saya.

Betapa senang dan geernya saya ketika ibu PJ TK yang ternyata adalah ibu kepala sekolah, mempersilakan saya untuk datang ke TK mengurus pendaftaran anak saya di day care. Setiba saya di day care, ibu PJ TK sedang kontrol ke dokter karena sakit. Saya diminta menunggu. Sejak saat itu akhirnya saya paham, betapa SDM yang mengelola TK jumlahnya sangat terbatas. Tidak ada sekretaris khusus bagian pendaftaran ataupun administrasi. Tidak ada yang terlihat bekerja duduk-duduk di depan komputer di kantornya. Semuanya selalu sibuk pada jam kerja.

Saya menunggu sambil mengobrol santai dengan pädagogin dan para pengasuh di day care yang kebetulan sudah di luar jam kerja. Mereka semua ramah dan akrab. Mereka bilang MASIH ADA BANGET tempat kosong di day care. Teman saya yang anaknya di sana pun, sengaja kepo untuk saya, dia bilang sepertinya ada 2 tempat kosong (berdasarkan loker anak yang masih kosong tak bernama, tak bertuan).

Ketika akhirnya ibu kepala sekolah datang, beliau menyambut baik dan ramah serta akrab dengan anak saya. Saya mengisi formulir, menyerahkan persyaratan sambil tersipu-sipu, berpikir kami beruntung sekali mendaftar ketika semester baru sudah dimulai, ternyata masih mendapatkan tempat. Lalu kemudian ibu kepala sekolah bilang “.. tapi maaf Aqila belum bisa masuk sekarang karena sudah penuh.” Jeger.. rasanya seperti disambar petir di wajah. Hahaha… mulai.. lebay..

Kecewa? Iyaaa. Ga percaya? Iya juga lah… berkali-kali saya memastikan apa betul sudah penuh? (Karena petugas balai kota urusan kindergarten, pädagogin dan pengasuh, semua bilang masih ada tempat). Jawabannya tetap sama, full. Unpredictable dan unbelievable. Beliau menerima formulir tersebut sambil bilang beliau tidak dapat memastikan kapan anak saya akan mendapatkan tempat. Semester depan sekalipun. Jika beruntung, maka balai kota akan mengirimkan surat kepada kami memberitahukan jika akhirnya anak saya mendapatkan tempat. Silakan ditunggu saja…

Sore itu pukul 6, masih di musim dingin, sudah sangat gelap. Melangkahkan kaki keluar dari TK dengan perasaan kecewa dan bertanya-tanya, sampai tidak menyadari ternyata saya meninggalkan dompet saya di ruangan ibu kepala sekolah. Dan baru menyadari setelah sampai di rumah, suami saya dihubungi oleh TK (yang lagi-lagi saya geer mengira si ibu salah ngomong) eh ternyata mengabarkan kalau dompet saya tertinggal. Haha what a day.

Besoknya, saya coba datangi TK pilihan terakhir di daerah industri itu. Batin saya, ah kalau anak saya jadi di day care ini, lagi-lagi saya termakan omongan sendiri 2 kali (yang pertama pada saat masih kuliah, setelah kerja praktek di kawasan industri X saya membatin bahwa saya tidak mau kerja di daerah itu nantinya, nyatanya malah setelah lulus saya kerja di sana selama 3 tahun. Lalu sekarang, ketika saya tidak ingin anak saya berada di day care di daerah industri ini.. saya malah seperti tidak punya pilihan lain. Ckck..).
By the way, ketika hari sebelumnya saya survey ke sana, saya sempat bertemu kepala sekolahnya dan bertanya masih adakah tempat kosong di sana, dan dibilang masih. Surprisingly, ketika saya datang di hari itu, beliau, kepala sekolah, orang yang sama, berkata ini sudah full. Lalu saya hanya bisa bernyanyi miris. Begini naasib..

Hari-hari berikutnya saya pasrahkan urusan day care pada Allah dan introspeksi diri. Ya, betul, saya memang butuh tempat di day care untuk anak saya segera. Karena lusa adalah hari pertama semester baru kursus bahasa Jerman reguler dimulai. Sebelum mendaftarkan diri di tempat kursus, tentu saya harus memastikan anak mendapatkan tempat di day care yang menurut saya baik. Tapi, bagaimana urgensinya si kursus Jerman ini..?? Perdebatan diri sendiri di kepala akhirnya sepakat pada kesimpulan bahwa.. belajar bahasa lokal penting, tetapi tidak urgent. Maka seharusnya saya hanya perlu selow dan tidak perlu baper ketika anak saya tidak dapat tempat di day care saat itu. Mungkin next semester, atau semester depannya lagi, atau memang menurut Yang Maha Kuasa ada yang lebih baik untuk dilakukan bersama anak setiap waktu, hmm manusia mana ada yang tau rencana Tuhan. Tugas manusia hanya berusaha. Dan saya sudah berusaha maksimal yang saya bisa untuk bisa belajar bahasa lokal intensif pada expert nya dan untuk mendapatkan tempat yang menurut saya baik untuk anak selama saya harus kursus intensif. Ternyata dari usaha yang sudah saya lakukan, warna-warni pelayanan baik, ramah, juga dingin, ketus dan jutek, saya dapatkan, ternyata hasilnya adalah, pernyataan yang mengejutkan dari para petugas pendaftaran, baik di balai kota maupun sang kepala sekolah. Mungkin terlalu fokus akan jurus-jurus dalam menggapai misi saya untuk make things happen, sampai-sampai saya lupa bahwa sejak awal seharusnya saya sudah ikhlas dengan apapun hasilnya nanti.

Hari-hari berikutnya saya belajar legowo. Akhirnya saya bisa ikhlas sampai benar-benar ikhlas. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Rejeki anak dan saya, saya pikir. Kami jadi bisa terus-terusan bersama di saat banyak ibu-ibu lain yang mendambakan quality time seperti ini.

Tiba-tiba beberapa pekan kemudian, suami saya mendapatkan telepon. Telepon itu ternyata dari TK yang anak teman saya juga di sana, mengabarkan bahwa per 1 April ada tempat di day care untuk anak saya. Kaget bercampur senang. Di sinilah lagi-lagi saya belajar ilmu ikhlas. Ketika saya ikhlas untuk tidak mendapatkan sesuatu yang diidamkan dan sudah saya usahakan maksimal, justru disitulah saya dapat meraihnya.

Pada waktu itu, saya sudah terlalu terlambat untuk bisa terdaftar di kursus intensif bahasa Jerman. Tapi ya sudah tidak apa-apa toh saya masih punya buku pinjaman dari teman Indonesia yang tinggal di sini juga. Setidaknya saya bisa belajar sendiri ketika anak di day care dan mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak terkerjakan dengan baik selama ini. Maka kami tetap menerima tawaran tempat di day care itu.

Tidak disangka, ternyata sebulanan kemudian (saat anak saya sudah bisa dilepas di day care) istri dari kolega suami saya yang menjadi pengajar kelas kursus Jerman gratis khusus untuk pengungsi Timur Tengah mengundang saya untuk bergabung menjadi peserta. Dulu saya tidak berhasil dapat tempat di kursus yang berbayar, sekarang ternyata malah datang tawaran tempat di kursus yang gratisan. Ya Allah nikmat Mu mana lagi yang hendak hamba Mu ini dustakan.. Alhamdulillah…

Kejadian ini mengingatkan saya sekali lagi untuk selalu mengiring ikhlas bersama usaha dan doa yang maksimal. Ya, ikhlas, bersama usaha dan doa yang maksimal. :):)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s