Kepiting vs Kelapa (sebuah filosofi sederhana)

Pernah dengar kompetensi monyet/ kera dalam memanjat pohon kelapa, memetiknya satu-persatu, dari pohon kelapa yang satu ke pohon kelapa yang lain? Rahasia umum… ternyata si monyet tidak hanya jago mendorong gerobak, memakai topeng, lalu pergi ke pasar saja (topeng monyet-red), tetapi juga membantu si majikan memetik buah kelapa dari pohonnya, dalam rangka panen atau disewa oleh juragan kelapa. Tidak hanya tarzan, monyet memang pandai memanjat, melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, semua orang sudah tahu.

Kalau kepiting, pernah dengar ada kepiting pemanjat pohon kelapa? Memetik kelapa satu-persatu. Hal yang membedakannya dengan monyet adalah bentuknya (ya iyalah..), eh bukan.. yang beda adalah kepiting ini (kepiting egois), dia naik lalu turun lagi ke bawah mengupas kulit kelapa yang jatuh dan memakan isinya. Di Maluku, kepiting seperti ini banyak berkembang, namanya ketam kelapa (ketam=kepiting). Dilihat dari bentuknya sih sama sekali tidak mirip kepiting, tetapi kumbang. Tah papa kenapa disebut kepiting..

Alih-alih memikirkan kenapa si kumbang disebut kepiting, saya lebih tertarik dengan filosofi di balik itu semua. Kepiting, layaknya kepiting pada umumnya, seberapa besar sih ukurannya (kecuali kepiting raksasa, kepiting paling besar rasa-rasanya hanya sebesar telapak tangan orang dewasa). Bandingkan ukurannya dengan pohon kelapa… mungkin bagaikan saya dengan menara Pisa. Bedanya, naik ke puncak menara Pisa bisa dengan tangga, tapi kalau naik ke pucuk kelapa? Tidak ada tangganya…

Nah.. dari sini saya terpikir sebuah filosofi sederhana. Judulnya “Filosofi Kepiting vs Kelapa”. Si kepiting, untuk bisa menikmati isi kelapa makanannya harus memanjat tingginya pohon kelapa, lalu jika kelapanya jatuh dia harus turun lagi sebelum dapat menikmatinya (capek juga ya). Demi isinya.. demi makanannya.. supaya bisa bertahan hidup…

Analoginya, dalam beberapa hal, untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, memang kita harus bersusah-susah dahulu, segalanya dimulai dari bawah itu pasti. Meskipun ketika sudah sampai di puncak, belum tentu sesuatu yang kita kejar itu sesuai seperti yang kita harapkan, maka ikhlaskan.. Guys, summit itu hadiah..

Kalau kepiting bisa, kenapa kita tidak, manusia yang jelas dianugerahi derajat yang lebih tinggi. Malulah sama kepiting… ;p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s